Kebebasan Pak Yance


Sebagai orang yang taat hukum, Pak Yance memberikan teladan kepada kita semua. Saat beberapa politisi kena kasus melarikan diri, ia dengan patuh menyerahkan diri segera usai keluar putusan kasasi. Putusan peradilannya pun berubah-ubah. Tingkat pertama, bebas. Lalu, kalah pada tingkat kasasi.
**
Kasus PLTU Indramayu, hasil negosiasi politik? Sebagian meyakini seperti itu. Apa penyebabnya? Kok bisa? Ya bisa, hakim agung yang mengadili Pak Yance saja tidak bulat sepakat. Hakim Surya Jaya tidak setuju ia dibui. Salah satu argumennya, Menurut Surya, terkait perbedaan harga pembebasan tanah antara NJOP dan harga beli, sudah sewajarnya. Yaitu harga NJOP Rp. 22 ribu, tetapi dibeli dengan harga Rp. 42 ribu.

Fakta hukum yang terungkap di persidangan membuktikan bahwa tidak terjadi kemahalan harga, tidak terjadi pembayaran ganda. Sebaliknya, pihak yang menerima ganti rugi benar adalah pemilik tanah yang sah dan berhak. Kan normal dalam jual-beli, saat orang jual ingin harga tinggi. Sekretaris Panitia Pengadaan Tanah PLTU, Daddy Haryadi. Juga dibebaskan. Mengapa Pak Yance harus dibui?

Negara juga diuntungkan karena target pembangunan PLTU lebih cepat. Kan tahu sendiri, sekarang banyak proyek pemerintah mlangkrak. Dengan percepatan pembangunan, krisis listrik pada saat itu tertolong. Menurut Pak JK, negara untung 17 trilyun.
**
Lalu, jika ada pihak sebelah mengolok karena dianggap membela koruptor. Wong sekelas hakim agung saja ada yang membelanya. Banyak kok putusan yang dianulir dalam dunia peradilan. Sebab, kebenaran hakiki hanya milik Allah.

Saya bingung, ada sebagian yang benci Pak Yance bebas?
Kenapa?
Karena dihukum kurang lama.
Loh, kan ia sudah menjalani hukumannya.
So, ia harus berkumpul lagi dengan keluarganya.

Kebencian karena kebebasan seseorang sama saja berharap ada orang yang ditambah masa hukumannya. Kalau hukum boleh begini, suatu hari keliarannya akan mengenai Anda. Bisa saja Anda yang jadi korbannya suatu hari kelak. Anda mau masa hukuman Anda ditambah.

Anda tidak suka pada Yance? Itu hak Anda. Tapi kalau Anda senang ketika orang yang Anda tidak sukai diperlakukan secara tidak adil, Anda punya masalah kemanusiaan. Anda senang ketika hukum dipakai untuk kesenangan dan ketidaksenangan, Anda bermasalah sebagai seorang warga negara.

Kapan kita harus senang? Ketika pemimpin dan aparat negara menjunjung tinggi hukum. Hukum tidak boleh menghukum orang yang tidak bersalah, meski orang itu musuh kita sekalipun. Wallahu a'lam.
***

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon