Indramayu dalam Zaman Nippon

Awal Kedatangan Pasukan Nippon Di Indramayu


Detasemen Syoji--Pasukan Jepang mendarat di Eretan. Pada saat itu satu detasemen berkekuatan 5.000 prajurit yang khusus ditugasi untuk merebut Kota Bandung. Satu batalyon bergerak ke arah selatan melalui Anjatan, satu batalyon ke arah barat melalui Pamanukan, dan sebagian pasukan melalui Sungai Cipunagara.

Batalion Wakamatsu dapat merebut lapangan terbang Kalijati tanpa perlawanan berarti dari Angkatan Udara Inggris yang menjaga lapangan terbang itu.

Pendaratan itu terjadi pada hari Sabtu malam pada tanggal 1 Maret 1942.

Politik Beras dibawah Kekuasaan Nippon

Ketika Jepang menduduki Jawa dalam perang Dunia II, salah satu tujuannya adalah memperoleh sumber-sumber pangan yang memungkinkan mereka meneruskan operasi militer selanjutnya, serta memelihara daerah-daerah yang telah dikuasainya di Asia Tenggara.

Jawa yang masyarakatnya merupakan masyarakat penghasil beras, yang setiap tahunnya menghasilkan 8,5 juta ton beras, penting sekali sebagai penyuplai kebutuhan militer.Bagi orang Jawa, beras merupakan makanan pokok, dan mereka sering mengatakan “Kalau belum makan nasi, berarti belum makan.”

Mereka lebih menyukai beras dari pada padi-padian jenis lain, dan selama mereka masih mampu, mereka lebih suka mengisi perutnya dengan nasi saja.Tentara Jepang masuk ke Jawa pada bulan Maret 1942, ketika panen musim hujan hampir mulai.

Pada mulanya, orang Jepang sedemikian sibuknya dalam usaha dalam memulihkan keamanan dan ketentraman sehingga tidak ada kesempatan untuk mulai dengan politik beras mereka. Mereka hanya meneruskan politik Belanda yang memperolehkan pemasaran bebas dengan memberlakukan pengawasan harga.


Para petani masih dapat menyalurkan hasil mereka dan orang Jepang membeli beras yang dibutuhkan melaui Rijist Verkoop Central yang ada. Baru pada bulan Agustus 1942, lima bulan setelah melakukan penyerbuan,Gunseikanbu mulai mengambil langkah pertama melakukan pungutan bahan pangan secara sistematis. Antara bulan Agustus 1942 sampai April 1943, dasar-dasar politik beras Jepang tersebut sudah mantap, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
  • Padi berada dibawah pengawasan negara, dan hanya pemerintah yang diinjinkan melakukan seluruh proses pungutan dan penyaluran padi. Untuk tujuan itudidirikan sebuah badan pengelola pangan yang dinamakan Shokuryo Kanri Zimusyo(SKZ, Kantor pengelolaan Pangan) 
  • Para petani harus menjual hasil produksi mereka kepada pemerintah sebanyak kuota yang ditentukan dengan harga yang ditetapkan. Padi harus diserahkan kepenggilingan yang ditunjuk melalui pemerintahan desa. Jika petani ini mempunyai surplus yang dapat dijual, mereka harus menjualnya kepada penggilingan tersebut, serta tidak diijinkan menjual kepada tengkulak. 
  • Harga gabah dan beras ditetapkan oleh pemerintah. 
Pungutan Padi di Indramayu

Pungutan padi Indramayu dan akibat-akibatnya pada masyarakat pedesaan, dengan alasan sebagai berikut. 
  1. Indramayu merupakan salah satu daerah penanaman padi yang paling penting, dan disebut gudang beras Jawa. 
  2. Indramayu merupakan satu-satunya ken di Jawa yang dimasa pendudukan Jepang telah terjadi pemberontakan petani besar-besaran menentang penyerahan padi. 
  3. Pungutan padi dari petani dilakukan oleh badan-badan pemerintahan atau semi- pemerintahan, dan dengan demikian mekanisme tradisional melalui tengkulak, seluruhnya dipatahkan. 
  4. Proses sesungguhnya dari pungutan padi ini adalah sebagai berikut; sebelum panen, para petani harus melaporkan kepada balai desa, sehingga kucho dapat mengirim orang untuk mengawasi pelaksanaan panen disawah.
  5. Penyerahan padi luar biasa besarnya ini telah menekan kehidupan ekonomi petani secara serius. Mudah diduga bahwa rakyat yang selama zaman Belanda hanya makan 60% saja dari apa yang dibutuhkan, terpaksa harus lebih banyak lagi mengurangi konsumsi mereka,dan menderita kelaparan.pun meluas. 

Aiko Kurasawa - Shiraishi /Pemberontakan Petani

Sedikit sekali yang diketahui mengenai pemberontakan petani di Indramayu yang terjadi pada tahun 1944 di bawah kekuasaan Jepang. Pemberontakan itu di mulai di Desa Kaplongan, Karangampel Son, di ujung timur Indramayu. Sesudah ledakan hebat didaerah ini, pemberontakan meluas di Losarang Son, Silyeg Son, dan Kertasemaya Son dan kemudian menjadi reaksi berantai, meluas ke petani-petani di daerah perbatasan Sindang dan Lohbener Son.

Dan akhirnya mencapai ujung barat Indramayu, yaitu Desa bugis di Anjatan Son. Semua ini terjadi antara bulan April sampai Agustus 1944, selama musim panen raya. Ini merupakan pemberontakan petani yang terbesar di Indramayu, sejak serangkaian pemberontakan anti pamong praja dan anti Cina pada tahun 1913 dibawah kepemimpinan Serikat Islam.



Pasukan Dermayon 

Pemberontakan di Kaplongan. Desa Kaplongan yang terletak kira-kira 30 km sebelah utara Cirebon dan 25 km sebelah selatan Indramayu. Pada suatu hari ditahun 1944, ketika panen barusaja di mulai, para petani Desa Kaplongan diberitahu oleh para pejabat desa bahwa telah dikeluarkan peraturan baru yang menyerukan petani harus menyerahkan semua padi mereka, kecuali dua gedeng per rumah tanggga. Satu gedeng kira-kira5 kg. Dengan adanya peraturan baru ini, para petani tidak diperbolehkanmenyimpan lebih dari 10kg padi. 

Pemberontakan di Sindang dan Lohbener. Kira-kira sebulan sesudah peristiwa Kaplongan, pemberontakan petani gelombang kedua mulai bangkit di daerah perbatasan antara Sindang dan Lohbener Son. Oleh penduduk setempat, peristiwa ini sering disebut sebagai pemberontakan Cidempet, karena diprakarsai oleh para petani Desa Cidempet, Lohbener Son. 

Sebenarnya pemberontakan ini melibatkan 2 perkampungan diperbatasan kedua Son itu. Daerah ini terletak kira-kira 15 km sebelah barat daya kota Indramayu, dan merupakan daerah pertanian miskin, karena kekurangan air tawar. Air tanah mengandung garam karena dekat dengan laut, dan kekurangan air ini mengakibatkan penduduk bahkan tidak mempunyai cukup air untuk minum pada musim kering. 

Pemberontakan di Desa Bugis. Desa bugis, Anjatan Son, Kandanghaur Gun, terletak diperbatasan sebelah barat Indramayu, dibatasi oleh Sungai Cipunegara dari suatu tanah Partikelir, yang waktu itu bernama Pen T Land (tanah Pamanukan dan Ciasem). 

Pemberontakan ini di mulai dengan serangan terhadap rumah-rumah pamong desa. Rumah Ku-Cho Perwata mengalami rusak ringan, sedangkan rumah Lambang/Aza-Cho Tohir dan Daspin rusak berat. 

