Perjuangan Kartini dan Kritik terhadap Dirinya

Kartini dan Kritik Kepadanya. Foto/Tribunnews
Raden Adjeng Kartini sering berkorespondensi dengan aktivist feminis di Eropa. Salah satu yang banyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran ia adalah buku roman "Hilda van Suylenburg". Buku tersebut hadiah dari teman korespondensinya, yakni Stella Zeehandelaar.

Stella terenyuh dengan kegelisahan yang dihadapi oleh Kartini lewat surat yang dikirimkan kepadanya. Stella ini seorang aktivist feminis beraliran sosialis. Ia iba dengan nasib perempuan-perempuan Jawa yang tidak bisa mendapatkan pendidikan. Seperti apa yang diceritakan dalam surat-suratnya.

Namun, dukungan itu berbalik kritik tajam. Persahabatan mereka terganggu saat Kartini memutuskan menjadi selir Bupati Rembang. Kartini plin-plan dalam idealismenya mengangkat perempuan Jawa.

Stella mengungkapkan kekecewaan mendalam bagaimana mungkin Kartini bisa mewujudkan impiannya sedangkan pada saat yang sama, ia tak bisa menolak permintaan ayahnya untuk dinikahkan dengan Bupati Rembang. Bahkan, ia dijadikan sebagai selir keempatnya.

Ini keputusan yang aneh menurut Stella. Ia memang berharap Kartini melanjutkan pendidikan di negeri Belanda. Berulangkali membujuknya tetapi gagal.
***

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon