Mendapatkan Ide Bisnis lewat ATM


Dalam beberapa kesempatan setiap bertemu teman maupun kenalan, seringkali ditanyai soal yang sama. Terutama mereka yang belum punya bisnis atau usaha. Bagaimana sih caranya bisa menemukan ide bisnis? Mencarinya dimana?

Contohnya, ada yang menanyakan seperti ini “Bisnis apa ya yang cocok untukku?” atau “Aku ingin buka usaha, tapi masih bingung?”. Selalu saja pertanyaan muter-muter itu saja.

Dan setiap kali ada pertanyaan tersebut, aku selalu menjawab sama. Semua jenis usaha bagus semua. Lalu, responnya selalu sama. Muka bingung polos, ingin mendengarkan lanjutannya. Ya ... dong semua jenis usaha bagus semua. Buktinya, mereka bisa meraup untung.

Masalahnya hanya satu, rata-rata ingin cepat kaya dalam waktu singkat. Kita iri dan dengki melihat usaha teman atau saudara berhasil. Padahal kita nggak tahu dan tak mau tahu, beratnya perjuangan yang ditempuh sewaktu baru memulai bisnisnya itu.

Bisnis itu butuh proses. Kalo mau kaya dalam waktu singkat, ya ikut lotre atau pesugihan saja. Nggak usah berbisnis. Atau jalan terakhir, menikah dengan janda/duda tua yang kaya raya. Ia meninggal, dapat warisan.

Sebenarnya, ngomongin soal ide bisnis. Ada persoalan yang juga sama pentingnya selain menemukan ide bisnisnya. Apa itu? Jawabannya, soal eksekusi bisnis. Eksekusi bisnis itu ada dua. Pertama, soal modal. Kedua, soal bagaimana memasarkan produk bisnisnya?
**

Ide itu Mahal
Balik lagi pada soal bagaimana mendapatkan ide bisnis. Soal eksekusi bisnis, lain kali saja membahasnya. Bicara ide bisnis, ada yang mengatakan bahwa ide bisnis itu murah, yang mahal adalah eksekusi bisnisnya. Aku pribadi, sangat tidak setuju dengan pendapat ini.

Meski dalam tataran permukaan memang terlihat seperti itu. Sesungguhnya antara ide bisnis dan eksekusi bisnis, semuanya sama-sama mahal. Makanya, menjadi seorang pebisnis itu tidak mudah, tidak semua orang bisa. Kalo mudah semua orang pasti berbisnis.

Ide itu mahal. Dalam statistik diketahui hanya ada 2% saja di dunia ini populasi orang-orang kreatif. Artinya, dalam 100 orang yang ada dalam suatu tempat, hanya ada dua orang saja yang kreatif. Sedangkan, orang kreatif adalah orang yang diberikan kelebihan dalam menemukan sebuah ide-ide.

Oleh karena itu, ide itu susah. Bahkan, saking susahnya ada loh perusahaan yang sengaja menawarkan jasa ini kepada klien-kliennya. Jadi, sepakat kan ide itu tidak murah. Demikian pun dengan eksekusinya?

Soal ide, saranku lebih berhati-hati saja. Maksudnya hati-hati dalam mengutarakan sebuah ide. Sebab sangat rentan untuk dicuri. Apalagi berhadapan dengan orang-orang ahli dan yang mampu mengeksekusi. 

Mau bukti? Pernah nggak lihat acara master chef di TV, hanya dengan melihat dan mencicipinya seorang koki bisa dengan gampang menduplikasikan menu masakan tersebut. Makanya, Mr. Crab tidak pernah memberitahukan resep krabby patty-nya kepada Mr. Patrick, bahkan untuk mencobanya pun nggak boleh.

Ide untuk bisnis itu mahal! Terakhir ingatlah, ide itu terkait visi, peramalan (forecasting) dan eksekusi. Karena itulah kemudian ada berbagai penghargaan untuk ide cemerlang yang berhasil dieksekusi. Salah satunya di tingkat dunia adalah Nobel. Jadi, kalian paham kan kenapa aku mengingatkan untuk menjaga kerahasiaan ide dan jangan gampang dibagi-bagi begitu saja?
**

Konsep ATM
Bagiku, heran saja kalo di jaman era teknologi informasi seperti ini masih saja bingung untuk mendapatkan sebuah ide bisnis. Ya karena ini jaman melimpahnya informasi. Isitilahnya adalah information overload, dimana informasi dibuka selebar-lebarnya, segala macam bentuk informasi tersedia.

Nah, karena sudah tersedia tinggal kita mau apa nggak? Mau buka mata dan buka telinga lebar-lebar. Tapi, tidak sekedar itu saja. Harus juga didukung dengan membuka pikiran dan hati. Tanpa pernah membuka pikiran dan hati ya hanya bualan saja. Omong kosong.

Pikiran dan hati itu penting karena akan mengubah pola pikir kita. Tanpa pola pikir yang berubah ini bahaya. Karena akan memunculkan apa yang disebut mental blocking? Mental blocking inilah yang menjadi penghalang besar seorang calon pebisnis untuk maju dan berkembang.

Ada konsep sederhana dalam membuka sebuah bisnis starting up. Sesederhana apa sih konsepnya? Ya sangat sederhana, yakni konsep ATM. Tapi, awas loh ya bukan ATM—tempat menarik uang. ATM disini adalah singkatan dari amati, tiru, dan modifikasi.

Pertama kali, kita amati lingkungan di sekeliling kita. Cari tempat tumbuh dan berkembangnya usaha. Terserah. Intinya, dimana ada tempat tumbuh dan berkembangnya usaha, ya layak untuk kita datangi.

Dari sekian banyak jenis usaha, kita tiru satu jenis usaha yang paling pas dengan kemampuan yang kita kuasai. Langkah terakhir, modifikasilah jenis usaha tadi sesuai dengan keperluan dan kekuatan yang kita miliki.

Konsep sederhananya adalah dapatkan ide bisnis yang sesuai dengan passion kita. Jangan mengada-ada. Sebab, banyak yang tak sesuai passion akhirnya malah gulung tikar, hanya sanggup bertahan seumur jagung. Loyo, nggak tahan lama. Mengapa sih passion itu penting? Karena passion itu sesuatu yang sangat kita sukai, sesuatu yang bisa kita lakukan berjam-jam tanpa kita merasa capek.

Kita suka mancing, misalnya. Mengapa nggak buka usaha kolam pemancingan aja. Misalnya kita suka nyanyi, mengapa nggak buka usaha showbiz aja? Kita suka masak, mengapa nggak buka usaha catering aja? Dan yang lainnya.

Tentu, tidak cukup sampai disitu saja. Ada satu hal yang harus jadi pertimbangan akhir. Apa itu? Yang paling penting adalah pasar. Pasar ini terkait peluang. Buat apa coba membuka bisnis yang ternyata calon pembelinya tidak ada. Masa harus membuka pasar terlebih dahulu, rugi waktu kita!

Kalo sudah menemukan ide bisnisnya, ya jangan sekali-kali usaha bisnisnya tanpa nama, tanpa merek. Udah nggak jaman, ketinggalan! Kalo bingung dengan brand dan cara branding-nya, kita bisa bekerjasama, hai para calon pengusaha!
***
Meneer Panqi
Penulis, pemerhati budaya, dan konsultan media kreatif. Founder ME Trip. Banyak bekerjasama dalam dunia branding, design, dan media sosial.

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon