Setan Oblong itu Apa?

Saya tidak sedang membicarakan bagaimana musik tarling itu lahir dari migrasi nada pentatonik menuju diatonik. Karena kalian bisa cari referensi etno musikologi yang lebih spesifik dari para ahli yang lebih ahli. Google misalnya! 

Saya hanya ingin melihat arti seni dari sisi lain suatu seni. Dalam hal ini, musik tarling khususnya. Ketika musik tarling yang selama ini saya dengar, lebih banyak didominasi oleh lirik konservatif lokalitas.

Beberapa hari ini telinga saya digelitik rasa penasaran dan takzim oleh sebuah karya tarling yang dilabeli "setan oblong". Di lagu itu, lirik yang ditulis oleh si pencipta Dawer Jeprat dan dibiduani oleh Munawir Sazali, menurut saya lebih nakal dan progresif, dengan tema kritik kegelisahan yang mewakili suara kaum akar rumput kebanyakan. 

Dari kritik kelakuan politikus menyebalkan, kebijakan pemimpin yang absurd, sampai keluh-kesah seniman, petani, hingga rapatnya masalah dan kebingungan masyarakat kecil dimasa pandemi ini, si pencipta berhasil memotret semua itu dengan apik. 

Tapi, bukan berarti karya tarling dari seniman lainya itu butut. Bukan itu! Karena tetap akan ada telinga lain yang tidak satu frekuensi dengan telinga lainnya, itu keniscayaan. 

Hanya jika kita melihat romantisme berkesenian pada era sebelum musik nasional dalam genggaman pasar, bagaimana musik itu berkelindan dengan suara-suara rakyat, dan ruang-ruang seni banyak dihuni oleh pegiat seni dengan semangat ideologis yang tinggi. 

Di situ, banyak sekali ditemukan formula-formula bunyi dan nada untuk diramu menjadi sebuah musik yang bahkan lebih tajam dari belati sekalipun. Yang menurut pandangan Wiji Thukul, bahwa seni harus membebaskan. 

Seni semestinya bisa membawa transformasi sosial. Seni seyogyanya menjadi bahasa kenyataan sosial yang perlu diperjuangkan. Hari ini, kita kehilangan itu! 

Dan "setan oblong", semoga menjadi pemantik di dunia tarling, bahwa musik tak hanya estetika, pun soal bagaimana ia berbicara realita.
***
Joyo Murjoyo, Dewan Seni Sanggar Kedung Penjalin.

Proses Kreatif - Video Cerita Budaya Desa Tugu Mapag Tamba


Ketika hadir dalam melekan (begadang berjamaah) seringkali teman-teman saya memahami peristiwa budaya dengan kacamata mistis. Saya juga nggak tahu kenapa? Apakah itu pendapat subjektif-nya, atau memang pengalaman spiritual begini menjadi common sense, spiritual komunal di Indramayu. 

Misalnya, lukisan Wiralodra. Saya pernah mengobrol dengan pelukisnya, memang basis datanya bukan dari litografi. Bukan, itu hasil dari men-tayuh lewat mimpi. Katanya meyakinkan.

Demikian pula dengan berokan dan mapag tamba. Berokan dianggap sebagai pengusir setan damyang merkayangan. Sedangkan mapag tamba diambil dari peristiwa sahabat Nabi Saw. Doa-doa melalui air suci. 

Interpretasi-interpretasi di atas kemudian tidak pernah muncul dalam tulisan-tulisan saya. Masyarakat harus di-kaya-kan dengan interpretasi lain. Hal itulah yang kemudian muncul dalam video feature adat mapag tamba yang kami buat.

Sebagai penulis naskah, sengaja pendekatan yang saya pilih adalah pendekatan antropologi visual. Tentu, banyak perdebatan. Bisa saja itu pikiran-pikiran subjektif saya dalam memandang adat mapag tamba.

Setidaknya di Indramayu ada empat adat yang berhubungan dengan budidaya tani. Selain mapag tamba, ada mapag sri, sedekah bumi dan ngarot. Interpretasi saya, adat-adat tersebut adalah hari besar tani.

Sudah lumrah dalam berbagai komunal, ada hari-hari yang ditetapkan sebagai hari besar. Hari tersebut bisa difungsikan untuk libur atau ritual sakral. Dalam setahun, petani-petani desa akan merayakannya dan bersuka-cita. Tak heran hiburan-hiburan semacam wayang kulit akan menjadi pelengkapnya.

Sebagai anak jaman, saya juga menangkap ritus tani di atas adalah upaya terakhir petani-petani agar budaya mereka tidak ditinggalkan. Ya, semacam simbol perlawanan atas industrialisasi yang terjadi. Juga, menurunnya minat anak-anak petani melanjutkan prosfesi orangtua mereka.

Video budaya desa mapag tamba yang diproduksi Kiradenan Community pertama tayang di Channel CM Production dan di muat kembali dalam video pilihan cerita budaya desa Kemendikbud 2020.
***

Menangkan 1,5 Juta - Lomba Logo Baru Lux Digital Printing

LUX Digital Printing (LDP) merupakan bisnis yang diinisiasi oleh mantan BMI—buruh migran Indonesia. Namanya Sujani, ia mantan BMI Korea Selatan. LDP bergerak dibidang percetakan digital. Semacam spanduk, baliho, kalender, striker dan berbagai produk merchandise lainnya. 

Setelah tahun lalu launching toko di Desa Bulak, Jatibarang menjelang penutup tahun berencana membuka cabang baru di Kota Indramayu. Mirip istri baru, rumah baru atau kendaraan baru, membuka cabang tentu butuh strategi baru, logo baru dan target-target baru.

LDP ingin memenangkan pertandingan bisnis percetakan yang mana bak jamur di musim hujan. Cara paling mudah adalah ya menciptakan ikon bisnis baru, logo yang bisa bersanding dengan usaha sejenisnya, bagaimana LDP tampak menonjol dan mencuri perhatian.

Untuk itu LDP mengundang desainer-desainer muda dan senior berpartisipasi pada lomba desain logo baru. Tapi, maaf beribu maaf lomba ini khusus untuk bocah Indramayu saja.

So, anak putu Wiralodra mangga kirimkan karya kalian dengan format PDF ke e-mail resmi LDP seperti yang tercantum di infografis di atas.

Soal kriteria lomba, harap pul warna dan monokrom. Ukuran 1x1 cm. Max 5mb dengan jenis file cdr. Juga, tolong cantumkan surat pernyataan otentik. Biar LDP tidak digugat ya bro.

Hadiah yang diberikan pada lomba ini yaitu berupa uang tunai 1 juta rupiah dan voucher 500k pembelanjaan produk di LDP. Pengumuman hadiah pemenang pada tanggal 10 Oktober 2020 di akun medsos dan fanspage resmi LDP.

Yuk ah, aja kesuwen!
***

Seniman Protes

seniman indramayu
Aksi seniman protes. Foto/Kaji Warna
Campur aduk rasanya di hati. Ketika saya menyimak demonstrasi seniman di kota mangga. Yang berlangsung Jumat (11/9). 

Saya mau mengutip pernyataan SBY soal seniman. Mereka adalah pengetuk hati politikus. Negara banyak berutang kepada seniman. 

Seniman itu orang kreatif, sering mengetuk hati pemangku kebijakan dengan caranya sendiri. Ada yang lewat lukisan, tarian, musik, tulisan maupun teater. 

Ketika mereka sampai turun ke jalan. Berarti ada masalah besar yang dihadapi untuk disuarakan. Satu sisi ada rasa salut, seniman kompak turun ke jalan. Konon ada 2000 orang yang ikut aksi itu. 

Sisi lainnya, ada rasa sedih. Patut disayangkan mereka mengacuhkan social distancing. Juga, ketika ada sebagian yang menyangsikan suara mereka itu. Dianggapnya ada yang menunggangi.

Indramayu memang sebentar lagi akan menggelar pesta demokrasi. Bagi lawan politik, aksi ini tak lebih hanya pesanan. 

Kemaren (11/9), beranda medsos saya berseliweran silih berganti, mengabarkan aksi tersebut. Tak hanya menjadi nomor satu di Indramayu. Juga menjadi salah satu hot news nasional. Media-media nasional merilis aksi protes itu. 

Tak lain tak bukan karena orasinya serius tapi santai. Ada sisipan-sisipan lucu, ekspresif dan sempal guyon yang menghibur peserta aksi. 

Tuntutan mereka cuma sati. Bupati mencabut perbub larangan pertunjukan hiburan. Sektor ekonomi terpukul sampai titik minus. Job manggung ditunda dan dibatalkan. 

Buntut larangan ini merembet kemana-mana. Petani ternak, komoditasnya gagal disembelih. Toko sembako, bahan baku mereka gagal jadi prasmanan. Jasa sewaan tenda, kursi, panggung, sound, tukang babah menganggur. 

Jasa foto,video dan streaming, peralatan mereka digudangkan. Pedagang asongan, kuliner dan souvenir, lapak dagangnya berkurang. 

Showbiz adalah sektor yang multiplier effect. Semua sektor ekonomi ikut terkoreksi. Aksi protes seniman kemaren merupakan aspirasi berbagai elemen masyarakat. 

Selamat untuk insan seni, tuntutan kalian dikabul. Dapur bakal ngebul, saweran pun brubul. Hidup seniman. Salam budaya! 
***

Tri Home - Paket Internet Bulanan Termurah

Sebagai blogger kebutuhan internet menjadi hal krusial. Setelah tahun 2019 bongkar tikar warnet, otomatis saya tidak punya fasilitas internet. 

Padahal untuk terus menghasilkan konten, kebutuhan akses internet buat saya sebuah keniscayaan. Saya sering gonta-ganti provider. Berikut vendor internet yang pernah saya pakai. Temen-temen bisa membaca ulasannya di artikel ini. 

Sekarang saya sedang menggunakan layanan dari 3. Saya katakan murah dalam artian harga per GB, bukan murah soal harga. 

Harga yang dibandrol oleh 3 sebenarnya tidak jauh beda dengan Indihome. Paket Tri Home 150 GB dan 117 GB. Harga per giga cukup murah, Rp. 1000.

Misalnya paket 150 GB, kuota utama 25 GB, kuota weekend 55 GB dan kuota harian 01.00-17.00 70GB. Meski ada pembagian waktu penggunaan, saya rasa cukup fair-lah. 

Hari-hari kerja, saya disibukkan dagang. Sedangkan di weekend, saya fokus bikin konten. Kuota besar saya gunakan untuk unggah video. 

Dibanding vendor lainnya, yang mana ada FUP. Saya pikir paket unlimited-nya pengibulan. Kecepatannya terjun bebas. Meski kecepatannya di bawah vendor lainnya. Saya cukup puas dengan speed connection yang didapat. 

Ditambah, yang saya syukuri selain sinyal lumayan bagus. Paket Tri Home bukan paket khusus pelanggan terpilih. Semua pelanggan berhak membeli paket ini.
*** 
Disclaimer :
Ulasan ini bukan advertorial, murni testimoni saya sebagai pelanggan.


Nasib Wong Mlarat ditentukan dalam Sehari

rutilahu
Rumah tidak layak huni. Foto/Anton
Nanti tanggal 5 Desember 2020, wong mlarat tidak selamanya diacuhkan. Mereka akan direbut simpatinya. Keberadaan mereka tidak selamanya dilupakan. 

Tak diacuhkan bagaimana? Suara mereka akan diperah secara politis. Di penghujung tahun ini calon-calon bupati akan merebut simpatinya. Mereka akan dimanja dan diperhatikan, untuk mendulang kemenangan pesta demokrasi lima tahunan itu. 

Masa sih? Berapa memang jumlah wong mlarat di Indramayu? Sampai cabup-cabup harus berebut perhatian mereka. Jumlahnya 13,67% dari 2.001.520 penduduk berdasarkan data BPS 2018. 

Kabupaten produsen beras terbesar nasional ini merupakan kantong kemiskinan di Jawa Barat. Dari data di atas setidaknya ada 260.000 jiwa orang miskin. Prosentase ini dibawah angka standar kemiskinan propinsi sebesar 8,71% atau nasional sebesar 10,64%. 

Pada masa-masa tersebut, para kandidat akan tebar pesona sana-sini. Calon bupati akan menjadi pengemis suara. Senyum mereka menawan, tegur-sapanya hangat. Antusiasmenya menyenangkan. 

Namun siapapun yang terpilih, halaaaaah bakalan lupa ingatan setelah kursi bopati diduduki. Begitulah teman saya si Dadap ikut menyela diskusi si Waru dan Si Semanggen. 

Bupati baru, dipastikan programnya tidak pro wong mlarat. Indramayu akan tetap jadi runner up kompetisi kabupaten/kota termiskin di Jawa Barat. Kecuali, ada gebrakan super dahsyat. 

Keramahan pada mereka akan segera ilang tanpa krana. Hanya menyisakan gremombyong jeprat-jepret bidikan kamera di status media sosial. 

Wong mlarat ini tidak akan bisa bersalaman atau mengadu ke bupati. Padahal, si mlarat yang belok, bodoh, mambu apek juga gemar merokok ini ikut bayar pajak untuk gaji sang bopati. 

Memang malang nasib wong mlarat. Kesetaraan mereka di hadapan negara hanya saat datang ke TPS. Nasibnya, jelas bukan nasib wong agung. Setelah pilbup, bopati baru belum tentu memikirkan kesulitan mereka. 
***

Obituari Yance - Politisi dan Pejuang Pendidikan Indramayu

kang yance
Diskusi Budaya Indramayu. Foto/MP. 2012

Mantan Bupati Indramayu Irianto MS Syafiuddin atau lebih dikenal dengan panggilan Yance meninggal dunia di usia 64 tahun pada Minggu, 16 Agustus 2020 karena serangan jantung. Seperti dilansir Radar Cirebon, Yance meninggal di RSUD Indramayu. 

Kabar meninggalnya Yance turut dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu Deden Bonni Koswara mengatakan Yance sempat menjalani perawatan di RSUD Indramayu karena sakit, sebelum mengembuskan nafas terakhir. 

Yance lahir pada 27 Oktober 1955, di Ambon, Maluku. Ia lulus dengan gelar di bidang Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ia menikah dengan Anna Sophanah, dari pernikahannya ia memiliki dua putri dan satu putra. 

Yance pernah menjabat sebagai Bupati Indramayu dari tahun 2000 sampai 2010. Setelahnya ia terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Barat 2014-2019. Dan didaulat sebagai Wakil Ketua DPRD Jawa Barat.  

Ia adalah politisi Partai Golkar dari Jawa Barat yang dikenal sebagai tokoh penting dalam masa transisi reformasi. Ketika ia menjabat sebagai bupati, Yance dianggap mampu menghadirkan pembangunan di kabupaten tertinggal. 

Sebagian masyarakat Indramayu menyebutnya sebagai bapak pembangunan. Ia berhasil menurunkan angka buta huruf, memajukan pendidikan agama, ketahanan pangan, pelayanan birokrasi, program KB, pengembangan masyarakat pesisir dan meningkatkan indeks IPM. 

Pada 28 April 2016, Mahkamah Agung (MA) menganulir putusan Pengadilan Tipikor Bandung dan mengadili sendiri dengan menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara kepada mantan bupati Indramayu tersebut. 
***

Pantai Legenda Tirtamaya

pantai tirtamaya jaman dulu
Pantai Tirtamaya jaman dulu. Foto/Istimewa

Jaman saya kecil, tempat rekreasi favorit adalah ke Pantai Tirtamaya. Saya ke sana naik mobil colt bak. Mobil barang itu disulap jadi mobil angkutan membawa keluarga dan tetangga. 

Sebelum berangkat, ibu sudah menyiapkan makanan dan tikar. Kesan paling mendalam antaranya saat naik mobil. Saya dan teman-teman bernyanyi sepanjang jalan. Berlomba dengan suara angin. 

Hati saya sangat senang. Kesan berikutnya adalah saat berenang dan mencari 'yingking'. Tak pelak tubuh saya diselimuti pasir. Dari ujung kaki sampai rambut. Pantai Tirtamaya banyak dikunjungi orang pada hari minggu. Lebih-lebih pada hari raya. 

Namun, kali ini saya malah sebaliknya. Pantai legenda ini jadi biasa-biasa saja. Saya lebih suka plesiran ke luar kota. Bandung atau Jakarta. Jogja atau Bali. 

Bahkan, beberapa tetangga saya yang kaya. Ia liburan ke luar negeri. Ada yang ke Arab. Ada yang Jepang atau Korea. Hongkong atau Taiwan. Malaysia atau Singapura. 

Saya jadi mikir, selera orang Indramayu sekarang boleh juga ya. Gengsinya maksud saya.
***

Ora Paham Aturan, Kok Nyalon Bupati

pilkada indramayu 2020

Ilustrasi by Esensinews.com

Tahun 2020 Indramayu menggelar pilihan bupati. Sudah memanas dan hari-hari pertarungan itu makin dekat. 

Selentingan kabar dari obrolan warung wedang, setidaknya ada tiga pasangan calon bertarung habis-habisan nantinya. Habis pikir, habis tenaga, juga habis dompet. Satu dari calon independen, sisanya dari koalisi partai. 

Beberapa balon-balon yang tebar pesona terkesan nekad. Belum apa-apa ngotot pajang pose cengengesan. Tak disadari itu melanggar aturan. Melanggar hukum seperti lagunya Siti Badriah itu. 

Beberapa tokoh saya anggap biasa dan patuh aturan. Sebagian lagi agak kelewatan. Malah, teman saya Si Dadap berkomentar nyindir "tokoh ora paham aturan, kok nyalon bupati".

Siapa dia? Coba amati baliho-baliho yang dipasang. Dari tahun kemaren baliho ukuran mini banyak bertebaran. 

Foto ke-geer-an lengkap dengan jargon kampanye, diikat di tiang telepon, di tiang listrik, bahkan banyak yang dipaku di pepohonan.

Kesalahan balon-balon ini cukup fatal. Dia mengangkat dirinya menjadi Calon Bupati Indramayu 2020-2025. Saya setuju dengan pandangan Si Dadap, orang buta aturan kok mau jadi bupati.

Tidak perlu buka undang-undang, ataupun aturan di bawahnya, yang berhak menetapkan seseorang itu menjadi calon bupati, adalah KPUD. Tidak ada institusi lain di luar itu.

Saran saya kepada masyarakat Indramayu, orang yang tidak paham aturan macam begitu nggak usah digubris. Belum jadi bupati saja sudah menyalahi aturan. Kalau jadi? Tentu saja Indramayu akan konyol.

Sayang sekali, banyak tim sukses yang tidak tahu bagaimana membuat iklan politik yang taat aturan dan bisa menarik perhatian publik.

Tolong tarik saja baliho mini yang gumede itu. Sudah salah, menyatakan diri sebagai calon bupati, ditambah penempatan iklannya merusak estetika publik.

Selama masih berkeinginan menjadi bupati, tirulah cara kampanye elegan, tidak vulgar, tidak menyalahi aturan. Seperti yang dilakukan pesaing kalian itu.
***

[Cermis] Maryati - Setan Perayu

kreteg tanjan
Kreteg Tanjan. Foto/MP
Mata lelaki. Demikianlah argumennya. Meskipun istri cantik dan seksi di rumah, tetap saja mata melirik melihat perempuan bahenol di jalan. 

Persoalannya, tinggal rem itu blong atau pakem. Misal rem blong, jelas akan tabrak-tubruk. Apalagi si bahenol kasih sein tanda setuju. Motor pun diparkir demi menuruti darah berdesir. 

Beda yang rem pakem. Bisa mengendalikan diri, dituntun oleh iman dan kesalehan. 

Demikian pula dengan Oji. Ia termasuk lelaki yang rem blong. Bahkan, menganggap perempuan bahenol adalah suplemen vitamin. Seringkali cari perhatian dan tebar pesona sana-sini. 

Apalagi yang digodanya menjawab lewat ketipan mata setuju. Sudah pasti akan terjadi perilaku nyeleweng. 

Ia pun tanpa malu mengakui. Dirinya termasuk kelompok rem blong. Dengan bangga, katanya sudah banyak perempuan yang kena goda. 

Dasarnya suka sama suka, butuh sama butuh. Cuma sesaat, tidak sampai berlama-lama. "Aku itu ayam jago, di mana ada ayam babon kokokpetok ya aku tindihi". Pengakuan Si Oji.  

Namun, semuanya berubah setelah peristiwa yang terjadi pada malam Jum'at itu. 

Malam itu Oji perlu mengambil uang di ATM, besok subuh ia harus berangkat ke Cirebon. Mengurus klaim BPJS. 

Motor yang dikendarai nggak langsung pulang sehabis nongkrong. Puter arah langsung ke desa sebelah. 

Nggak lama, hujan turun. Gerimis tipis menemani perjalanan Oji. Dingin mulai masuk ke sumsum kulitnya. Ah nanggung. Pikir Oji. 

Melewati Jembatan Tanjan, Oji melihat seorang perempuan sedang duduk di buk jembatan. Payung putih menaungi tubuh berpakaian merah. 

Sempat Oji melirik. Sekilas tubuhnya bahenol, warna merahnya membuat hati berdesir. 

Kelihatan seperti menunggu jemputan. Dalam hati Oji sebenarnya ingin menawarkan tumpangan. Namun, ia juga kurang pede. Di kantong nggak ada duit sepeserpun. 

"Biarin lah, kalau nanti masih ada, itu rejekiku", otaknya mulai bermesum ria. 
"Barangkali rumahnya jauh, habis kehujanan nanti bisa minta dihangatin", selorohnya penuh keyakinan. 

Setelah ambil duit di ATM, ia pun bergegas menuju Jembatan Tanjan. Laju motor disetel balap melawan gerimis hujan di jalan yang sepi. 

Betapa senangnya saat ia melihat perempuan berpayung putih masih ada. Sedang berdiri. Gas pun di-langzam saat laju motor mulai mendekat. 

"Nunggu jemputan tah, yu?", tanya Oji memulai obrolan. 
"Iya, mas. Nggak datang-datang nih, padahal mamang janji jemput" 
"Oh, mau nunggu mamang. Emang lakinya kemana, kok yang jemput paman?" 
"Hihi, ih nanyanya gitu. Janda mas, maklum.", jawab perempuan itu sambil sesekali membungkuk, menabok nyamuk yang menggigit betisnya. 

Oji pun melirik betis yang mulus itu. Rok yang dipake hanya menutupi dengkul. Saat menabok nyamuk. Rok itu ketarik ke atas. 

Tak pelak Oji jadi menelan ludah. Sayang sekali kalau betis semulus itu gagal dibelainya. Pikir Oji mulai berfantasi. 

"Rumahnya di mana, yu? Kalau yayu berkenan aku siap mengantar", tawar Oji memulai jurus rayuan. 
"Beneran, mas. Rumahku lumayan jauh. Karangampel. Lagi gerimis pula" 
"Buat yayu yang cantik. Aku nggak ada kata keberatan. Bila perlu nganter ke leng belut yang licin juga mau, hehe" 
"Ah, mas. Aja ngrayu. Kalau diajak ke lubang belut asli. Basah loh. hihi", balas perempuan berpayung putih sambil lemparin senyum dan lirikan nakal. 
"Nggak, yu. Aku becanda. Karangampel kan masih dekat. Belum Cirebon" 

Perempuan itu mendekat. Saat sudah di belakang Oji. Payung pun dikatupkan. 

"Kok, payungnya ditutup?" 
"Rapapa, bareng-bareng kehujanan. Di rumah bisa langsung mandi. Mas bisa pakai kaos oblongku", sambil mencubit paha Oji. 
"Aw, sakit. Ih yayu mah" 

Mereka pun ketawa bareng. Basa-basi kaku di awal tadi kini sudah mencair. Sungguh malam yang indah, pikir Oji. 

Oji lantas menanyakan nama perempuan itu. Namanya Maryati. Begitulah jawabnya manja. Berbisik ke telinga Oji. Hangat napasnya. Harum bau tubuhnya menembus hidung. 

"Ah yang bener?" 
"Asli mas, nanti aku tunjukin KTP elektrik" 
"Lupain, nok" 
"Tadi mas bilang apa, ulangi lagi mas. Indah didengar oleh telingaku mas" 
"Lupain, nooook" 
"Aku kok, seperti muda lagi dipanggil dengan sebutan nok oleh mas" 

Oji makin berani mendengar jawaban Maryati. Tangannya turun membelai paha. Sementara itu motor mulai melaju kencang. 

Tanpa penolakan dari Maryati. Sesaat dua sejoli itu hening. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Yang jelas Oji pikirannya sudah nggak keruan. 

"Bukannya enak punya suami, nok. Kok milih jadi janda?", tanya Oji memecah kebisuan. 
"Biasa mas, KDRT. Males. Mending janda, iya kan?" 
"Oh. Itu betul. Lelaki kasar nggak usah dipertahanin". 
"Bukan mas, maksud KDRT itu, kurang duit ribut terus. Hhahahha" 

Tawa mereka pecah dalam hujan yang semakin deras. Oji menggigil. Maryati mengetahui hal itu. Didekaplah tubuh Oji. 

Tubuh Oji terasa lebih hangat. Darahnya berdesir. Napsunya membuncah. Menahan birahi. Sampai-sampai ia tak tahan. Ingin rasanya segera berhenti. 

"Mas, itu pohon besar di depan pelan-pelan. Rumah aku di dekat situ", bisik Maryati pelan sambil tangannya mendekap lebih erat. 

Dekapan tangan itu terasa dingin. Tubuh Oji merinding. Untung rumah Maryati sudah dekat. Ia tadi ingin berhenti di toang sepi. Nggak bisa kebendung lagi hasratnya. 

Setelah masuk rumah. Lampu dinyalain. Maryati menggoda. "Aku mandi dulu ya, atau kita sama-sama". 

Lalu terjadilah pergumulan panas sejoli yang tadi didera dinginnya air hujan. Tak henti-henti. Sampai-sampai dengkul Oji terasa copot. 

Sebuah mobil mogok didorong dari arah Desa Gadingan. Dicobanya berulang kali. Mesin tak ada tanda mau hidup. 

Saat penumpang mobil mendorong. Mereka melihat keanehan di sebuah buk Jembatan Tanjan. Ada seorang pemuda telanjang. 

Tangannya menumpu waton buk. Matanya terpejam. Kakinya mengangkang. Pinggangnya maju-mundur. Tak henti-henti. 

Seorang penumpang menjerit dan lainnya terheran-heran. Orang yang melakukan hal aneh itu adalah Oji. 

Penumpang awalnya mengira itu orang gila. Namun, sopir langsung turun dari mobil dan menghampiri. Dicubitnya Oji keras-keras. 

Bangun. Ayo bangun. Hujan begini kok tidur telanjang. Ayo bangun. Dicubit nggak mempan, ditaboklah bokong yang bergoyang-goyang itu. 

Eh, bukannya bangun. Malah keasyikan meneruskan maju-mundur. Sopir pun mulai komat-kamit. Merapal mantra. Menyadarkan Oji yang sedang berada di alam lain. 

Segera Oji tersadar. Matanya terbuka. Tubuhnya lemas. Jatuh terduduk di aspal. Badan terasa remuk. 

Ia heran bukan kepalang. Dikelilingi orang-orang. Apa yang terjadi? Ia mulai menerka-nerka. Sadar tubuhnya tanpa busana. Segera ia ambil celana dan baju di stang motor. 

Seorang penumpang menyodorkan air mineral. Oji langsung meneguknya. Dengan terbata-bata ia menjelaskan apa yang telah dialaminya. Sejak perjumpaan dengan perempuan berpayung putih. 

Selesai menceritakan. Oji undur pamit. Dan tak lupa berterimakasih. Sementara itu sopir mencoba menyalakan mobil. Anehnya mesin langsung nyala. 

Semua penumpang naik. Pergi meninggalkan Jembatan Tanjan yang misterius itu. 
***