Pantai Legenda Tirtamaya

pantai tirtamaya jaman dulu
Pantai Tirtamaya jaman dulu. Foto/Istimewa

Jaman saya kecil, tempat rekreasi favorit adalah ke Pantai Tirtamaya. Saya ke sana naik mobil colt bak. Mobil barang itu disulap jadi mobil angkutan membawa keluarga dan tetangga. 

Sebelum berangkat, ibu sudah menyiapkan makanan dan tikar. Kesan paling mendalam antaranya saat naik mobil. Saya dan teman-teman bernyanyi sepanjang jalan. Berlomba dengan suara angin. 

Hati saya sangat senang. Kesan berikutnya adalah saat berenang dan mencari 'yingking'. Tak pelak tubuh saya diselimuti pasir. Dari ujung kaki sampai rambut. Pantai Tirtamaya banyak dikunjungi orang pada hari minggu. Lebih-lebih pada hari raya. 

Namun, kali ini saya malah sebaliknya. Pantai legenda ini jadi biasa-biasa saja. Saya lebih suka plesiran ke luar kota. Bandung atau Jakarta. Jogja atau Bali. 

Bahkan, beberapa tetangga saya yang kaya. Ia liburan ke luar negeri. Ada yang ke Arab. Ada yang Jepang atau Korea. Hongkong atau Taiwan. Malaysia atau Singapura. 

Saya jadi mikir, selera orang Indramayu sekarang boleh juga ya. Gengsinya maksud saya.
***

Ora Paham Aturan, Kok Nyalon Bupati

pilkada indramayu 2020

Ilustrasi by Esensinews.com

Tahun 2020 Indramayu menggelar pilihan bupati. Sudah memanas dan hari-hari pertarungan itu makin dekat. 

Selentingan kabar dari obrolan warung wedang, setidaknya ada tiga pasangan calon bertarung habis-habisan nantinya. Habis pikir, habis tenaga, juga habis dompet. Satu dari calon independen, sisanya dari koalisi partai. 

Beberapa balon-balon yang tebar pesona terkesan nekad. Belum apa-apa ngotot pajang pose cengengesan. Tak disadari itu melanggar aturan. Melanggar hukum seperti lagunya Siti Badriah itu. 

Beberapa tokoh saya anggap biasa dan patuh aturan. Sebagian lagi agak kelewatan. Malah, teman saya Si Dadap berkomentar nyindir "tokoh ora paham aturan, kok nyalon bupati".

Siapa dia? Coba amati baliho-baliho yang dipasang. Dari tahun kemaren baliho ukuran mini banyak bertebaran. 

Foto ke-geer-an lengkap dengan jargon kampanye, diikat di tiang telepon, di tiang listrik, bahkan banyak yang dipaku di pepohonan.

Kesalahan balon-balon ini cukup fatal. Dia mengangkat dirinya menjadi Calon Bupati Indramayu 2020-2025. Saya setuju dengan pandangan Si Dadap, orang buta aturan kok mau jadi bupati.

Tidak perlu buka undang-undang, ataupun aturan di bawahnya, yang berhak menetapkan seseorang itu menjadi calon bupati, adalah KPUD. Tidak ada institusi lain di luar itu.

Saran saya kepada masyarakat Indramayu, orang yang tidak paham aturan macam begitu nggak usah digubris. Belum jadi bupati saja sudah menyalahi aturan. Kalau jadi? Tentu saja Indramayu akan konyol.

Sayang sekali, banyak tim sukses yang tidak tahu bagaimana membuat iklan politik yang taat aturan dan bisa menarik perhatian publik.

Tolong tarik saja baliho mini yang gumede itu. Sudah salah, menyatakan diri sebagai calon bupati, ditambah penempatan iklannya merusak estetika publik.

Selama masih berkeinginan menjadi bupati, tirulah cara kampanye elegan, tidak vulgar, tidak menyalahi aturan. Seperti yang dilakukan pesaing kalian itu.
***

[Cermis] Maryati - Setan Perayu

kreteg tanjan
Kreteg Tanjan. Foto/MP
Mata lelaki. Demikianlah argumennya. Meskipun istri cantik dan seksi di rumah, tetap saja mata melirik melihat perempuan bahenol di jalan. 

Persoalannya, tinggal rem itu blong atau pakem. Misal rem blong, jelas akan tabrak-tubruk. Apalagi si bahenol kasih sein tanda setuju. Motor pun diparkir demi menuruti darah berdesir. 

Beda yang rem pakem. Bisa mengendalikan diri, dituntun oleh iman dan kesalehan. 

Demikian pula dengan Oji. Ia termasuk lelaki yang rem blong. Bahkan, menganggap perempuan bahenol adalah suplemen vitamin. Seringkali cari perhatian dan tebar pesona sana-sini. 

Apalagi yang digodanya menjawab lewat ketipan mata setuju. Sudah pasti akan terjadi perilaku nyeleweng. 

Ia pun tanpa malu mengakui. Dirinya termasuk kelompok rem blong. Dengan bangga, katanya sudah banyak perempuan yang kena goda. 

Dasarnya suka sama suka, butuh sama butuh. Cuma sesaat, tidak sampai berlama-lama. "Aku itu ayam jago, di mana ada ayam babon kokokpetok ya aku tindihi". Pengakuan Si Oji.  

Namun, semuanya berubah setelah peristiwa yang terjadi pada malam Jum'at itu. 

Malam itu Oji perlu mengambil uang di ATM, besok subuh ia harus berangkat ke Cirebon. Mengurus klaim BPJS. 

Motor yang dikendarai nggak langsung pulang sehabis nongkrong. Puter arah langsung ke desa sebelah. 

Nggak lama, hujan turun. Gerimis tipis menemani perjalanan Oji. Dingin mulai masuk ke sumsum kulitnya. Ah nanggung. Pikir Oji. 

Melewati Jembatan Tanjan, Oji melihat seorang perempuan sedang duduk di buk jembatan. Payung putih menaungi tubuh berpakaian merah. 

Sempat Oji melirik. Sekilas tubuhnya bahenol, warna merahnya membuat hati berdesir. 

Kelihatan seperti menunggu jemputan. Dalam hati Oji sebenarnya ingin menawarkan tumpangan. Namun, ia juga kurang pede. Di kantong nggak ada duit sepeserpun. 

"Biarin lah, kalau nanti masih ada, itu rejekiku", otaknya mulai bermesum ria. 
"Barangkali rumahnya jauh, habis kehujanan nanti bisa minta dihangatin", selorohnya penuh keyakinan. 

Setelah ambil duit di ATM, ia pun bergegas menuju Jembatan Tanjan. Laju motor disetel balap melawan gerimis hujan di jalan yang sepi. 

Betapa senangnya saat ia melihat perempuan berpayung putih masih ada. Sedang berdiri. Gas pun di-langzam saat laju motor mulai mendekat. 

"Nunggu jemputan tah, yu?", tanya Oji memulai obrolan. 
"Iya, mas. Nggak datang-datang nih, padahal mamang janji jemput" 
"Oh, mau nunggu mamang. Emang lakinya kemana, kok yang jemput paman?" 
"Hihi, ih nanyanya gitu. Janda mas, maklum.", jawab perempuan itu sambil sesekali membungkuk, menabok nyamuk yang menggigit betisnya. 

Oji pun melirik betis yang mulus itu. Rok yang dipake hanya menutupi dengkul. Saat menabok nyamuk. Rok itu ketarik ke atas. 

Tak pelak Oji jadi menelan ludah. Sayang sekali kalau betis semulus itu gagal dibelainya. Pikir Oji mulai berfantasi. 

"Rumahnya di mana, yu? Kalau yayu berkenan aku siap mengantar", tawar Oji memulai jurus rayuan. 
"Beneran, mas. Rumahku lumayan jauh. Karangampel. Lagi gerimis pula" 
"Buat yayu yang cantik. Aku nggak ada kata keberatan. Bila perlu nganter ke leng belut yang licin juga mau, hehe" 
"Ah, mas. Aja ngrayu. Kalau diajak ke lubang belut asli. Basah loh. hihi", balas perempuan berpayung putih sambil lemparin senyum dan lirikan nakal. 
"Nggak, yu. Aku becanda. Karangampel kan masih dekat. Belum Cirebon" 

Perempuan itu mendekat. Saat sudah di belakang Oji. Payung pun dikatupkan. 

"Kok, payungnya ditutup?" 
"Rapapa, bareng-bareng kehujanan. Di rumah bisa langsung mandi. Mas bisa pakai kaos oblongku", sambil mencubit paha Oji. 
"Aw, sakit. Ih yayu mah" 

Mereka pun ketawa bareng. Basa-basi kaku di awal tadi kini sudah mencair. Sungguh malam yang indah, pikir Oji. 

Oji lantas menanyakan nama perempuan itu. Namanya Maryati. Begitulah jawabnya manja. Berbisik ke telinga Oji. Hangat napasnya. Harum bau tubuhnya menembus hidung. 

"Ah yang bener?" 
"Asli mas, nanti aku tunjukin KTP elektrik" 
"Lupain, nok" 
"Tadi mas bilang apa, ulangi lagi mas. Indah didengar oleh telingaku mas" 
"Lupain, nooook" 
"Aku kok, seperti muda lagi dipanggil dengan sebutan nok oleh mas" 

Oji makin berani mendengar jawaban Maryati. Tangannya turun membelai paha. Sementara itu motor mulai melaju kencang. 

Tanpa penolakan dari Maryati. Sesaat dua sejoli itu hening. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Yang jelas Oji pikirannya sudah nggak keruan. 

"Bukannya enak punya suami, nok. Kok milih jadi janda?", tanya Oji memecah kebisuan. 
"Biasa mas, KDRT. Males. Mending janda, iya kan?" 
"Oh. Itu betul. Lelaki kasar nggak usah dipertahanin". 
"Bukan mas, maksud KDRT itu, kurang duit ribut terus. Hhahahha" 

Tawa mereka pecah dalam hujan yang semakin deras. Oji menggigil. Maryati mengetahui hal itu. Didekaplah tubuh Oji. 

Tubuh Oji terasa lebih hangat. Darahnya berdesir. Napsunya membuncah. Menahan birahi. Sampai-sampai ia tak tahan. Ingin rasanya segera berhenti. 

"Mas, itu pohon besar di depan pelan-pelan. Rumah aku di dekat situ", bisik Maryati pelan sambil tangannya mendekap lebih erat. 

Dekapan tangan itu terasa dingin. Tubuh Oji merinding. Untung rumah Maryati sudah dekat. Ia tadi ingin berhenti di toang sepi. Nggak bisa kebendung lagi hasratnya. 

Setelah masuk rumah. Lampu dinyalain. Maryati menggoda. "Aku mandi dulu ya, atau kita sama-sama". 

Lalu terjadilah pergumulan panas sejoli yang tadi didera dinginnya air hujan. Tak henti-henti. Sampai-sampai dengkul Oji terasa copot. 

Sebuah mobil mogok didorong dari arah Desa Gadingan. Dicobanya berulang kali. Mesin tak ada tanda mau hidup. 

Saat penumpang mobil mendorong. Mereka melihat keanehan di sebuah buk Jembatan Tanjan. Ada seorang pemuda telanjang. 

Tangannya menumpu waton buk. Matanya terpejam. Kakinya mengangkang. Pinggangnya maju-mundur. Tak henti-henti. 

Seorang penumpang menjerit dan lainnya terheran-heran. Orang yang melakukan hal aneh itu adalah Oji. 

Penumpang awalnya mengira itu orang gila. Namun, sopir langsung turun dari mobil dan menghampiri. Dicubitnya Oji keras-keras. 

Bangun. Ayo bangun. Hujan begini kok tidur telanjang. Ayo bangun. Dicubit nggak mempan, ditaboklah bokong yang bergoyang-goyang itu. 

Eh, bukannya bangun. Malah keasyikan meneruskan maju-mundur. Sopir pun mulai komat-kamit. Merapal mantra. Menyadarkan Oji yang sedang berada di alam lain. 

Segera Oji tersadar. Matanya terbuka. Tubuhnya lemas. Jatuh terduduk di aspal. Badan terasa remuk. 

Ia heran bukan kepalang. Dikelilingi orang-orang. Apa yang terjadi? Ia mulai menerka-nerka. Sadar tubuhnya tanpa busana. Segera ia ambil celana dan baju di stang motor. 

Seorang penumpang menyodorkan air mineral. Oji langsung meneguknya. Dengan terbata-bata ia menjelaskan apa yang telah dialaminya. Sejak perjumpaan dengan perempuan berpayung putih. 

Selesai menceritakan. Oji undur pamit. Dan tak lupa berterimakasih. Sementara itu sopir mencoba menyalakan mobil. Anehnya mesin langsung nyala. 

Semua penumpang naik. Pergi meninggalkan Jembatan Tanjan yang misterius itu. 
***

Berapa Lama Pembayaran Google Adsense via Transfer Rekening?

adsense
Ilustrasi. Foto/Meneer Pangky

Hai blogger, kali ini saya mau bercerita tentang pengalaman pembayaran adsense via wire transfer. Langsung masuk rekening bank.

Sejak jadi mitra adsense tahun 2016 dan bisa payout pertama dua tahun berikutnya. Saya hanya pakai wire transfer.

Banyak ulasan yang menyatakan bahwa saldonya terpotong. Kok beda ya dengan saya. Tanpa potongan sepeserpun.

Untuk menggunakan metode setting cara pembayaran ini, teman blogger atau vlogger bisa cari infonya via searching. Saya tidak jabarkan tentang prosesnya. Lumayan cepet kok proses verifikasinya.

Bank yang saya gunakan adalah BRI. Sebelum verifikasi berhasil, pihak GA akan men-transfer sejumlah uang untuk validasi. Cukup itu saja.

Selanjutnya tinggal duduk manis, bagi hasil iklan akan masuk sendiri ke rekening pada tanggal 21-26/bulan.

Berapa lama proses transfer uangnya?

Pemberitahuan proses pembayaran akan masuk via e-mail. Biasanya tanggal 21-22. Setelah ada inbok cobalah cek akun adsense. Nilai saldonya pasti nol.

Rerata butuh waktu paling cepet 12 jam setelah pembayaran diproses. Misalnya, surat cinta GA masuk pukul 00.40 tanggal 22. 

Bisa dicek 12 jam kemudian. Pukul 12.40 siang biasanya sudah masuk rekening. Tanpa potongan jasa dan biaya administrasi. 
transfer rekening adsense
Rekening koran BRI. SS/Meneer Pangky

Bulan ini misalnya, saya dapat bagi hasil iklan dengan GA sebesar IDR 2.539.124. Transfer-an ke rekening ya sama.

Oke, demikian informasi terkait pembayaran GA langsung ke bank, yang bisa saya bagi. Pendapat pribadi, pembayaran cara ini paling mudah dan tanpa ribet. No potongan pula.

Semoga informasinya bermanfaat, para mitra GA!
***

[Pilbup] Iklan-iklan Politik

Ilustasi. Foto/Istimewa

Rakyat Indramayu sebentar lagi akan hajatan demokrasi. Pilbup 2020. Iklan-iklan politik sudah ramai di ruang publik. Pinggir jalan, tiang listrik dan telepon, depan gedung sampai-sampai di kuburan pun ada.


Bukan saja di dunia offline, online pun ramai, iklan-iklan tersebut didagang oleh tim suksesnya.


Pasang iklan beginian, biayanya jangan anggap remeh. Bisa tembus ratusan hingga milyaran rupiah. Eman-eman jika nggak ada dampak bagi pemasangnya.


Lebih-lebih bilamana iklan politik yang dibuat tidak meaningful. Nggak ada pesan di dalam-nya. Tanpa makna. Apalagi menggunakan kata-kata yang dibuat umum. Sasarannya nggak ngena, pembacanya pun tidak akan membicarakannya.


Tulisan ini tidak akan membahas iklan-iklan pilbup Indramayu tahun 2020. Saya mau bertolak ke gelaran pilbup sebelumnya. Pilbup 2015. HATI versus TORA.


Pertama, iklan-iklan dari HATI. Iklan-iklan dari kubu ini cukup konsisten dengan jargon yang mereka dagangkan. Yakni, Indramayu Remaja. Selebihnya tidak ada yang khusus. Apalagi beda dan menarik.





Selanjutnya iklan-iklan dari TORA. Kubu ini jualannya adalah Indramayu Bangkit. Lumayan konsisten dengan slogan gerakan perubahan. Selain jargon tersebut kubu ini mendagangkan "anti dinasti politik".





Dulu, saya berharap ada iklan yang inspiratif, beda dan menarik di tengah iklan-iklan biasa yang cenderung asal-asalan dibuat.

***


Tubitv.com, Aplikasi Gratis Nonton Streaming Legal

Tangkapan layar Tubi

Apa itu Tubi?

Tubi adalah layanan streaming gratis dengan koleksi film dan acara TV yang lumayan komplit. Tubi adalah layanan nonton online gratis berbasis iklan. Banyak orang yang tidak tahu, terutama setelah Fox membelinya seharga $ 440 juta.

Tubi menawarkan lebih dari 20.000 acara TV dan film lawas untuk ditonton secara gratis. Tubi menyimpan konten dari studio Paramount, MGM dan Lionsgate dan jaringan termasuk A&E, Lifetime dan Starz.

Perusahaan ini mengklaim memiliki 25 juta pemirsa aktif bulanan yang menghabiskan lebih dari 160 juta jam per bulan untuk menonton konten di layanannya. 

Sekilas Tentang Tubi

Tubi adalah layanan streaming video, tidak seperti Netflix, Hulu, Amazon Prime Video dan lainnya. Acara TV dan film bisa Anda tonton lewat ponsel, PC, maupun perangkat streaming lainnya tanpa biaya.

Apakah Bayar?

Ya, Tubi gratis. Tidak bohong. Terdengar klise, pada saat yang sama kita gundah dengan kasus pembajakan dan hak cipta. Tubi datang dengan biaya gratis dan legal. Menonton di Tubi adalah legal.

Tubi mengandalkan pemasukan dari iklan. Perusahaan ini mencoba menarik penonton untuk mencoba layanannya. Bedanya Tubi dengan YouTube, iklannya tidak bisa dilewati. Skip.

TV dan film Tubi

Ukuran perpustakaan Tubi lebih dari 20.000 film dan acara televisi secara mengejutkan besar untuk layanan yang belum mencapai status arus utama seperti Netflix dan Hulu.

Tubi mampu mengumpulkan banyak konten dengan bermitra dengan lebih dari 250 penyedia, termasuk Hollywood kelas berat Paramount, Lionsgate dan MGM. Anda juga akan menemukan pemrograman dari A&E, Complex Networks, dan lainnya.

Tubi menawarkan koleksi yang berbeda. Akan memberi Anda wawasan tentang film-film yang terkenal dan memenangkan ajang piala sinema.

Juga, akan menemukan kategori acara TV "klasik", anime, dan program yang ramah anak-anak.

Ulasan Tubi

Tubi mendapat ulasan positif di CordCutting, yang memberi nilai tinggi untuk antarmuka dan kategori bagus. Situs ini mencatat bahwa meskipun perpustakaan Tubi terbatas, dibandingkan dengan layanan serupa seperti Netflix, namun sangat lengkap dan gratis. Lifewire juga merekomendasikan layanan ini, dengan memperhatikan seberapa pendek jeda iklannya.

Aplikasi Tubi

Tubi menawarkan banyak opsi untuk mendapatkan layanan ke TV Anda, termasuk aplikasi di Roku, Amazon Fire TV, dan Chromecast . Tubi juga tersedia di PS4 dan Xbox One. Dan jika Anda pengguna Comcast Xfinity atau Tivo, Anda juga akan menemukan aplikasi Tubi di platform tersebut.

Tubi juga tersedia melalui browser web di tubitv.com . Jadi, jika Anda ingin menontonnya dari laptop dan komputer, pergilah ke sana dan Anda akan menemukan semua konten yang diinginkan.

Di sisi seluler, Anda akan menemukan Tubi tersedia di App Store Apple dan Google Playstore, sehingga Anda dapat mengaksesnya di hampir semua perangkat iPhone atau Android.

Kelemahan Tubi

Jika Anda tertarik dengan Tubi, Anda mungkin bertanya-tanya apa yang tidak akan Anda dapatkan dari layanan ini. Pertama, Tubi kurang menyediakan konten baru yang sedang tren. Apa yang akan Anda temukan di sini adalah perpustakaan media yang bagus, tetapi belum tentu banyak pertunjukan dan film baru.

Jika Anda ingin menonton film dan acara televisi yang lebih lawas, Tubi mungkin merupakan tempat yang tepat untuk memulai. Gratis dan memiliki banyak TV show dan film.

Jika Anda adalah seseorang yang hanya menikmati konten dan Anda tidak perlu memiliki acara atau film tertentu yang harus Anda tonton, Anda dapat bersenang-senang di aplikasi ini. Namun, jika mencari konten baru dan populer, aplikasi ini bukan untuk Anda.
***

Aku Jatuh Cinta Lagi

Sematan status facebook di bawah, kutulis khusus untuk menyambut kedatangan putra kami ke dunia ini. Namanya Prahasta Pembarep Suidno. Ia sebenarnya anak ketiga kami. 
Sayang, kakak-kakaknya harus abortus. Tiga mingu yang lalu ia baru saja puputan. Tali pusarnya putus. 

Emak-nya sewaktu hamil beratnya nambah 15 kg tapi Prahas terlahir dengan berat cuma 2,1 kg. Kagak nyampe seperdelapan kenaikan berat emaknya. Ajaib? 

Berat bayi rendah lahir atau BBLR menurut bidan disebabkan tersumbatnya suplai makanan di ketuban. Dijelasin babibu sama bidan yang menanganinya. Aku mah angguk-angguk aja. Asli dah ngerti juga kagak. 

Awalnya kukira disebabkan jatah makannya diambil oleh dua sedulur-nya yang belum sempat lahir itu. Saban malam sewaktu jadi suami siaga, emaknya sering halusinasi. Ada kuntilanak lah, ada setan lah. 

Kelahiran putra kami, alhamdulillah normal. Seminggu sebelum kelahiran, emaknya cek kandungan di rumah sakit. Hasil diagnosisnya bisa normal. Nggak usah induksi atau cesar. Disuruh pulang, nunggu sampe mules. 

Aku, ayahnya mengharapkan persalinan normal. Persis orangtua-orangtua jaman dulu 100% persalinan normal. Aku heran aja, sebagian besar teman-temanku, persalinannya cesar. Rumah sakit dan dokter sedang kejar setoran mungkin. 

Aku nggak mau tahu dan bodo amat. Itu kan urusan mereka. Lagian juga yang mau dibahas soal Prahas lahir. Soal masalah putraku lahir. 

Emaknya waktu masuk ke ruang persalinan di gedung Poned Puskesmas Sliyeg, perawat yang jaga bilang, keluarga yang ikut mengantar pulang aja. Musim covid-19, mas. 

Adat dermayu emang gitu, sanak saudara suka ngumpul. Aku udah nebak, bakalan rame. Meski nggak bilang-bilang, tetep aja pada datang. Aku nggak mau ngrepotin orang lain. 

Sedikit nggak enak, aku malah nyuruh balik perawatnya. Dia aja yang bilangin langsung. Setelah pulang semua, aku persis hanya ditemani Burhan, sobatku. 

Selang beberapa waktu, silih berganti saudara menjenguk. Ada paman, ortu dan adek. Kantuk mulai terasa. Aku rebahin kepala di waton ranjang pasien. 

"Kapan jeh jebrole?" 

Aduh! Kaget! Tiba-tiba ibu datang dan duduk di sebelah. Beliau langsung pijitin istriku yang mengerang sakit. Aku pamit laper. Minta gantian nungguin. Masih lama baru pembukaan empat. 

Aku dan Burhan lalu cari makan. Suasana sepi sekali jalanan. Malam Jum'at dan mencekam pandemi coronavirus. 

Selesai cari makan, aku masuk ke ruang persalinan. Emaknya mulai sering menjerit keras. Kesakitan. Aku bangunin perawat yang jaga. 

Setelah menangani, ia menyuruh untuk panggil bidan. Bilang aja udah kroning. Apaan tuh kroning?

Aduh paramedis memang bikin pusing. Tulisannya nggak kebaca, istilah-istilah yang dipakai juga hanya dimonopoli mereka. 

Aku mulai nggak tega, mendengar jerit sakit istri. Makin menjadi. Aku hanya bisa megangin tangannya. Memegang erat. 

Setengah jam mengejan. Anakku lahir. Mata berkaca-kaca, melihat tangisnya. Aku menoleh pandang. Emaknya tersenyum sedan, bahagia. 

Prahas dibersihin, disuntik, diberi antibiotik lalu di-bedong. Dengan suara lirih aku peluk. Aku dekatkan bibir ke telinganya. Kukumandangkan azan. 

Aku memandang wajah tak berdosa itu lekat-lekat. Sema datang melihat. 

"Mirip pisan kaya bapane" komentar Sema. 

Dengan hati berbunga-bunga aku pergi ke istri sambil membawa Prahas. Istri tersenyum berkaca-kaca melihat darah daging yang baru dilahirkannya. 

Pastilah ia terharu banget, namanya juga anak pertama. Predikat emak sudah boleh disandangnya sekarang. Telah dipercaya oleh Tuhan memelihara anak. 

Dambaan semua perempuan normal di dunia. Lebih-lebih, kami dua kali gagal maning-gagal maning, son. 

Tiba-tiba emaknya terpaku sambil melihat ke Prahas. Bayi ini begitu tampan dan mungil. Senyumnya begitu menawan. Senyum yang jauh lebih indah daripada senyum Monalisa. 

Ia terlihat manis sekali. Membuat aku menyesal mengapa tidak punya anak sewaktu saya berusia 18 tahun? Biar bisa berteman. 

Dalam kebahagiaan itu, dadaku sesak. Saat bidan bilang Prahas perlu perawatan ekstra. Ia terlahir BBLR. Harus minum susu formula khusus. Ia juga harus disenter lampu. Agar suhunya stabil. 

Mungkin bila lahir di rumah sakit, anakku akan masuk inkubator. Singkatnya, anakku nggak baik-baik amat kondisinya. Lumayan bikin stress. 

Coba googling, makin kalut. Infonya yang aku dapat. Aku takut, anakku mirip anak busung lapar di Afrika. 

Umur seminggu, aku dan emaknya mulai mencurigai hal aneh. Kulitnya mlepuh. Mirip cacar. 

Maklum anak semata wayang, perhatian orangtuanya pastilah berlebihan. Kita bawa Prahas ke Dokter Anak. Itulah pertama kali ia naik motor. 

Gimana lagi? Sebenarnya nggak tega. Naik mobil nggak punya. Pinjam atau sewa ada ongkosnya. 

Di situ aku sebagai ayahnya sedih. Punya anak itu bebannya berat. Energi terkuras. Duit juga harus ready. Apalagi anak kita perlu perlakuan khusus. 

Dokter menyarankan jangan dimandiin. Ngurus anak BBLR itu kudu intens. Higienis. Yang bikin terharu pas Prahas bisa diajak kerjasama. 

Ia diam nggak banyak tingkah. Sewaktu diperiksa dokter. Lain sisi, aku sedih. Sebagai ortu nggak bisa berbuat banyak untuk melindunginya. 

Aku gendong. Prahas menatap dengan sayu. Teriris hatiku. Sebulan ini, aku siaga di rumah. Otomatis sumber pendapatan pun berkurang. Rutinitasku itu-itu aja. 

Malam adalah shift ayahnya. Mencuci, mandi/bilas sore. Dan terakhir nyiapin air hangat untuk mandi emaknya. Its my responsibility

Dulu, ketika hamil aku sering bilang ke emaknya. Becandain. Kalo nggak ada mirip-miripnya denganku, bukan anakku. Emaknya langsung ingut-ingutan. 

Sekarang, setiap kali melihatnya semakin kuat perasaan itu. Prahas adalah fotocopy diriku. Apalagi ketika seorang temen pernah terkekeh-kekeh melihat Prahas sambil berkata. 

“Huahahahaha mirip banget karo sira neer. Tinggal kasih kumis tipis pake spidol item, jadi deh mirip si kembar.” 

Sementara yang lainnya ngomong, “Masya Allah, cara senyumnya sama banget sama bapaknya..!!” 

Hari ganti hari. Makannya mulai lahap. Minum susunya semakin kuat. Badannya juga mulai berisi. Dan yang paling membahagiakan adalah ketika Prahas mulai merespon saat dikudang. 

Banyak hal baru yang kami temukan dalam membesarkan Prahas. Aku masih menunggu dipanggil ayah, bapak, papah, atau mama oleh Prahas. 

Dulu, panggilan itu biasa saja bagiku. Tapi, aku menunggu panggilan itu darinya. Bisa jadi aku akan berkaca-kaca matanya saat dipangil kata itu. Panggilan indah itu. Aku menunggu. 

Hidupku makin sempurna. Segala penat, utang, masa depan yang tidak pasti terasa lebih ringan. 

Aku menunggu Prahas senyum menggoda. Lalu memanggilku. "Ayaaaaaaaaah, sini ayah, kita main yuk". Ayah mana hatinya tidak bergetar dengan ajakan smesra itu. 
***

Pesan Moral dalam Lagu Tarling Sumpah Suci

Tahu nggak lagu sumpah suci yang diciptakan Abdul Ajib? Kalo belum tahu, coba segera cari di YouTube. Baca artikelnya nanti saja. Dengerin aja dulu.

Gimana udah ketemu? Gimana lagunya? Bagi yang nggak tahu saya bisa maklumi. Lagu ini cukup lawas. Sekitar tahun 1980-an.

Bisa nangkep pesannya nggak? Syairnya lumayan bagus. Pesan moralnya juga keren. Lagu ini lumayan sempurna memotret keadaan sosial pada saat itu.

Berkisah tentang seorang gadis yang dijodohkan orangtuanya. Ia sendiri menolak. Nggak mau. Ia berani bersumpah. Lebih baik jadi prawan sunti.

Prawan sunti adalah gadis melajang seumur hidup. Si gadis dalam lagu tersebut lebih memilih bersuami pria berpendidikan, teman sekolahnya meski mlarat.

Si gadis lebih suka sekolah. Ketimbang buru-buru kawin. Ini potret fenomena pada masa itu. Anak perempuan harus segera menikah.

Apalagi jika calon laki adalah orang kaya. Orangtua pasti setuju. Demi kepastian ekonomi anaknya di masa depan.

Anaknya yang mengenyam pendidikan, memiliki pandangan yang berbeda. Harta bisa dicari. Harta warisan yang nggak dikelola dengan baik bisa habis.

Si gadis selalu mengenang betapa manis dan indahnya masa-masa sekolah. Tentang kisah kasihnya di sekolah, seperti dua sejoli burung ketilang. Hehehe.

Oh iya, jika Anda seperti si gadis dalam lagu sumpah suci? Apa yang Anda pilih? Lanjut sekolah atau menikah?
***

[Sinopsis] Crazy Rich Asians | 2018

Saya jatuh cinta dengan film ini. Pesan moralnya tinggi banget. Saya sebagai laki-laki mengakui. Penghasilan adalah ego terbesar laki-laki, patriarkis. Penghasilan suami harus lebih besar.
Poster/IMDB
Namun saat keadaan berbalik, they are playing victim. Seolah-olah perempuan sedang menandingi dirinya, lalu menyalahkan perempuan yang egois dan tidak pengertian.

Hanya fokus pada dirinya sendiri dan seakan-akan mendominasi dalam hubungan. Itu sebabnya Michael mulai mencari-cari alasan supaya egonya tidak terluka.

Selingkuh menjadi salah satu caranya. Ia salah pilih jalan. Padahal kurang apa si Astrid?

Ia tetap menjadi ibu, merawat suami, bahkan menyembunyikan perhiasannya yang super mahal hanya demi menjaga martabat suaminya.

Demen banget pada karakter perempuan yang kuat dan mandiri. Tidak memaksakan untuk tetap bertahan pada suaminya yang toxic.

Dipaksa pun tidak akan ada yang berubah. Astrid tetap akan terjebak di toxic relationship. Tapi tidak menyayangi dirinya sendiri. Its so sad.

Singkatnya, disarankan meski sudah menikah perempuan agar tetap punya penghasilan. Mengantisipasi seandainya hubungannya menjadi toxic dan abusive.

Ia bisa memilih jalan hidupnya sendiri, tanpa terpenjara dalam rumah tangga yang seperti neraka.
***

Cakra Udaksana Wiralodra dan Pageblug Korona

Kirab Pusaka Indramayu. Arsip by R. Inu Danubaya
Wabah penyakit Coronavirus Disease (COVID-19) telah masuk ke Indonesia. Per 12 April 2020, pemerintah menyatakan sudah ada 3842 orang positif. 286 orang sembuh dan 327 orang meninggal. 

Wabah penyakit yang berasal dari Wuhan di Tiongkok ini telah menyebar ke penjuru dunia, menjadikannya pandemi tanpa diketahui apa obatnya. 

Sementara itu, kemaren viral diskusi adan pitu yang berhubungan untuk mengusir pageblug. Ritual ini berdasarkan Babad Cerbon episode cerita Menjangan Wulung. 

Peristiwa pageblug bagi masyarakat Jawa dimaknai punya hubungan secara magis dengan bencana alam, wabah penyakit, paceklik dan huru-hara. Tidak hanya Cirebon yang punya adan pitu, di Indramayu juga ada common sense demikian. 

Pada tahun 2012, saya sendiri pernah bertanya kepada H. Dasuki, fungsi kirab pusaka yang diselenggarakan saban tahun menjelang hari jadi Kota Indramayu. 

Beliau menjawab khidmat bahwa ini pesan leluhur dan supranatural. Menurut beliau meyakinkan fakta setelah Pusaka Cakra dikirab, konflik horizontal tawuran antar desa hilang di Indramayu pada awal dekade tahun 2000-an. 

Pusaka Sakti Mandraguna 

Hal senada juga diceritakan oleh Raden Inu Danubaya, turun Wiralodra ke-12. Bahwa kirab pusaka juga pernah dilaksanakan pada tahun 1972. Meskipun hanya keliling wilayah kota. Tidak ke pelosok Indramayu. 

Selanjutnya, saya pun menyaksikan sendiri wong reang mengerumuni Cakra Udaksana di Desa Centigi. Macam-macam motif mereka. Diraupkan kepada anak sakit dan gadis atau jaka yang susah jodoh. 

Tidak semua pusaka dianggap bisa mengusir pageblug. Hanya pusaka tertentu yang sakti mandraguna. Bagi wong Jawa, alam punya cara menyeimbangkan tata kehidupan. Itu yang saya tangkap saat mempelajari kaum abangan, ajaran kejawen yang ada di Indramayu. 

Gangguan-gangguan bencana alam, wabah penyakit dan paceklik yang terjadi diseimbangkan oleh pancaran singkir dan perbawa pusaka yang dipercaya memiliki kekuatan magis tersebut. 

Pusaka dengan kemampuan menangkal bencana bukan hanya dimiliki kaum bangsawan saja, namun ada pula yang dimiliki tokoh masyarakat di desa. 

Keturunan Buyut Tasem di desa Tugu Kidul Kecamatan Sliyeg punya ritual khusus menurunkan hujan. Berbentuk pusaka angklung dan puja-puji do'a jawokan. Konon, angklung tersebut adalah peninggalan Ki Buyut Tasem. 

Ternyata fenomena pusaka sebagai obat pageblug tidak hanya di monopoli budaya Jawa. Di Bugis juga ada. 

Setiap pusaka yang dimiliki orang Bugis akan diberi passingkerru sumange atau tali ikatan semangat yang dibuat berdasarkan sistem pengetahuan dan kepercayaan kuno Bugis. 

Saya pribadi sih, ana ngandel kurang percaya. Saya lebih suka melihatnya sebagai fenomena budaya. Lantas, apakah Cakra Udaksana Raden Wiralodra bisa menanggulangi wabah korona?
*** 
Meneer Pangky, Pengamat Budaya Amatir.