Waterleiding Maatschappij Indramajoe - Catatan Ledeng di Kota Mangga


Sebagai kota yang sudah berkembang sebelum penjajahan Belanda. Indramayu banyak memiliki gedung-gedung peninggalan kolonial. 

Dari sekian banyak gedung yang masih berdiri kokoh adalah bangunan PDAM Tirta Darma Ayu atau Waterleiding Maatschappij Indramajoe. 

Berdasarkan catatan PDAM TDA, bangunan tersebut berdiri sejak tahun 1932. Berkapasitas 20 liter/detik. Memanfaatkan sumber air baku dari Sungai Cimanuk melalui saluran irigasi Sindupraja.

Sebenarnya Belanda meniru kebiasaan penduduk Jawa yang merebus air sebelum diminum. Dalam buku Direktori Perpamsi, Sir Stamford Raffles, pada tahun 1817 mencatat kebiasaan pribumi tersebut.

Juga, konon di Indramayu, pada tahun 1900-an ada tuan tanah yang memiliki sumur yang airnya sangat jernih. Pemilik sumur tersebut memperdagangkan air sumur tersebut dengan harga 1 gulden per drum (200 liter). 

Namun, kebiasaan itu diubah setelah muncul wabah penyakit menular mulai dari disentri, tifus bahkan kolera. 

Karenanya, orang-orang Belanda tidak mau lagi minum air sungai dan sumur. Khususnya para pejabat kolonial. Ambtenaar

Para ambtenar kelas atas mendatangkan air dari Cirebon. Satu guci seharga 2 gulden. Dari mata air Cipaniis. 

Selain mahal dan juga kurang efisien jarak. Lalu dibangunlah Waterleiding Maatschappij Indramajoe. Pembangunan sarana air minum ini untuk memenuhi kebutuhan orang Belanda. 

Kota-kota yang dibangun waterleiding adalah kota-kota yang memiliki arti strategis bagi Belanda, baik dari segi politis, keamanan, maupun ekonomi seperti pertanian, pertambangan, perniagaan, perkebunan dan pelabuhan.

Pada masa itu, waterleiding bedrijf atau perusahaan air minum kotapraja menginduk ke Department van Volksgezondheid. Mirip Kementerian Kesehatan jaman sekarang.

Sebagai tambahan, dikarenakan dikelola oleh kotapraja. Waterleiding Maatschappij Indramajoe memungut tagihan air yang dipakai oleh pelanggan. 

Direktur PU Pemerintah Hindia Belanda menyepakati tarif air bersih sebagai berikut :
  • Untuk menyiram jalan, lapangan, pertamanan, pembersihan parit 0,05 gulden.
  • Untuk badan amal seperti rumah sakit dan lain-lain 0,10 gulden.
  • Untuk kantor umum dengan pemakaian minimal 10 m3 0,20 gulden.
  • Untuk pemakaian rumah tangga, kandang hewan dan menyiram halaman dengan pemakaian minimal 5 m3 per bulan 0,20 gulden.
  • Untuk hotel, restoran, dan gedung pertemuan dengan pemakaian minimal 25 m3 per bulan 0,20 gulden.
  • Untuk keperluan industri dengan pemakaian minimal 12,5 m3 per bulan 0,40 gulden.

Pilih Lanja atau Gadai Sawah?

Sebenarnya soal investasi itu, nggak melulu dimonopoli orang kota. Orang kampung juga paham dengan macam-macam investasi. Bedanya hanya satu. Jenis instrumen.

Di kampung saya, sebagian besar pendapatan yang mereka kumpulkan akan dibelikan tanah sawah. Ada macam-macam. Ada sistem lanja (sewa) dan gadai.

Kok tidak beli saja? Uangnya tidak cukup dong. Harga per hektar sawah mahal. Hahaha. Beda dengan emas, bisa ngecer.

Nah, asumsi saya sistem lanja dan gadai mirip eceran. Dengan uang puluhan juta pun sudah punya lahan garapan sawah.

Kemaren saya tanya-tanya, nilai lanja dan gadai per tahun 2020. Lanja, kisaran 2,5-3 ton gabah per bau/tahun. Gadai, kisaran 30 juta per 100 bata/2 tahun.

Oh iya, mengapa satuannya bata/bau? Di Indramayu khususnya, satuan luas sawah masih menggunakan satuan adat, belum internasional. Satu bau itu 500 bata.

Jika dikonversi ke dalam meter persegi, kisaran satu bata itu 14m2. Satu bau kisarannya 7000 m2.

Soal gadai, ini mirip deposito. Jika nggak minat garap sawah, bisa di-lanja-kan lagi. Asumsi saya, dilanja orang sebesar 3 ton/tahun. Selama dua tahun uang kembali ditambah gabah 6 ton.

Enam ton gabah, kisaran panen raya Rp. 5000/kg. Keuntungan didapat kisaran 30 juta. Kurang lebih suku bunga sistem gadai 10%/tahun. Lebih besar dari deposito, 5-7%/tahun.

Sedangkan sistem lanja. Mirip usaha bisnis. Jika gagal panen, bisa jadi malah tekor. Rumus bisnis, high risk high return. Semakin beresiko, keuntungan semakin besar.

Anggaplah musim tanam tahun depan, Anda punya uang 30 juta. 15 juta untuk lanja, sisanya untuk biaya produksi. Berdasarkan PPL Pertanian, biaya produksi per bau kisaran 8 juta/musim.
Hasil produksi gabah per bau berkisar 4-5 ton. Dalam satu tahun bisa mengantongi 40-50 juta. Keuntungan yang diperoleh 20-40%. Dengan asumsi nggak gagal panen.

Kita ini manusia biasa, hanya bisa berikhtiar dengan membuat perhitungan-perhitungan seperti di atas. Pesan moral tulisan ini, bahwa orang kampung juga melek finansial.

Terakhir, tidak ada investasi yang beresiko. Semuanya punya plus-minus. Tergantung Anda memilih jenis investasi yang mana. Semoga bermanfaat!
***

Belajar dari Masa Lalu, Konflik di Desa [Tamat]

Konflik Blok Bojong Desa Curug Kandanghaur Indramayu. Foto/Istimewa. 2017
Tragedi perlawanan “telanjang”. Pernah pula sewaktu pemuda Tugu menyerang Mekar Gading mereka dihadapi oleh kaum ibu-ibu. Sekitar tiga puluh orang ibu-ibu siap menghadapi pemuda Tugu dengan menghadang di jalan pesawahan berjejer berbaris dengan hanya mengenakan kain tanpa baju.

Kemudian pada saat pemuda Desa Tugu mendatangi masuk ke wilayah Desa Mekar Gading dan berhadapan ibu-ibu, maka serta merta ibu-ibu langsung membuka kainnya, dan mereka pun para pemuda menyerang kembali, merasa dipermalukan oleh ibu-ibu. Inisiatif penghadangan oleh ibu-ibu ini juga ada motif kiat perlawanan melumpuhkan kedigjayaan (semacam kekebalan). 

Penyelesaian konflik pada tahun 2000-2002, antar Desa Tugu dengan Desa tetangga lainnya sempat dilakukan dengan penegakan hukum (law enforcement), melalui satuan ‘buru sergap' atau dikenal buser. Hal tersebut terjadi karena ada kecenderungan kelompok pemuda tawuran menjadi kelompok penekan aparat desa.

Menjadikan aparat desa “terpaksa” menjadi pelindung pemuda, dilematis memang. Akan mengikuti kebijakan petugas keamanan atau tekanan pemuda. Pada akhirnya secara tidak disadari kuwu dan lurah (keamanan desa) menjadi bagian dari tawuran. Kuwu (inisial S) sempat menjadi buruan tim “buru sergap”, sampai kakinya kena tembak. 

Sehubungan kasus tawuran Tugu, maka penyelesaian direspon Bupati dengan berkunjung dan berdialog dengan warga Mekar Gading dan Gadingan juga dengan tokoh masyarakat Tugu, serta memberikan santunan kepada korban yang disaksikan unsur Tripika. Komentar bupati: 
“Prihatin dengan sikap emosional warganya yang hanya persoalan sepele menjadi tawuran. Lebih prihatin lagi tawuran cenderung dimanfaatkan untuk melakukan tindakan kriminal, pengrusakan, pembakaran, penjarahan serta pembunuhan. Kapan kita jadi masyarakat beradab, sulit bisa maju dan investor mana bisa masuk kalau masyarakat memiliki budaya keras. Minta bersabar dalam menghadapi persoalan.” 
Sehubungan dengan kasus konflik Desa Tugu, maka penyelesaiannya juga dilakukan pemerintah setempat dengan pendekatan sosial-ekonomi, karena diduga akar masalah adalah kesenjangan sosial ekonomi masyarakat yang ada di sekitar kilang Pertamina UP VI Balongan. 

Kebijakan yang diambil dengan cara mengikutsertakan sebagian warga menjadi buruh di kilang tersebut. Bahkan lurahnya (inisial G) yang dulu diduga sebagai pelindung kelompok pemuda tawuran, sekarang sudah menjadi pengusaha. 

Desa Tugu yang menurut aparat dianggap paling rawan tawuran juga diupayakan dengan antisipasi berupa kegiatan olahraga, yakni turnamen sepakbola. Di desa tersebut diselenggarakan kompetisi Liga Sepakbola antar blok yang diselenggarakan oleh Pembina Desa Tugu didukung Kapolsek, berlangsung selama 35 hari. (Munandar Sulaiman. Sosiohumaniora, Vol. 12, No. 2, Juli 2010 : 175– 190) 

Pertanyaan-pertanyaan siapa dalang mobilisasi massa, pelindung pemuda anarkis dan atas kepentingan apa? Porsi kritis analisis wacana model van Dijk terjawab dengan hasil penelitian M. Munandar Sulaeman, Staf Pengajar Laboratorium Sosiologi Penyuluhan Fapet, Pascasarjana FISIP Unpad. Semuanya saling terkait. 
***

Payout Pertama Gajian Google Adsense

meneerpangky.com

Sebenarnya sudah sering PO. Berhubung ada yang nanya, bagaimana rasanya menerima gaji pertama dari adsense? Terpaksa saya bagikan pengalaman membahagiakan tersebut. 

Dibanding teman pemburu dollar lain, saya terbilang telat. Saya mulai ngeblog sejak 2011. PO pertama justru saya dapat tujuh tahun setelahnya, yakni 22 Pebruari 2018. Selama tujuh tahun pendapatan ngeblog saya dari sponsor post, penulis konten situs/blog orang lain. Dari honor 5k/tulisan hingga 500k/tulisan. 

Tidak hanya itu, saya juga bisa menginap di hotel gratis, diundang acara ulang tahun BUMN dan puncaknya diajak Kementerian Pariwisata RI dalam kampanye Pesona Indonesia. 

Kok nggak serius ngurusin blog untuk adsense? Saat itu saya punya usaha kecil-kecilan. Saya punya warnet. Ngeblognya bukan cari uang, tapi cari pengalaman dan membuka jaringan. 

Waktu itu belum terlalu ngotot dengan adsense. Ada sih, keinginan untuk mendapat uang dari blog, tapi masih belum berharap banyak. Dalam perjalanan, setelah menikah tahun 2016 dan usaha warnet mulai ngos-ngosan. Pengusaha warnet banyak gulung tikar, saya mulai menyeriusi untuk dapat duit dari adsense. 

Kebutuhan keluarga juga meningkat. Istri masih kuliah di Unwir, universitas swasta di Indramayu. Saya butuh sumber pendapatan baru. Saya sempat putus asa untuk jebolin diterima adsense

Setahun kemudian diterima. Saya lompat-lompat. Ya, lompat-lompat seperti anak keciL. Saya sangat senang sekaligus terharu. Bayangkan apa yang kalian idam-idamkan akhirnya berhasil kalian dapat. Begitulah rasanya. 

Dan setahun berikutnya saya bisa PO. Gajian pertama dari adsense. Untuk kamu yang ingin memulai menjadi penulis konten, saran saya adalah konsisten. Jangan setengah-setengah. Minimal buatlah satu postingan perhari. Usahakan postingan-mu dapat menyelesaikan masalah banyak orang, bukan sekedar hal yang ingin kamu tulis. 

Saya rasa ceritanya cukup sampai di sini. Terimakasih sudah membaca. 
***

Kaos Charity untuk Anak-anak Sanggar Kedung Penjalin

meneerpangky.com
Add caption
Ayo berbuat semampunya?

Jika Anda suka berderma? Pilih menyantuni kaum papa yang usianya sudah senja atau pilih anak muda agar mereka punya skill. Kemampuan yang ia miliki akhirnya bisa mengumpani mereka?

Jawabannya bisa dua-duanya jika Anda punya berlebih harta. Bagi sebagian lebih memilih menyantuni orang yang sudah tidak bisa apa-apa. Bisa berpeluang kelaparan. Bagi lainnya lebih memilih kasih pancing, agar mereka bisa terus menerus dapat ikan. Yang terakhir, bisa juga tidak berderma, nasib kalian tidak lebih baik dari mereka.

Jawaban empat-empatnya benar semua. Kok benar semua? Maksudnya gimana? Begini gaes. Jika memilih tidak berderma, itu artinya telah menggunakan akal sehat dengan benar. Harus kuat dulu untuk menolong orang lain. Harus menyelamatkan diri dulu sebelum menyelamatkan orang lain. 

Jika memilih berderma, itu artinya Anda sudah mapan. Kaya. Sudah saatnya membantu orang lain. Tujuannya jelas, agar hartamu bermanfaat bagi orang lain. Bekal nanti di akherat kelak, bagi mereka yang meyakini adanya hari akhir. 

Jika memilih kasih ikan. Anda juga benar. Secara manfaat, itu bisa menolong mereka untuk menyambung hidup. Jika memilih kasih pancing, juga benar. Anda mengharapkan di masa depan mereka bisa hidup mandiri. Bisa mengumpani hidup mereka sendiri. 

Jawaban benar semua, sebab kebenaran itu relatif. Tidak ada keyakinan tunggal. Namun, jika Anda sedikit lebih berpikir, dampak dari keyakinan tadi akan berbeda. 

Sobat-sobat sekalian, untuk mengisi anak-anak muda punya aktivitas positif dengan berkesenian. Mari patungan dengan cara membeli kaos ini. Lengan panjang IDR 90k. Lengan pendek IDR 80k. Semoga derma Anda menjadi ladang amal penuh berkah. Amin.

Belajar dari Masa Lalu, Konflik di Desa [2]

Konflik Blok Bojong Desa Curug Kandanghaur Indramayu. Foto/Istimewa. 2017
Seseorang warga Tugu kebetulan istri mudanya di desa Mekar Gading menyelenggarakan hajatan sunatan dan acara lebaran yang disertai acara pesta “minum”. Entah bagaimana mulainya, tiba-tiba seorang warga Tugu kepalanya terkena pukulan botol minuman. Rasa solidaritas yang tinggi terhadap korban, maka warga Tugu menyerang pemuda warga Mekar Gading. Demikian halnya, desa Gadingan yang sebelumnya masih satu desa dengan Mekar Gading melibatkan diri membantu warga Mekar Gading, Mekar Gading juga dibantu warga Sudimampir yang semula pernah konflik dengan warga desa Tugu. Sejak peristiwa tersebut terjadilah beberapa gelombang tawuran. Warga desa Tugu juga terlibat tawuran dengan desa yang berada di perbatasannya (di sekelilinginya) seperti dengan desa Segeran, Sudimampir dan Tinumpuk. Konflik tawuran disertai dengan senjata golok, bata dan bom molotov bahkan karena dendam sampai jalan pun diputus dengan menggali parit. Warga Mekar Gading yang menjadi korban tawuran nekad merusak jalan diperbatasan kedua desa, merupakan jalan alternatif penghubung Karangampel - Balongan. Pengrusakan sebagai bentuk protes atas pembakaran dan penjarahan 25 rumah milik warga Mekar Gading oleh warga Tugu. Upaya damai telah dilakukan beberapa kali dengan cara musyawarah antar tokoh masyarakat dan aparat desa BPD, LPM, Kuwu dan para pemuda. Sebagai simbol damai diperbatasan dipancangkan bendera putih. Namun hal ini juga kurang berhasil karena tawuran terjadi lagi. Bahkan sempat pula didamaikan di depan DPRD dengan disaksikan pihak kepolisian, tokoh masyarakat, aparat desa yang bersangkutan dan FOSTRAKAT (Forum Silaturahmi Masyarakat) sebagai LSM setempat. (Harian Pikiran Rakyat. (2004). Informasi Masyarakat Jawa Barat terbitan 1998-2004). 
Membaca liputan Pikiran Rakyat di atas jika disandingkan dengan aspek teoretis konflik, misalnya teori dari Simmel. Sosiolog ini mengangkat teori konflik dari bentuk dasar proses sosial yang bersifat empirik, sebagai sesuatu yang tidak dapat dielakkan, akibat struktur sosial yang mendominasi, tetapi tetap tidak terpisahkan dari proses asosiatif dan disosiatif (kecenderungan sifat masyarakat monistik dan antagonistik). 

Konflik menurut Simmel memiliki dualisme tujuan yaitu tujuan integrasi dan tujuan pembebasan diri, gengsi dan kerusakan, selain itu juga dalam rangka pemeliharaan proses, pengaturan organisasi dan solidaritas. 

Asumsi konflik menurut Simmel bahwa pelibatan emosi dalam kelompok konflik akan memperhebat konflik, penghargaan yang tinggi tehadap solidaritas dari kelompok konflik akan memperhebat pelibatan emosi dalam konflik, demikian pula konflik meningkat searah dengan peningkatan akan tujuan dan kepentingan. 

Asumsi-asumsi yang diajukan Simmel sangat membantu dalam menganalisis proses sosial (konflik) baik konflik vertikal maupun horisontal. Singkatnya, konflik antara Tugu-Mekar Gading terjadi demi gengsi dan solidaritas semata. 

Sedangkan, bila liputan di atas disandingkan dengan model analisis van Dijk. Tidak dijelaskan siapa yang meng-organisasi warga untuk membakar 25 rumah. Teks berita hanya menyertakan asal-usul tawuran, pengrusakan 25 rumah, pengrusakan jalan dan terakhir mediasi oleh DPRD dan pemancangan bendera putih. 

Sedangkan dalang yang mengerahkan massa disembunyikan. Seakan-akan peristiwa ini terjadi begitu saja. Bahkan, pembaca diajak untuk mengecam pelaku pembakaran rumah hingga desa tersebut layak dikeroyok oleh desa sebelahnya. Sugesti dalam teks berita membawa pembaca, mana yang salah dan benar. Detail pengerahan massa, siapa dalangnya dan atas kepentingan apa mereka memobilisasi massa kurang mendapat porsi.

Prabu Nala & Permaisuri Dewi Damayanti [Tamat]

Boyke Rustiaji
Ilustrasi by Boyke Rustiaji
Kesini segara malapor kepada Dewi Damayanti tentang semua yang dilihatnya. Kemudian ia segera di utus untuk menghadap permaisuri, menceritakan semua yang dilihat kepada ibunya. Sang ibu bahagia mengetahui hal tersebut dan menceritakannya kepada suaminya.

Prabu Bima memanggil Bahuka untuk bertemu dengan Dewi Damayanti. Dewi Damayanti menanyakan kepada Bahuka kenapa Prabu Nala sampai hati meninggalkan dirinya di tengah hutan belantara. 

Bahuka pun menjawab bahwa sebenarnya ini ulah dari Dewa Kali dan bukan dari kehendak dirinya. Kemudian Bahuka menyindir Dewi Damayanti dengan bertanya berapa banyak raja yang dia undang ke Widarba untuk mengikuti sayembara pilih mantu.

Mengetahui hal tersebut, Dewi Damayanti langsung mendekat dan menyembahnya. Dia berkata bahwa, dia sudah menyuruh para brahmana untuk mencari dirinya di pelosok dunia dengan melagukan seloka yang berisi pesan rahasia.

Akan tetapi, hanya Brahmana Parnada yang mendapatkan keterangan di Ayodya. Dewi Damayanti menjelaskan tentang sayembara pilih mantu tersebut hanyalah akal-akalannya. Hal itu dilakukan agar ia bisa bertemu dengan Prabu Nala.

Dan juga perlu diketahui bahwa sayembara ini tanpa sepengatahuan ayahanda. Dewi Damayanti bersumpah kepada angin, matahari dan rembulan jika ia berkhianat dari Prabu Nala lebih baik dirinya mati. Ia mengambil sumpah kepada angin, rembulan dan matahari karena penegak dunia. 

Sementara itu suara Dewa Bayu juga terdengar di telinga Bahuka. Dia mendengar bahwa Dewi Damayanti memang sangat mencintai Prabu Nala dan sangat setia kepadanya. Selama hidup sengsara Dewa Bayu-lah yang selalu melindungi Dewi Damayanti.

Oleh karena itu, jangan sampai Prabu Nala meragukan kesetiannya. Suasana di luar kerajaan menjadi hujan rintik-rintik dan petir pun menyambar seperti memberikan ucapan selamat kepada kedua pasangan yang baru bertemu setelah hidup terpisah dan sengsara.

Setelah itu Bahuka mengheningkan cipta memusatkan pikiran kepada Naga Karkotaka, serta dipakailah jubah kebesaran dari langit. Dengan sekejap mata, wujud Bahuka kembali tampan menjadi Prabu Nala. 

Melihat Bahuka telah malih rupa, Dewi Damayanti segera berlari memeluknya. Keduanya lalu melepaskan rindu lalu menemui kedua anaknya. Keesokan harinya, selesai mengenakan busana kebesaran Prabu Nala dan Permaisuri Damayanti menghadap ayahnya yaitu Prabu Bima. 

Ayahnya sangat bahagia, sehingga memutuskan membuat pesta syukuran. Kabar keberadaan Prabu Nala dan Dewi Damayanti di Widarba terdengar ke pelosok kerajaan, secara serentak rakyat kerja bakti menghias kerajaan dan mengadakan pesta di daerah masing-masing. 

Kemudian Prabu Nala mengundang Prabu Rituparna ke dalam istana Widarba. Mereka berpelukan serta saling meminta maaf dan berbincang seperti sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa.

Disamping itu, Prabu Nala juga mengajarkan ilmu katuranggan kepada Prabu Rituparna. Sebaliknya Prabu Nala juga memperdalam ilmu bermain kuclak. 

Setelah sebulan di Kerajaan Widarba, Prabu Nala mengutarakan niatnya ingin merebut kerajaannya kembali. Prabu Nala yakin dengan kemampuannya bermain kuclak dan bisa merebut kembali Kerajaan Nisada.

Jika Puskara menolak ajakan bermainan kuclak, maka Prabu Nala akan menantangnya berperang. Pada waktu yang ditetapkan, Prabu Nala berangkat ke Nisada mengendarai kerata, dikawal lima ratus prajurit berkuda pilihan, enamratus pasukan darat dan enam belas gajah perang.

Di dalam perjalanan mereka tidak banyak beristirahat agar cepat sampai di tujuan. Setelah Puskara mendapatkan laporan dari penjaga gerbang bahwa Prabu Nala ingin menantangnya kembali bermain kuclak, Puskara pun mempersiapkan semua menyambut kakaknya. 

Sesampainya di Istana Nisada Prabu Nala mengutarakan keinginannya untuk menantang Puskara bermain kuclak dan jika menolak maka ia akan menantangnya berperang. Dalam permainan kuclak tersebut tidak hanya harta benda, Dewi Damayanti pun akan dipertaruhkan. 

Mendengar hal tersebut, Puskara langsung menerima tantangan Prabu Nala. Di dalam permainan dadu berkat ilmu dari Prabu Rituparna segala tipu daya Puskara dapat diketahui oleh Prabu Nala.

Sekarang Prabu Nala telah berhasil merebut kembali kerajaanya, bahkan nyawa Puskara pun ditangan Prabu Nala. Akan tetapi karena kebijakan hatinya, Puskara pun dilepaskan. 

Tidak hanya itu, kerajaan dan pasukannya pun dikembalikan. Prabu Nala memeluk Puskara dan berkata bahwa mereka masih saudara kandung. Persaudaraan tersebut harus dijaga sampai mereka meninggal dunia.

Setelah satu bulan tinggal di Nisada bersama kakaknya, Puskara pun pulang. Dirinya mengagumi kebesaran hati Prabu Nala, yang tak lain musuh dan saudara kandungnya. 
***

Penyebutan Urutan Anak di Indramayu

Kamus Basa Indramayu. 2001

Wong Reang, penyebutan untuk orang Indramayu, mirip orang palembang dengan 'wong kito galo' ataupun orang minang dengan 'urang awak', mempunyai tatacara penyebutan untuk urutan anak. Tapi bukan seperti di bali, yang ditempelkan ke nama anaknya.

Anak pertama disebut pembarep, berasal dari kata barep yang artinya lebih dulu. Dalam sebuah pertemuan keluarga Indramayu, pasti pernah mendengar pertanyaan 'kien tah pembarepe?' atau 'pembarep tah?'.

Anak kedua disebut penggulu, berasal dari kata gulu yang berarti leher. Mengapa diambil dari leher, mungkin ditengarai dari posisi leher yang di bawah kepala. Ada pula penyebutan penengah, bila anaknya ada tiga. Anak kedua bukan dipanggil penggulu, tapi penengah.

Anak ketiga disebut pendada. Diambil dadi dada, yang posisinya di bawah leher. Sedangkan anak terakhir, disebut weruju atau ruju. Saya nggak tahu asal-usulnya dari mana. Bisa saja ini berasal dari bahasa Jawa Kuna.

Sistem penyebutan berdasarkan urutan kelahiran anak hanya mengenal 4 urutan kelahiran saja. Mirip penamaan anak dalam budaya Bali. Keluarga yang memiliki anak lebih dari empat saya nggak tahu sebutannya apa? Barangkali ada yang mau menambahkan, silakan berkomentar di bawah.

Pada masa lalu, penyebutan berdasarkan urutan kelahiran anak cenderung digunakan oleh semua orang Indramayu. Bahkan, nama sebutan orangtuanya juga berubah diundang memakai nama anak. Tujuan dari penyebutan nama ini agar lebih mudah membedakan dan mengingat. Orang-orang Indramayu jaman dulu, suka sekali beranak. Ada istilah populernya 'tunji' setahun siji, tiap tahun beranak satu.
***

Ide Bisnis - Dagang Ikan Asin


Ikan Asin. Foto/Tutty Triana
Anda pasti berpikir model bisnis ini sudah ketinggalan jaman, tidak keren, dan lain penghakiman yang tidak berdasar. Saya bisa menyodorkan fakta yang bisa mengubah cara pandang Anda terkait peluang bisnis ini. 

Apabila Anda menganggap dagang ikan asin tidak akan membuat Anda mapan? Sudahi baca sampai di sini. Jika Anda butuh ide-ide segar bisnis, tak ada kerugian membacanya hingga tuntas. Jika setelah baca cocok dengan ide ini. Anda bisa mengeksekusinya. 

Komoditas Dibutuhkan 
Ikan asin adalah komoditas legend, semua kalangan banyak yang suka. Sebagai lauk-pauk, ikan asin akan tetap dibutuhkan oleh siapapun. Lidah orang seleranya berbeda. Bagi pecinta telor, mereka tentu akan menyetok. Demikian juga dengan ikan asin. Orang yang suka ikan asin, sampai perlu menyimpan stok agar tiap kali butuh tinggal memasak. 

Bagi kalangan yang educated, yang pilih-pilih dengan makanannya. Malah lebih tertarik untuk menjadikan ikan asin sebagai menu andalannya. Dikutip dari klikdokter.com, ikan asin memiliki nutrisi yang tinggi. Mengandung protein, vitamin, mineral dan asam lemak omega 3. Sedangkan menurut American Journal of Clinical Nutrition, kebutuhan mengonsumsi ikan itu sebanyak 1-2 per minggu.

Ini artinya apa? Peluang bisnis ini terbuka lebar.

Cerita Sukses 
Persaksian ini, awas ya bukan endorsement. Murni untuk menguatkan tekad Anda yang sedang kehabisan ide bisnis, sedang minim modal dan untuk mereka yang benar-benar serius menyukai dunia wirausaha. Bukan untuk spekulan yang menjadikan bisnis mirip arena judi, untung-untungan. Bukan pula untuk investor yang tahu untung, tidak mau berproses dan ungkang-ungkang kaki. 

Saya punya paman, ia pedagang ikan asin. Dari saya kecil hingga umur kepala tiga, ia mengumpani keluarganya hanya dengan berdagang ikan asin. Pelanggannya adalah wong gunung. Kami yang dekat dengan laut, Indramayu, punya surplus komoditas ikan. Sedang Majalengka dan Kuningan, komoditas ikan harus impor dari Indramayu. 

Menurut paman, bukan hanya dirinya seorang yang jualan ikan asin. Orangtua dan tetangganya juga banyak yang jualan. Saya pun mengamini apa yang diceritakan paman. Tetangga saya, bapaknya teman. Dulu juga pedagang ikan asin. Menginjak umurnya sudah tua, sekarang pensiun. 

Selain umur, faktor lainnya adalah moda transpotasi dan teknologi. Harga ikan tidak bisa seenaknya sendiri, pelanggan bisa tahu harga ikan terkini. Pesaing juga sudah menggunakan mobil, menyebabkan harga pokok lebih murah. Ia menyerah dengan medan persaingan seperti itu. 

Cerita ini artinya apa? Ikan asin tetap komoditas unggulan yang dibutuhkan. Namun, perlu strategi dagang yang canggih agar tidak tergilas jaman. 

Berapa Modal Yang Disiapkan? 
Besaran modal tergantung kantong Anda. Bisa sedikit bisa banyak. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, jika Anda mencoba peruntungan di bisnis ini. 

  • Siapkan wadah ikan asin, bila perlu belilah kulkas khusus ikan asin. Alat ini berfungsi untuk membuat ikan asin tidak busuk dan tidak turun bobotnya.
  • Bisa jualan di pasar tradisional atau berkeliling kampung-kampung.
  • Belilah kulakan, jangan timbang per kilo. Jatuhnya lebih mahal.

Cara Menentukan Harga Jual 
Menurut paman, ada dua cara menjual ikan asin. Pertama, harga jual grosir dengan kiloan. Kedua, harga jual retail dengan diecer baik per ons, prapatan atau bijian. Acuan untung yang diambil untuk grosir bisa 10-30%. Sedang untuk ecer, bisa 20-50% dari harga pokok produksi.
*** 

Prabu Nala & Permaisuri Dewi Damayanti [10]

Ilustrasi by Boyke Rustiaji
Sebelum matahari akan terbenam, Prabu Rituparna telah sampai di Widarba. Seluruh kuda kerajaan, gajah dan burung merak berbahagia akan kedatangan rombongan tersebut. Demikian juga dengan sang putri sangat bahagia, ia berpikir pastilah suaminya pun ikut datang. Namun yang dilihatnya hanya ada Prabu Rituparna, Wresnaya dan Bahuka.

Prabu Bima heran akan kedatangan Prabu Rituparna. Begitupun dengan Prabu Rituparna juga heran, dalam penyambutan tadi tidak pernah menyinggung soal sayembara pilih mantu. Lebih mengherankan lagi, tidak ada raja maupun ksatria lain yang datang ke Widarba. 

Setelah usai bercakap-cakap Prabu Rituparna dipersilahkan beristirahat di pesanggrahan, sedangkan Bahuka hanya tidur di kerata untuk melepas lelah. Kesal, kecewa, sedih dan heran menyeliputi pikiran Dewi Damayanti. 

Dia berpikir apakah Wresneya telah diajari ilmu katuranggan oleh Prabu Nala, atau sebagai raja besar Prabu Rituparna juga mengusai ilmu katuranggan seperti suaminya sehingga mereka bisa sampai di Widarba dalam waktu sehari. Atau mungkin Bahuka adalah samaran dari suaminya. Akhirnya Dewi Damayanti mencoba untuk menyelidiki dan mencari berita tentang suaminya tersebut.

Dewi Damayanti memanggil Dayang yang bernama Kesini. Dewi Damayanti menyuruh Kesini untuk bertanya dengan sopan tentang kusir Prabu Rituparna yang bernama Bahuka, serta membunyikan nyanyian seloka seperti yang Brahmana Parnada lakukan. Sedangkan Dewi Damayanti akan mengamatinya dari kejauhan. 

Setelah bertemu dengan Bahuka, Kesini pun melakukan semua perintah Dewi Damayanti. Prabu Nala yang menyamar menjadi Bahuka sangat miris hatinya. Setelah dia mendengar nyanyian seloka yang sama dengan yang dinyanyikan Brahmana Parnada, Bahuka pun juga menjawabnya dengan seloka nyanyian yang dulu pernah ia sampaikan kepada Brahmana Pranada.

Dihadapan Dewi Damayanti, Kesini menceritakan semua yang dia perbincangkan dengan Bahuka. Dewi Damayanti semakin yakin bahwa Bahuka merupakan samaran dari suaminya. Kemudian Dewi Damayanti menyuruh Kesini untuk mencatat segala tingkah laku Bahuka. Tanpa bertanya Kesini pun melaksanakannya. Setelah selesai mengamati dan mencatat gerak-gerik Bahuka, Kesini menceritakannya kepada Dewi Damayanti. 

Dia bercerita bahwa banyak keanehan yang dia lihat, seperti saat Bahuka berjalan dia tidak mau menundukkan kepalanya. Saat dia berjalan semua semak belukar yang menghadanginya menyingkir dengan sendirinya. Di samping itu, saat Bahuka memasak wajan dan panci tidak dia pegang sudah dapat bekerja dengan sendirinya. 

Mengetahui hal tersebut, Dewi Damayanti sangatlah yakin bahwa Bahuka adalah samaran dari suaminya. Kemudian Dewi Damayanti menyuruh Kesini untuk membawa kedua anaknya menemui Bahuka. Saat bertemu dengan Endrasena dan Endrasini, Bahuka menangis kegirangan sambil memeluk dan menciumi keduanya. 

Dia tidak dapat mengontrol emosi dan kebahagiannya sendiri. Bahuka bercerita kepada Kesini bahwa Ensrasena dan Endrasini mengingatkan dirinya akan kedua anaknya. Kemudian Bahuka menyuruh Kesini pergi karena ia orang luar dan tidak sepantasnya jika Kesini sering menemuinya.
**