Dua orang ini bekerja sebagai staf Nogyo Kumiai, dan dianggap tidak berlaku adil dalam penyaluran minyak tanah. Namun, hampir semua informan mengatakan bahwa sebab dari pemberontakan para petani mencoba memboikot penyerahan padi karena bahan tekstil yang harus diberikan kepada petani oleh pemerintah sebagai hadiah perjualan padi, tidak sampai ke tangan mereka.

Sebagian besar mereka yang turut dalam pemberontakan ini bukanlah penduduk bugis, tapi orang luar. Sebagian disebut sebagai “sisa-sisa pemberontakan” Kaplongan dan Cidempet. 


Bugis - Bedol Desa Tanah Partikelir 

Bagian dari Pen T Land yang berbatasan dengan indramayu ken, merupakan hutan pada zaman Belanda, tapi orang Jepang mulai membukanya untuk penanaman padi secara besar-besaran, dan banyak pendatang baru yang tinggal disitu sebagai petani. 

Setelah mendengar pemberontakan itu dari kuncho, dan kantor Son segera mengambil tindakan, dan polisi militer dikirim ke tempat itu. Para petani menghadapi polisi yang berada diseberang kanal. Para prtani berada pada tepi selatan dan polisi pada tepi utara.

Pemberontakan petani di Indramayu pada tahun 1944, meluas dari tepi timur ke tepi barat ken itu, dan melibatkan banyak petani. Dengan memperhatikan pemberontakan ini, kita dapat mencacat beberapa tujuan utama pemberontakan ini. Sifat dasar adalah murni dan spontan. 

Tidak ada dukungan yang terorganisasikan. Sebab utama pemberontakan adalah kemarahan dan keberangan petani terhadap pungutan padi, terutama terhadap peraturan baru yang mengharuskan mereka menyerahkan semua milik pribadi, kecuali sejumlah kecil untuk konsumsi keluarga. 

Prakarsa pemberontakan pada umumnya berasal dari para petani kaya, yang berada diluar kepemimpinan desa. Perhatian harus ditujukan pula pada para pemimpin agama sebagai penengah dan utusan antara pemerintah dan rakyat dalam pemberontakan itu.
***
NB
Ken : Kabupaten
Gun : Kawedanan
Son : Kecamatan
Ku : Desa
Ku-Cho : Kuwu
Aza-Cho : Jurutulis/Sekretaris Desa

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

14 komentar:

  1. seharusnya kita malu dengan leluhur kitaaa majoe trs indhramayou
    don't say war!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah sepantasnya kita menghormati beliau-beliau

      Hapus
  2. kaplongan Tempate lahire Reang

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh ... wong parek bae.
      salam kenal sing wong tugu

      Hapus
  3. mas gk nyambung mas yang pemberontakan Lohbener

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini hanya catatanku selama pengumpulan literatur, baik dari sumber tradisional maupun catatan Belanda

      Hapus
  4. Mau tanya kalo petani desa larangan (kec lohbener) ikut andil ngga ya dlm pemberontakan lohbener.
    Karna saya asli dan tinggal di ds larangan,blok ceplik.
    Trims.

    BalasHapus
    Balasan
    1. secara garis besar wilayah pamayahan sampe celeng, dipusatkan di daerah sekitar cidempet sampe bangkir. Saya meyakini pemuda yang berani tekad pati pasti ikut andil dalam pemberontakan kepada tuan nippon.

      makanya di bangkir ada TUGU peringatan pembelaan memberontak mereka.

      Hapus
  5. sepenggal sejarah peteng yang harus di ungkap. maju terus kang mas Pangki. tapi kok aku ndak bisa folow blog panjenengan ya....

    BalasHapus
  6. Salam kenal , saya dari indramayu , kec.Lemah mekar

    #Rudini

    BalasHapus


EmoticonEmoticon