[Bio] Mengenang Raja Tarling 'Yoyo Suwaryo'

Yoyo Suwaryo (1955-2002). Catatan ini hanya satu opini dari penulis, seniman tarling kelahiran 1955 ini begitu kesohor di jagat panggung tarling dangdut. Sampai sekarang sebagian karyanya di recycle oleh seniman-seniwati sesudahnya.

Yoyo kecil sangat mencintai dunia seni, bakatnya sudah menonjol. Sekelumit kisah hidupnya yang glamour dan kontroversial menjadi catatan tersendiri. Sehingga data yang dikumpulkan begitu susah diurai benangnya.

Ia terjun dalam dunia seni saat bergabung dengan Tarling Cahaya Muda yang di gawangi oleh Mimi Haji Dariyah. Mimi Dariyah merupakan pasangan duet sekaligus guru tarling buat Yoyo remaja.

Sang guru yang lebih duluan terjun pada tatar tetarlingan, semua ilmu dan pitutur ia lakoni dengan sabar. Semua kerja keras dan kemauan itu membuahkan hasil saat album duetnya meledak dipasaran. Lagu "enakan" dan "cemburu" mungkin tidak begitu asing ditelinga kita. Sebuah lagu yang telah melambungkan namanya.

Bisa dikatakan insting musik yang begitu menyatu dalam diri Yoyo Suwaryo, ditambah dengan suara merdu khas pesisir pantura yang membuat perempuan tersihir dengan suaranya. Tiada yang tak menyanjung akan kemerduan suara Yoyo. Ibarat jawara, ia adalah pendekar pilih tanding, umpama emas ia emas 24 karat.

Yoyo bukan pemusik yang jago memainkan alat musik seperti Jayana--Seniman Tarling Klasik dari Karangampel yang piawai memetik instrumen gitar. Berkat kejelian dan ketajaman insting musiknya dalam mengolah dan meramu bagaimana membuat sebuah musik yang diterima masyarakat dan pendengarnya.

Secara sosiologis dia sangat memahami betul karakteristik penikmat musiknya. Indramayu waktu itu dikenal sebagai daerah X. Daerah dengan keterbelakangan pembangunan, kemiskinan, dan sejumlah masalah sosial lainnya.

Dari semua lagunya bisa ditarik kesimpulan, semuanya menggambarkan dengan jelas bagaimana sosiologis masyarakat indramayu waktu itu. Lagu seperti Dongbret, yang menggambarkan sebuah fenomena sosial waktu itu, dimana seni ngedongbret lagi melanda masyarakat, seni dongbret, malah secara vulgar melakukan eksploitasi seni. 

Penari perempuan yang disawer, dalam waktu beberapa menit, bisa diajak si penyawer ke tempat yang agak gelap, kemudian dicium-cium dengan imbalan beberapa rupiah saja. Biasanya pertunjukan dilakukan di daerah pangkalan nelayan sehabis pulang dari melaut. Sebuah fenomena sosial yang ia cerminkan dalam sebuah lagu dmana eksploitasi perempuan yang menggila.

Dalam lagu-lagu Yoyo paling menonjol adalah masalah demenan dan Rumah tangga. Syair dalam lagunya puitis dan mengena.

Berpisah dengan sang guru, Yoyo mendirikan Tarling Dharma Muda. Awal dari kejayaannya, lambat-laun semakin bersinar karier ketarlingannya. Dengan mengandalkan suara dan produktivitas karya musiknya, ia membangun sebuah Group Tarling yang merajai jagat tarling. 

Sebagai dirigen ia begitu piawai mengelola kekompakan sebuah group tarling.
Menurut salah satu mantan punggawanya, dalam setahun Group Tarling Dharma Muda bisa mencapai rekor 200'an ratus panggungan. Semua biduan tarling yang diajak duet olehnya pasti jadi diva tarling. Sebut saja, Wati, Itih S, Tia Permatasari, Sri Avista. 

Sampai sekarang pun masih jadi penyayi tarling papan atas. Ketenaran dan dunia glamour Yoyo yang kontroversial, seperti garam dalam kariernya. Ibarat sayur tanpa garam, tidak sedap.

Perilaku tukmis* dan cap sebagai pria flamboyan. Kewajaran dalam sekelumit kisah perjalana hidupnya. Semenjak kepergiannya, dunia tarling tetap mengenal dan mengakui produktivitasnya dalam tetarlingan. 

Sampai sekarang belum ada seniman tarling yang sekaliber dia--dari suara dan produktivitas karya dan diterimanya di masyarakat (hampir semua jadi hits). Yoyo Suwaryo Layak diangkat sebagai Raja tarling .Awal tahun 2000'an dunia tarling kehilangan rajanya. Selamat tinggal Kang Yoyo, karyamu akan tetap dikenang.

***
*Tukmis : batuk klimis, istilah semacam playboy

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

2 komentar:


EmoticonEmoticon