Prabu Nala & Permaisuri Dewi Damayanti [Tamat]

Boyke Rustiaji
Ilustrasi by Boyke Rustiaji
Kesini segara malapor kepada Dewi Damayanti tentang semua yang dilihatnya. Kemudian ia segera di utus untuk menghadap permaisuri, menceritakan semua yang dilihat kepada ibunya. Sang ibu bahagia mengetahui hal tersebut dan menceritakannya kepada suaminya.

Prabu Bima memanggil Bahuka untuk bertemu dengan Dewi Damayanti. Dewi Damayanti menanyakan kepada Bahuka kenapa Prabu Nala sampai hati meninggalkan dirinya di tengah hutan belantara. 

Bahuka pun menjawab bahwa sebenarnya ini ulah dari Dewa Kali dan bukan dari kehendak dirinya. Kemudian Bahuka menyindir Dewi Damayanti dengan bertanya berapa banyak raja yang dia undang ke Widarba untuk mengikuti sayembara pilih mantu.

Mengetahui hal tersebut, Dewi Damayanti langsung mendekat dan menyembahnya. Dia berkata bahwa, dia sudah menyuruh para brahmana untuk mencari dirinya di pelosok dunia dengan melagukan seloka yang berisi pesan rahasia.

Akan tetapi, hanya Brahmana Parnada yang mendapatkan keterangan di Ayodya. Dewi Damayanti menjelaskan tentang sayembara pilih mantu tersebut hanyalah akal-akalannya. Hal itu dilakukan agar ia bisa bertemu dengan Prabu Nala.

Dan juga perlu diketahui bahwa sayembara ini tanpa sepengatahuan ayahanda. Dewi Damayanti bersumpah kepada angin, matahari dan rembulan jika ia berkhianat dari Prabu Nala lebih baik dirinya mati. Ia mengambil sumpah kepada angin, rembulan dan matahari karena penegak dunia. 

Sementara itu suara Dewa Bayu juga terdengar di telinga Bahuka. Dia mendengar bahwa Dewi Damayanti memang sangat mencintai Prabu Nala dan sangat setia kepadanya. Selama hidup sengsara Dewa Bayu-lah yang selalu melindungi Dewi Damayanti.

Oleh karena itu, jangan sampai Prabu Nala meragukan kesetiannya. Suasana di luar kerajaan menjadi hujan rintik-rintik dan petir pun menyambar seperti memberikan ucapan selamat kepada kedua pasangan yang baru bertemu setelah hidup terpisah dan sengsara.

Setelah itu Bahuka mengheningkan cipta memusatkan pikiran kepada Naga Karkotaka, serta dipakailah jubah kebesaran dari langit. Dengan sekejap mata, wujud Bahuka kembali tampan menjadi Prabu Nala. 

Melihat Bahuka telah malih rupa, Dewi Damayanti segera berlari memeluknya. Keduanya lalu melepaskan rindu lalu menemui kedua anaknya. Keesokan harinya, selesai mengenakan busana kebesaran Prabu Nala dan Permaisuri Damayanti menghadap ayahnya yaitu Prabu Bima. 

Ayahnya sangat bahagia, sehingga memutuskan membuat pesta syukuran. Kabar keberadaan Prabu Nala dan Dewi Damayanti di Widarba terdengar ke pelosok kerajaan, secara serentak rakyat kerja bakti menghias kerajaan dan mengadakan pesta di daerah masing-masing. 

Kemudian Prabu Nala mengundang Prabu Rituparna ke dalam istana Widarba. Mereka berpelukan serta saling meminta maaf dan berbincang seperti sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa.

Disamping itu, Prabu Nala juga mengajarkan ilmu katuranggan kepada Prabu Rituparna. Sebaliknya Prabu Nala juga memperdalam ilmu bermain kuclak. 

Setelah sebulan di Kerajaan Widarba, Prabu Nala mengutarakan niatnya ingin merebut kerajaannya kembali. Prabu Nala yakin dengan kemampuannya bermain kuclak dan bisa merebut kembali Kerajaan Nisada.

Jika Puskara menolak ajakan bermainan kuclak, maka Prabu Nala akan menantangnya berperang. Pada waktu yang ditetapkan, Prabu Nala berangkat ke Nisada mengendarai kerata, dikawal lima ratus prajurit berkuda pilihan, enamratus pasukan darat dan enam belas gajah perang.

Di dalam perjalanan mereka tidak banyak beristirahat agar cepat sampai di tujuan. Setelah Puskara mendapatkan laporan dari penjaga gerbang bahwa Prabu Nala ingin menantangnya kembali bermain kuclak, Puskara pun mempersiapkan semua menyambut kakaknya. 

Sesampainya di Istana Nisada Prabu Nala mengutarakan keinginannya untuk menantang Puskara bermain kuclak dan jika menolak maka ia akan menantangnya berperang. Dalam permainan kuclak tersebut tidak hanya harta benda, Dewi Damayanti pun akan dipertaruhkan. 

Mendengar hal tersebut, Puskara langsung menerima tantangan Prabu Nala. Di dalam permainan dadu berkat ilmu dari Prabu Rituparna segala tipu daya Puskara dapat diketahui oleh Prabu Nala.

Sekarang Prabu Nala telah berhasil merebut kembali kerajaanya, bahkan nyawa Puskara pun ditangan Prabu Nala. Akan tetapi karena kebijakan hatinya, Puskara pun dilepaskan. 

Tidak hanya itu, kerajaan dan pasukannya pun dikembalikan. Prabu Nala memeluk Puskara dan berkata bahwa mereka masih saudara kandung. Persaudaraan tersebut harus dijaga sampai mereka meninggal dunia.

Setelah satu bulan tinggal di Nisada bersama kakaknya, Puskara pun pulang. Dirinya mengagumi kebesaran hati Prabu Nala, yang tak lain musuh dan saudara kandungnya. 
***

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon