Perempuan, mengajak ta'aruf? Why not.


Tempo hari ada salah satu kenalan yang meminta pendapat soal “proposal”, tapi bukan proposal sebuah kegiatan buka puasa bersama atau reuni alumni sebuah sekolah. Ini proposal soal “nikah”. Maksudnya begini, ada seorang perempuan bermaksud ingin menawarkan diri ta’aruf dengan seorang pemuda. Ta’aruf adalah jalan suci nan islami dalam upaya menuju jenjang pernikahan.

Mereka yang menempuh perjalanan menuju pernikahan dengan jalur ini adalah kaum yang mengingkari pacaran. Sebenarnya, poinnya bukan disitu, jika membicarakan seni pacaran, adalah sebuah seni dalam proses saling mengenal satu sama lain, baik setelah menikah maupun sebelum menikah. Esensinya tetap sama, yakni berupaya mengenal satu sama lain. Akan berbeda dengan ta’aruf, pada proses ini adalah proses keseriusan seorang calon pengantin dalam menjemput jodohnya.


Karena apa? Karena setelah terjadinya proses ta’aruf, setelah kedua orang yang melakukan ini cocok, mantap hatinya, pasti akan menyegerakan kapan pernikahannya. Esensinya adalah soal menunda pernikahan dan menyegerakan pernikahan. 

Menyegerakan menikah adalah sunnah dan anjuran Nabi SAW, bahkan untuk urusan ini baginda sampai sempat dengan nada ancaman. "bukan termasuk umatku jika tidak menikah", sabdanya 14 abad silam. Kebalikan dari hal ini adalah menunda menikah, karena hal itu termasuk menuruti godaan syaithan, makhluk penggoda ini akan gembira sambil melompat-lompat, melihat umat Muhammad tergelincir dalam hal menunda-nunda nikah.

“Dia suka sama lelaki, nah dia minta saran. Mau 'mengajukan' diri ke lelaki itu. Aku bilang silahkan aja itu lebih mulia daripada mencari2 perhatian, lagian di zaman Rasulullah jg ada contohnya kan ya? Nah yg mau aku tanyain sama kang meneer adalah, saat mengajukan diri ada ketakutan ga? Dan mengatasinya gimana? Jujur aja aku penasaran dgn kondisi psikologi disaat seperti ini. Karna aku ga pernah tau rasanya meminta apalagi ditolak”

Perempuan jatuh cinta duluan sama seorang lelaki, itu sebuah kewajaran, dan itu hal normal. Namun demikian, akan menjadi sebuah dilema, ketika seorang perempuan akhirnya mengajak ta’aruf duluan, dalam budaya kita hal ini termasuk tabu dan menjadi beban tersendiri, karena menawarkan lebih dulu belum banyak dilakukan oleh kaum perempuan.

Seorang kawan pernah terlibat diskusi mengenai hal ini, dia berkomentar. “Ya kalau ditolaknya tuh, aduuuuh malunya nggak ketulungan”. Lain kawan yang itu, teman satu almamater pernah ikut menyentil, katanya. “Mending nunggu aja deh, sambil memperbaiki diri, banyakin doa, semoga saja Allah menggerakkan hatinya agar meminta ta’aaruf duluan, kalau tidak ya mending nggak usah, cari aja yang lain”.

Persoalan seperti ini jika dikaji lebih dalam, kasus ini juga pernah menimpa Siti Khadijah dan Siti Fatimah. Dalam sejarah Islam tercatat, bahwa Khadijah sempat mengagumi Muhammad yang pekerja keras, jujur, amanah, dan cerdas. Lantas beliau akhirnya mengutus seseorang untuk menjadi perantara, menyampaikan maksudnya itu kepada Muhammad.

Cinta Khadijah terhadap Muhammad akhirnya disambut sukacita dan kenduri pernikahan diantara merekapun segera dilangsungkan dengan mahar sejumlah 20 ekor unta. Jika dinilai dengan rupiah, itu maharnya bisa sampai 400 juta dengan harga satu ekor unta diumpamakan seharga 20 juta/ekor.

Tak beda dengan ibundanya, Siti Fatimah juga telebih dahulu mengagumi pemuda yang perkasa dan bertakwa kepada Allah, yakni Ali bin Abi Thalib. Apa yang dilakukan Fatimah ketika hatinya bergejolak dilanda api asmara? 

Fatimah ternyata memilih diam tanpa kata, berharap sambil menyanyikan lagu-lagu doa kepada Allah, agar bisa disandingkan dengan Ali. Fatimah menjaga diri dan tak mengumbar kemana-mana soal isi hatinya. Fatimah menyerahkan segala urusannya kepada Allah dengan sebenar-benar pasrah. Dan ceritanya kita ketahui akhirnya happy ending, Fatimah disandingkan dengan Ali dalam kursi pelaminan.

Finally, jika seorang perempuan mencintai lelaki lebih dulu, hanya ada dua pilihan tersebut. Menawarkan diri mengambil kesempatan seperti Siti Khadijah, atau memilih diam menyerahkannya kepada Allah dengan sebenar-benarnya pasrah seperti teladan yang Fatimah contohkan.

Mungkin timbul masalah jika akhirnya terinspirasi seperti Siti Khadijah kisahnya. Kang Meneer disini hanya ingin menyarankan dua hal. Lakukanlah, tak usah malu dan menebak-nebak hasilnya, itu nanti bisa jadi boomerang sendiri untuk kalian. Tak usah ragu sekaliber Nabi Muhammad SAW saja pernah ditolak kok lamarannya, apalagi kita manusia biasa. Hheeeeee.

  1. Kumpulkan informasi sebanyak mungkin dari sahabatnyaPastikan lelaki yang kalian sukai adalah lelaki terbaik. Bagus agamanya, mulia akhlak dan perilakunya, dan lembut kepada sesama. Bagaimana bisa mengetahu hal ini semua? Kalian bisa bertanya kepada sahabatnya, mengawasi gerak-geriknya–mengamati tempat nongkrongnya, dan sebagainya. Tentu kalian lebih tahu akan hal ini, bukan? Apalagi di jaman sekarang, kalian bisa ngintip lewat sosmed, lihat profil facebooknya atau twitter, lihat teman-temannya disana, lihat halaman-halaman facebook yang disukainya, lihat grup-grup yang diikutinya, atau apalah. Jaman sekarang, melakukan itu semua bukan hal susah, gampang sekali dilakukan. Bagaimanapun, lelaki yang kalian pilih adalah calon pemimpin keluarga, calon teladan anak-anak dalam rumah tangga, maka memastikan kebaikan akhlak dan agamanya adalah keniscayaan. Jika sudah bisa dipastikan bahwa ia memang lelaki baik dan pantas, maka lakukan langkah berikutnya.
  2. Minta jasa orang lain, makelar-calo-mak jomblang-, jangan menyampaikannya sendiri. Seperti Khadijah, beliau pun meminta bantuan orang lain untuk mengutarakan maksudnya, melamar Muhammad. Apalagi dalam budaya kita hal semacam ini –perempuan mengajak ta’aruf duluan, masih dianggap tabu dan tak biasa. Mintalah bantuan orang yang kalian percayai. Setidaknya, jika orang lain yang maju, lalu kemudian ditolak, malunya nggak seberapa dibandingkan sendirian. Sampaikan pada orang yang kalian mintai tolong untuk menggali tentang perasaannya terhadapmu. Gali tentang rencana menikahnya kapan, sudah ada calon atau belum, atau apalah. Pelan-pelan, giring pertanyaan ke arahmu, dan lihat ekspresinya.

Berikut aku berikan contoh obrolan sederhana, antara mak jomblang kalian dengan lelaki yang kalian tuju.

“Assalamu’laikum, kapan mau menikah?”
“Wa’alaikumsalam. Doakan saja, semoga sebentar lagi.”
“Sudah ada calon ya?”
“Hmmmpppt, Belum. Masih nyari-nyari.”
“Masa sih belum ada, kamu kan sudah mapan, ganteng dan siap menikah?”
“Iya, beneran. Emang belum ada.”
“Loh, jadi sama si dia (ganti dengan nama kalian, oleh utusanmu), nggak ada hubungan apa-apa ya?”
“Cuma teman kok.”
“Tapi kelihatannya dia tertarik loh sama kamu.”
“Ah, masa?”
“Kayaknya sih gitu. Apalagi yang kurang coba, dia cantik, akhlaknya baik, agamanya bagus, dan selalu menutup aurat kemana-mana. Itu kan calon istri solehah banget.”

Mintalah kepada orang yang kamu tunjuk untuk menyampaikan maksud kalian, aggar melihat dengan seksama bagaimana ekspresi wajah si lelaki yang kalian harapkan itu. Apakah ia antusias? Apakah matanya berbinar? Apakah nada bicaranya menunjukkan ketertarikan? 

Jika iya, maka lanjutkan ke langkah berikutnya. Ajaklah ia ta’arruf, dengan cara yang baik. Dan jangan menundanya lama-lama jika ternyata kalian mantap dan cocok satu sama lain, temukanlah keluarga besar kalian untuk menentukan kapan tanggal akad nikahnya. Menundanya adalah bujuk rayu syaitan, ini kurang baik dan tidak dianjurkan oleh Nabi.

***

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon