[Adsense] Pembayaran Otomatis Tertunda Rekening Bank

Pembayaran otomatis tertunda adsense
Hari ini tanggal 22 April 2021 saya mengecek e-mail dari adsense. Untuk memastikan apakah dana penghasilan GA sudah dikirim ke rekening.

Biasanya, setiap tanggal 21 per bulan selalu ada e-mail pemberitahuan tentang dana yang sudah ditransfer. Namun, bulan sekarang sudah tanggal 22 belum ada pemberitahuan.

Setelah saya cek akun adsense. Ada pemberitahuan pembayaran otomatis tertunda rekening bank, bla bla bla.

Sebenarnya, bukan yang pertama kali sih. Sebelum-sebelumnya juga udah pernah. Cuman, biasanya itu terjadi pas akhir pekan. Transferan tertunda karena bank lagi libur.

Masalahnya kan, hari rabu sekarang bukan hari libur. Intinya sih gitu. Kan lumayan bertanya-tanya. Pake tanda tanya gede-gede. Haduuuuh.

Bersabar aja lah. GA berjanji sih, segera lapor bank, jika sudah lima hari pembayaran adsense belum masuk. Dan selama ini, GA belum pernah ingkar janji. Pembayarannya meleset.

Naik kopaja ke bekasi, cukup segitu aja dan terimakasih.
***

[Bedah Lirik] Lagu Aja Sengitan Dan Kejemuan Politik Desa

Disampaikan pada acara "Dwi Tanggap Warsa" Sanggar Kedung Penjalin, Rabu, 31 Maret 2021.

Disclaimer

Tulisan ini diracik untuk mengetahui pesan moral apa yang terkandung dalam lagu tarling "aja sengitan". Bedah lirik ini bukan kritik kepada pencipta atau penyanyi lagunya. Melainkan ruang temu antar-gagasan. Opini ini tentu subyektif dan tidak menutup kemungkinan adanya silang pendapat.

**

Musik lokal yang hidup dan berkembang dalam suatu komunitas merupakan memori kolektif. Maksudnya, ada gambaran umum dalam benak masyarakat yang diingat bareng oleh sekelompok orang sebagai identitas komunitas.


Demikian juga musik tarling, sudah dianggap sebagai musik daerah bagi Orang Cerbon dan Dermayu.


Sedangkan sisi lainnya, musik adalah bahasa universal. Orang tanpa tahu artinya, bisa saja ikut berjoget meski sekedar goyang-goyang kepala.


Yang lebih lucu, orang bisa ikut sedih, senang dan nangis terbawa alunan bunyi yang mendayu-dayu tersebut.


Menurut ahlinya ahli, bahasa bisa membuat manusia berkomunikasi dan berpikir. Sedangkan bahasa yang digunakan dalam lirik lagu merupakan sastra. Bukan bahasa biasa.


Kok bukan bahasa biasa? Jelasnya, sastra merupakan bentuk ekspresi ide gagasan pencipta atau pengarangnya yang bebas nilai. Mengandung sisi keindahan, gaya bahasa, puitis sekaligus "nandes". 


Mengapa Lagu Aja Sengitan

Selain karena diminta untuk membedah lirik lagu tersebut. Juga, ada pertimbangan pribadi. Setidaknya ada tiga alasan.


Pertama, lagu ini lagu politik. Dalam dunia per-tarling-an, jenis lagu politik jarang digarap seniman-seniman. Tercatat, bisa dihitung dengan jari. Tema lagu tarling hanya berputar, soal nasehat, pegat-balen, demenan, selingkuh, sesekali soal 4M (maen, mabok, madon, mbebodo).


Kedua, keunikan gaya bahasa dan diksi. Lagu ini memenuhi teori diksi ahli bahasa Gorys Keraf. Yakni, denotasi, konotasi, kata abstrak, kata konkret, kata umum, kata khusus, kata ilmiah, kata populer, jargon, kata slang, kata asing, dan kata serapan.


Terakhir, sekarang adalah tahun politik. Setidaknya ada 171 desa akan menyelenggarakan pesta demokrasi paling kuno di Indonesia. Pilwu merupakan produk demokrasi paling awal di Indonesia, jauh sebelum ada pilpres dan pilkada.


Momentum ini harus didorong agar para pemilih bisa mengambil pesan dan hikmah yang bisa diambil dari syair lagu tersebut.


Palah-pilih Kata

Kosakata Bahasa Indonesia, (gegabah), (tepat), (maju). Kosakata Basa Jawa Dermayu, (kuwu), (wawu), (meduluran), (sengitan), (pegot), (eman), (tukar), (tangga), (subur), dan (makmur), (lara), (nrima).


Aspek pemilihan kata dalam lirik lagu tersebut ada 15 kata yang berfungsi mengkonkretkan makna, rasa simpati dan penguatan latar tokoh.


Makna yang konkret, bisa ditemui dalam penggambaran yang jelas tentang peristiwa konflik gara-gara pilihan kuwu.


Sedangkan rasa simpati dan penguatan latar tokoh bisa ditemukan dalam syair "aduh...eman sampe pegot meduluran".

 

Estetis dan Ke-nandes-an

Efek estetis (keindahan) bahasa yang dipilih merupakan kemampuan yang ada dalam diri pencipta atau pengarang dalam menggali, menyajikan dan mengeksploitasi kata-kata.


Soal pemilihan kata-kata sebanyak 15 yang disebutkan di atas dengan sengaja dimunculkan dalam rangka ekspresi gagasan yang didengar, dilihat dan dirasakan pencipta atau pengarangnya.


Contohnya, penggunaan rima. Kuwu-wawu, subur-makmur, eman-meduluran, nrima-gegabah, sangka-lara.


Demi menjaga batas-batas moralitas yang dianut oleh pengarang/penciptanya dipilihlah kata-kata "sampe sengit-sengitan", "sampe pegot meduluran".


Nilai-nilai moral seperti itu menurut pengarang/pencipta lagu harus terus dipelihara dan dijaga. Tali silaturahmi dan jangan ada benci di-antara kita.


Racikan kata sengit-sengitan dan pegot meduluran sangat "nandes". Menjadikan fokus utama fenomena sosial yang mau diangkat.

 

Tembung Pungkasan

Pengarang/pencipta lagu cukup berhasil memotret fenomena sosial kejemuan politik di desa.


Meskipun jika pakai kacamata berbeda, saya anggap kurang berhasil memotret faktor-faktor penyebab lainnya.


Seolah-olah yang disalahkan hanya masyarakat desa yang tidak akur, saling membenci dan kurang sportif dalam menerima kekalahan calon kuwu yang didukungnya.


Dalam kacamata siasat politik, strategi kemenangan dan meraih kekuasan. Aktor-aktor politik banyak menggunakan cara-cara kurang etis. Menghalalkan segala cara dan curang.


Seperti penggunaan money politic, egoisme keluarga dan pengotoran demokrasi oleh judi taruhan.


Demikian, bedah lirik lagu aja sengitan saya akhiri. Man Sopyan miyang ning Majasih, cukup sekian dan terimakasih.

***

Meneer Pangky

Dewan Seni Sanggar Kedung Penjalin dan Pengurus Dewan Kesenian Indramayu.

Realita Papah Muda dan Prioritas Hidup

Disclaimer

Tulisan ini diracik bukan tentang parenting. Papah muda dan prioritas hidup adalah dua hal beda. Opini ini tentu subyektif dan tidak menutup kemungkinan adanya silang pendapat.
**

Baru-baru ini ada beberapa pertanyaan dari teman dan kenalan. Kok, sekarang nggak aktif lagi? Kemana aja? Jarang ketemu.

Jawaban basa-basi ya cuma njawab, kan lagi pandemi, ada, nggak ke mana-mana, di rumah aja.

Jawaban seriusnya sih apa? Ya ini mau saya ocekin. Sejujurnya ini soal prioritas hidup.

Sehabis nikah, memang niat banget pengen segera punya momongan. Apa mau dikata, harapan dan kenyataan tidak sesuai apa yang dipengeni.

Dua kali keguguran terus. Sempet berpikir, kok punya anak susah banget ya. Lah, mereka yang hamil duluan, masih abegeh, kok jago banget ya. Bisa langsung punya anak, padahal tidak disengaja, tapi bisa hamil dan punya anak.

Saya yang niat, pengen gendong anak. Susahnya minta ampun. Dari situ, saya mulai mengubah pola pikir. Anak itu ya memang titipan. Anak itu rejeki yang tiada duanya.

Melihat senyum menggodanya, hilang semua beban di pundak. Itu kebahagiaan tersendiri.

Memiliki momongan adalah prioritas utama saya setelah menikah. Berhubung istri juga sedang kuliah, fokus lainnya ya bagaimana istri bisa lulus.

Kerja, Kuliah & Ngurus Anak

Saya sangat sadar betapa repotnya membagi waktu untuk kerja, kuliah dan ngurus keluarga.

Untuk itulah saya acungkan jempol untuk nyonya, ia bisa membagi waktu dengan cukup baik.

Mana waktu untuk keluarga, pekerjaan dan kuliah. Untuk itulah saya hadir, mengurangi waktu yang kurang produktif lalu mengalokasikannya untuk supporting system kesuksesan si nyonya.

Coba aja bayangin! Repotnya minta ampun. Tugas ini, tugas itu, waktu yang dimiliki ya terbatas, 24 jam tok. Tidak akan cukup hanya bermodalkan niat, disiplin, dan dana saja.

Butuh juga orang-orang yang mendukung langkah dalam menempuh pendidikan. Bisa memahami dan meringankan beban yang dipikul.

Salah satu supporting system yang saya bangun untuk istri adalah fasilitas akademik online. Misalnya, nyonya butuh katalog buku, saya suruh install aplikasi ipusnas. Aplikasi online perpustakaan nasional yang menyediakan jutaan buku.

Buku-buku langka, buku jurnal yang edisi terbatas, tersedia melimpah. Bahkan, dosennya juga kaget, beliau tidak tahu ada fasilitas tersebut dari perpusnas.

Papah Muda dan Prioritas

Prioritas hidup itu penting untuk diperjuangkan. Prioritas hidup menentukan apa yang akan diraih dalam hidup yang singkat ini.

Prioritas hidup juga sebuah keputusan. Keputusan yang dipengaruhi oleh pengalaman, cara memandang, pola asuh, dan lingkungan yang di tempati.

Seperti prioritas hidup saya, punya anak dan menjadi supporting system untuk kelulusan istri. Itu didasari oleh memori ingatan dan nilai-nilai yang dipegang.

Untuk jangka pendek, hal yang mendasar yang ingin saya capai ya dua hal itu. Bagi saya, hal lain bukan sesuatu yang harus saya perjuangkan.

Menjadi seorang papah muda bukan saja bahagia, tapi tentang kesempurnaan. Saya merasa menjadi seorang pria sejati.

Banyak hal yang harus saya pelajari, saya perlu mengembangkan diri. Upgrading. Belajar pola asuh. Belajar memperbaiki sikap, pengen menjadi teladan bagi anak. Lebih menghargai waktu.

Yang paling krusial adalah datangnya perasaan was-was, apakah saya bisa menjaga, mendukung, bertanggung-jawab dengan masa depannya.

Biaya hidup, gaya hidup, dan biaya sekolah, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Saya tentu tidak rida, senasib dengan ayahnya yang tidak punya dukungan penuh untuk mempersiapkan masa depan.

Hanya bermodalkan faktor hoki dan untung-untungan. Untung dapat beasiswa. Hoki dipercaya orang. Orangtua hanya mendorong lewat doa yang tak terputus tiap malam. Bibirnya basah oleh dzikir-dzikir permohonan kepada Tuhan.

Tanpa adanya dukungan modal sosial dan modal finansial. Pengalaman itu bagi saya amat pahit. Sesak di dada. Keterbatasan itu membuat saya lama tumbuh dan berkembang.

Memori ingatan itu membekas. Dalam-dalam sekali. Saya tidak mau dialami lagi oleh anak. Cukup terjadi pada saya. Jangan sampai terjadi lagi.
***

Setan Oblong itu Apa?

Saya tidak sedang membicarakan bagaimana musik tarling itu lahir dari migrasi nada pentatonik menuju diatonik. Karena kalian bisa cari referensi etno musikologi yang lebih spesifik dari para ahli yang lebih ahli. Google misalnya! 

Saya hanya ingin melihat arti seni dari sisi lain suatu seni. Dalam hal ini, musik tarling khususnya. Ketika musik tarling yang selama ini saya dengar, lebih banyak didominasi oleh lirik konservatif lokalitas.

Beberapa hari ini telinga saya digelitik rasa penasaran dan takzim oleh sebuah karya tarling yang dilabeli "setan oblong". Di lagu itu, lirik yang ditulis oleh si pencipta Dawer Jeprat dan dibiduani oleh Munawir Sazali, menurut saya lebih nakal dan progresif, dengan tema kritik kegelisahan yang mewakili suara kaum akar rumput kebanyakan. 

Dari kritik kelakuan politikus menyebalkan, kebijakan pemimpin yang absurd, sampai keluh-kesah seniman, petani, hingga rapatnya masalah dan kebingungan masyarakat kecil dimasa pandemi ini, si pencipta berhasil memotret semua itu dengan apik. 

Tapi, bukan berarti karya tarling dari seniman lainya itu butut. Bukan itu! Karena tetap akan ada telinga lain yang tidak satu frekuensi dengan telinga lainnya, itu keniscayaan. 

Hanya jika kita melihat romantisme berkesenian pada era sebelum musik nasional dalam genggaman pasar, bagaimana musik itu berkelindan dengan suara-suara rakyat, dan ruang-ruang seni banyak dihuni oleh pegiat seni dengan semangat ideologis yang tinggi. 

Di situ, banyak sekali ditemukan formula-formula bunyi dan nada untuk diramu menjadi sebuah musik yang bahkan lebih tajam dari belati sekalipun. Yang menurut pandangan Wiji Thukul, bahwa seni harus membebaskan. 

Seni semestinya bisa membawa transformasi sosial. Seni seyogyanya menjadi bahasa kenyataan sosial yang perlu diperjuangkan. Hari ini, kita kehilangan itu! 

Dan "setan oblong", semoga menjadi pemantik di dunia tarling, bahwa musik tak hanya estetika, pun soal bagaimana ia berbicara realita.
***
Joyo Murjoyo, Dewan Seni Sanggar Kedung Penjalin.

Proses Kreatif - Video Cerita Budaya Desa Tugu Mapag Tamba


Ketika hadir dalam melekan (begadang berjamaah) seringkali teman-teman saya memahami peristiwa budaya dengan kacamata mistis. Saya juga nggak tahu kenapa? Apakah itu pendapat subjektif-nya, atau memang pengalaman spiritual begini menjadi common sense, spiritual komunal di Indramayu. 

Misalnya, lukisan Wiralodra. Saya pernah mengobrol dengan pelukisnya, memang basis datanya bukan dari litografi. Bukan, itu hasil dari men-tayuh lewat mimpi. Katanya meyakinkan.

Demikian pula dengan berokan dan mapag tamba. Berokan dianggap sebagai pengusir setan damyang merkayangan. Sedangkan mapag tamba diambil dari peristiwa sahabat Nabi Saw. Doa-doa melalui air suci. 

Interpretasi-interpretasi di atas kemudian tidak pernah muncul dalam tulisan-tulisan saya. Masyarakat harus di-kaya-kan dengan interpretasi lain. Hal itulah yang kemudian muncul dalam video feature adat mapag tamba yang kami buat.

Sebagai penulis naskah, sengaja pendekatan yang saya pilih adalah pendekatan antropologi visual. Tentu, banyak perdebatan. Bisa saja itu pikiran-pikiran subjektif saya dalam memandang adat mapag tamba.

Setidaknya di Indramayu ada empat adat yang berhubungan dengan budidaya tani. Selain mapag tamba, ada mapag sri, sedekah bumi dan ngarot. Interpretasi saya, adat-adat tersebut adalah hari besar tani.

Sudah lumrah dalam berbagai komunal, ada hari-hari yang ditetapkan sebagai hari besar. Hari tersebut bisa difungsikan untuk libur atau ritual sakral. Dalam setahun, petani-petani desa akan merayakannya dan bersuka-cita. Tak heran hiburan-hiburan semacam wayang kulit akan menjadi pelengkapnya.

Sebagai anak jaman, saya juga menangkap ritus tani di atas adalah upaya terakhir petani-petani agar budaya mereka tidak ditinggalkan. Ya, semacam simbol perlawanan atas industrialisasi yang terjadi. Juga, menurunnya minat anak-anak petani melanjutkan prosfesi orangtua mereka.

Video budaya desa mapag tamba yang diproduksi Kiradenan Community pertama tayang di Channel CM Production dan di muat kembali dalam video pilihan cerita budaya desa Kemendikbud 2020.
***

Menangkan 1,5 Juta - Lomba Logo Baru Lux Digital Printing

LUX Digital Printing (LDP) merupakan bisnis yang diinisiasi oleh mantan BMI—buruh migran Indonesia. Namanya Sujani, ia mantan BMI Korea Selatan. LDP bergerak dibidang percetakan digital. Semacam spanduk, baliho, kalender, striker dan berbagai produk merchandise lainnya. 

Setelah tahun lalu launching toko di Desa Bulak, Jatibarang menjelang penutup tahun berencana membuka cabang baru di Kota Indramayu. Mirip istri baru, rumah baru atau kendaraan baru, membuka cabang tentu butuh strategi baru, logo baru dan target-target baru.

LDP ingin memenangkan pertandingan bisnis percetakan yang mana bak jamur di musim hujan. Cara paling mudah adalah ya menciptakan ikon bisnis baru, logo yang bisa bersanding dengan usaha sejenisnya, bagaimana LDP tampak menonjol dan mencuri perhatian.

Untuk itu LDP mengundang desainer-desainer muda dan senior berpartisipasi pada lomba desain logo baru. Tapi, maaf beribu maaf lomba ini khusus untuk bocah Indramayu saja.

So, anak putu Wiralodra mangga kirimkan karya kalian dengan format PDF ke e-mail resmi LDP seperti yang tercantum di infografis di atas.

Soal kriteria lomba, harap pul warna dan monokrom. Ukuran 1x1 cm. Max 5mb dengan jenis file cdr. Juga, tolong cantumkan surat pernyataan otentik. Biar LDP tidak digugat ya bro.

Hadiah yang diberikan pada lomba ini yaitu berupa uang tunai 1 juta rupiah dan voucher 500k pembelanjaan produk di LDP. Pengumuman hadiah pemenang pada tanggal 10 Oktober 2020 di akun medsos dan fanspage resmi LDP.

Yuk ah, aja kesuwen!
***

Seniman Protes

seniman indramayu
Aksi seniman protes. Foto/Kaji Warna
Campur aduk rasanya di hati. Ketika saya menyimak demonstrasi seniman di kota mangga. Yang berlangsung Jumat (11/9). 

Saya mau mengutip pernyataan SBY soal seniman. Mereka adalah pengetuk hati politikus. Negara banyak berutang kepada seniman. 

Seniman itu orang kreatif, sering mengetuk hati pemangku kebijakan dengan caranya sendiri. Ada yang lewat lukisan, tarian, musik, tulisan maupun teater. 

Ketika mereka sampai turun ke jalan. Berarti ada masalah besar yang dihadapi untuk disuarakan. Satu sisi ada rasa salut, seniman kompak turun ke jalan. Konon ada 2000 orang yang ikut aksi itu. 

Sisi lainnya, ada rasa sedih. Patut disayangkan mereka mengacuhkan social distancing. Juga, ketika ada sebagian yang menyangsikan suara mereka itu. Dianggapnya ada yang menunggangi.

Indramayu memang sebentar lagi akan menggelar pesta demokrasi. Bagi lawan politik, aksi ini tak lebih hanya pesanan. 

Kemaren (11/9), beranda medsos saya berseliweran silih berganti, mengabarkan aksi tersebut. Tak hanya menjadi nomor satu di Indramayu. Juga menjadi salah satu hot news nasional. Media-media nasional merilis aksi protes itu. 

Tak lain tak bukan karena orasinya serius tapi santai. Ada sisipan-sisipan lucu, ekspresif dan sempal guyon yang menghibur peserta aksi. 

Tuntutan mereka cuma sati. Bupati mencabut perbub larangan pertunjukan hiburan. Sektor ekonomi terpukul sampai titik minus. Job manggung ditunda dan dibatalkan. 

Buntut larangan ini merembet kemana-mana. Petani ternak, komoditasnya gagal disembelih. Toko sembako, bahan baku mereka gagal jadi prasmanan. Jasa sewaan tenda, kursi, panggung, sound, tukang babah menganggur. 

Jasa foto,video dan streaming, peralatan mereka digudangkan. Pedagang asongan, kuliner dan souvenir, lapak dagangnya berkurang. 

Showbiz adalah sektor yang multiplier effect. Semua sektor ekonomi ikut terkoreksi. Aksi protes seniman kemaren merupakan aspirasi berbagai elemen masyarakat. 

Selamat untuk insan seni, tuntutan kalian dikabul. Dapur bakal ngebul, saweran pun brubul. Hidup seniman. Salam budaya! 
***

Tri Home - Paket Internet Bulanan Termurah

Sebagai blogger kebutuhan internet menjadi hal krusial. Setelah tahun 2019 bongkar tikar warnet, otomatis saya tidak punya fasilitas internet. 

Padahal untuk terus menghasilkan konten, kebutuhan akses internet buat saya sebuah keniscayaan. Saya sering gonta-ganti provider. Berikut vendor internet yang pernah saya pakai. Temen-temen bisa membaca ulasannya di artikel ini. 

Sekarang saya sedang menggunakan layanan dari 3. Saya katakan murah dalam artian harga per GB, bukan murah soal harga. 

Harga yang dibandrol oleh 3 sebenarnya tidak jauh beda dengan Indihome. Paket Tri Home 150 GB dan 117 GB. Harga per giga cukup murah, Rp. 1000.

Misalnya paket 150 GB, kuota utama 25 GB, kuota weekend 55 GB dan kuota harian 01.00-17.00 70GB. Meski ada pembagian waktu penggunaan, saya rasa cukup fair-lah. 

Hari-hari kerja, saya disibukkan dagang. Sedangkan di weekend, saya fokus bikin konten. Kuota besar saya gunakan untuk unggah video. 

Dibanding vendor lainnya, yang mana ada FUP. Saya pikir paket unlimited-nya pengibulan. Kecepatannya terjun bebas. Meski kecepatannya di bawah vendor lainnya. Saya cukup puas dengan speed connection yang didapat. 

Ditambah, yang saya syukuri selain sinyal lumayan bagus. Paket Tri Home bukan paket khusus pelanggan terpilih. Semua pelanggan berhak membeli paket ini.
*** 
Disclaimer :
Ulasan ini bukan advertorial, murni testimoni saya sebagai pelanggan.


Nasib Wong Mlarat ditentukan dalam Sehari

rutilahu
Rumah tidak layak huni. Foto/Anton
Nanti tanggal 5 Desember 2020, wong mlarat tidak selamanya diacuhkan. Mereka akan direbut simpatinya. Keberadaan mereka tidak selamanya dilupakan. 

Tak diacuhkan bagaimana? Suara mereka akan diperah secara politis. Di penghujung tahun ini calon-calon bupati akan merebut simpatinya. Mereka akan dimanja dan diperhatikan, untuk mendulang kemenangan pesta demokrasi lima tahunan itu. 

Masa sih? Berapa memang jumlah wong mlarat di Indramayu? Sampai cabup-cabup harus berebut perhatian mereka. Jumlahnya 13,67% dari 2.001.520 penduduk berdasarkan data BPS 2018. 

Kabupaten produsen beras terbesar nasional ini merupakan kantong kemiskinan di Jawa Barat. Dari data di atas setidaknya ada 260.000 jiwa orang miskin. Prosentase ini dibawah angka standar kemiskinan propinsi sebesar 8,71% atau nasional sebesar 10,64%. 

Pada masa-masa tersebut, para kandidat akan tebar pesona sana-sini. Calon bupati akan menjadi pengemis suara. Senyum mereka menawan, tegur-sapanya hangat. Antusiasmenya menyenangkan. 

Namun siapapun yang terpilih, halaaaaah bakalan lupa ingatan setelah kursi bopati diduduki. Begitulah teman saya si Dadap ikut menyela diskusi si Waru dan Si Semanggen. 

Bupati baru, dipastikan programnya tidak pro wong mlarat. Indramayu akan tetap jadi runner up kompetisi kabupaten/kota termiskin di Jawa Barat. Kecuali, ada gebrakan super dahsyat. 

Keramahan pada mereka akan segera ilang tanpa krana. Hanya menyisakan gremombyong jeprat-jepret bidikan kamera di status media sosial. 

Wong mlarat ini tidak akan bisa bersalaman atau mengadu ke bupati. Padahal, si mlarat yang belok, bodoh, mambu apek juga gemar merokok ini ikut bayar pajak untuk gaji sang bopati. 

Memang malang nasib wong mlarat. Kesetaraan mereka di hadapan negara hanya saat datang ke TPS. Nasibnya, jelas bukan nasib wong agung. Setelah pilbup, bopati baru belum tentu memikirkan kesulitan mereka. 
***

Obituari Yance - Politisi dan Pejuang Pendidikan Indramayu

kang yance
Diskusi Budaya Indramayu. Foto/MP. 2012

Mantan Bupati Indramayu Irianto MS Syafiuddin atau lebih dikenal dengan panggilan Yance meninggal dunia di usia 64 tahun pada Minggu, 16 Agustus 2020 karena serangan jantung. Seperti dilansir Radar Cirebon, Yance meninggal di RSUD Indramayu. 

Kabar meninggalnya Yance turut dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu Deden Bonni Koswara mengatakan Yance sempat menjalani perawatan di RSUD Indramayu karena sakit, sebelum mengembuskan nafas terakhir. 

Yance lahir pada 27 Oktober 1955, di Ambon, Maluku. Ia lulus dengan gelar di bidang Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ia menikah dengan Anna Sophanah, dari pernikahannya ia memiliki dua putri dan satu putra. 

Yance pernah menjabat sebagai Bupati Indramayu dari tahun 2000 sampai 2010. Setelahnya ia terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Barat 2014-2019. Dan didaulat sebagai Wakil Ketua DPRD Jawa Barat.  

Ia adalah politisi Partai Golkar dari Jawa Barat yang dikenal sebagai tokoh penting dalam masa transisi reformasi. Ketika ia menjabat sebagai bupati, Yance dianggap mampu menghadirkan pembangunan di kabupaten tertinggal. 

Sebagian masyarakat Indramayu menyebutnya sebagai bapak pembangunan. Ia berhasil menurunkan angka buta huruf, memajukan pendidikan agama, ketahanan pangan, pelayanan birokrasi, program KB, pengembangan masyarakat pesisir dan meningkatkan indeks IPM. 

Pada 28 April 2016, Mahkamah Agung (MA) menganulir putusan Pengadilan Tipikor Bandung dan mengadili sendiri dengan menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara kepada mantan bupati Indramayu tersebut. 
***