Sampyong, Olahraga/Permainan Tradisi dari Indramayu

Grup Sampyong Tugu berpose setelah syuting. Foto/MP

Pendahuluan

Seperti diketahui bersama, setiap daerah di Indonesia memiliki olahraga atau permainan tradisional. Jenis permainan ini lahir dan berkembang dari kebiasaan masyarakat setempat.


Di Indramayu juga begitu, ada permainan kuno yang dikenal dengan sebutan sampyong. Diduga permainan ini berkembang akibat geostrategi di masa lalu. Selain memiliki pelabuhan, Indramayu juga wilayah yang kaya akan sumber daya alam.


Pelabuhan Cimanuk merupakan pelabuhan strategis milik Pajajaran yang kemudian diambil alih oleh Raden Wiralodra. Hal ini mengakibatkan kemunduran kerajaan tersebut.


Sejarah juga mencatat, kota ini dikenal sebagai penghasil mangga, kapas, padi dan gula. Indramayu pernah merasakan masa keemasan komoditas gula diakibatkan sugar boom pada masa pemerintahan Hindia Belanda antara tahun 1920-1930 dimana produksi mencapai sekitar 3 juta ton dan diekspor sekitar 2,6 juta ton.


Pada tahun 1929 jumlah Pabrik Gula (PG) mencapai 179 pabrik di seluruh Jawa. Sayangnya Industri mulai runtuh tahun 1930-an akibat resesi ekonomi dunia (world recession).


Demikian juga pada masa pendudukan Jepang. Tentara Dai Nippon mendarat di Eretan Wetan, Indramayu. Jepang paham betul, Indramayu adalah salah satu daerah penghasil logistik. Tak heran, jika kemudian Jepang menggulirkan kebijakan politik “aiko kurisawa”, tentang kewajiban serah padi kepada petani yang mendapatkan perlawanan.


Dalam ruang kehidupan yang keras dan kejam ini, dibutuhkan keamanan dan pertahanan diri. Berkembanglah ilmu-ilmu bela diri, macam pencak dermayon dan sampyong.


Inilah yang melahirkan sampyong yang fungsi awalnya sebagai seleksi keprajuritan dan kemudian berkembang mengikuti denyut perubahan jaman. Tak ubahnya dengan permainan sebangun dan serupa di daerah-daerah lain di Indonesia. 


Asal Mula Sampyong

Berdasarkan versi kanda, kemunculan sampyong tak lepas dari kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Jawa dalam penjelajahan dunia-nya. Saat itu Kaisar Zhu di Istana Beiping (Beijing) mencanangkan program pengembalian kejayaan Tiongkok yang merosot akibat kejatuhan dinasti Mongol (1368).


Cheng Ho menawarkan diri untuk mengadakan muhibah ke berbagai penjuru negeri. Dalam kurun waktu 1405-143, Cheng Ho singgah di kepulauan nusantara selama 7 kali.


Ketika menyusuri Sumatera ia singgah di Samudra Pasai, Palembang dan Bangka. Demikian pun saat menyusuri pantai utara Jawa, anak buah Cheng Ho, Wang Jinghong sakit keras. Sauh segera dilempar di pantai Junti.


Wang Jinghong dan rombongan lalu membuat pondokan. Ia kemudian lebih masyhur dengan nama Sam Po Kong alias Dampu Awang. Sempat berguru kepada Syekh Siti Jenar di Junti bersama Jaka Gondang, Nyi Sambimaya, Ratu Junti dan Ki Gedeng Tugu.


Saat sedang nyantri, ia terpana oleh kecantikan Ratu Junti. Sesekali ia melirik, benih-benih cintanya  pun tumbuh subur. Tetapi sayang, cintanya itu bertepuk sebelah tangan. Ia memaksa.


Untuk mengakali, Ki Gedeng Junti punya siasat membuat sayembara.  Jika Dampu Awang mampu merobohkan bambu ori yang tebalnya dua meter dan tingginya tiga meter yang mengelilingi rumah Ki Gedeng Junti dalam waktu satu malam, lamaran itu akan diterima.


Dampu Awang pun menyanggupi persayaratan tersebut. Ia lalu membuat pengumuman kepada rakyat bahwa dirinya akan surak "mas picis dunya brana". Datanglah orang berduyun-duyun membawa linggis, wadung, timbris, pacul, golok, kampak. Mengobrak-abrik (pager) keliling itu.


Tempat peristiwa ini dikenang dengan sebutan Buyut Mawur yang ada di Sambimaya.


Ki Gedeng Junti menyuruh putrinya lari. Ratu Junti berlari terus menerus ke arah utara. Sampai ia tak terlihat oleh rombongan Dampu Awang. Tempat persembunyian Ratu Junti itu, kemudian dikenal dengan sebutan Pilang.


Ratu Junti lalu memasuki wilayah Pagebangan. Ia meminta perlindungan. Rakyat Cuma bisa melawan dengan menumpuk tahi. Tempat kejadian peristiwa ini lalu dikenang dengan sebutan Desa Tinumpuk.


Selanjutnya Ratu Junti terus berlari ke arah barat, ia bertemu dengan Ki Gedeng Sudimampir. Ki Nampa Baya pun menghentikan perilaku kurang jantan Dampu Awang yang mengejar perempuan bak seorang maling, lalu menyuruhnya membuat pasar dalam semalam.


Dampu Awang menyanggupi. Pasukan dikerahkan untuk membuat pasar. Melihat pasar yang hampir jadi, Ki Gedeng Sudimampir menyuruh Ratu Junti dan pawongan-nya membakar oman. Membangunkan jago dan ayam di kandang.


Mengira hari sudah pagi, ada lembayung (jerami yang dibakar) dan ayam berkokok. Dampu Awang gusar dan mengamuk. Menganggap Ki Gedeng Sudimampir musuh barunya. Ia telah mengotori janjinya membantu perjodohan dengan Ratu Junti.


Tempat kejadian peristiwa itu sekarang dikenang dengan sebutan Buyut Pamusuhan di Desa Sudimampir.


Tak kuasa melawan Dampu Awang. Ki Nampa Baya meminta bantuan kepada saudaranya, Ki Gedeng Tugu. Untuk mengungguli Dampu Awang tidak ada lawan setanding kecuali saudaranya tersebut.


Saudaranya itu dikenal memiliki aji jaya kawijayan. Alias ilmu strategi perang. Ki Gedeng Tugu akhirnya mau membantu. Ia berpikir keras bagaimana cara mengalahkan Dampu Awang yang sakti. Jika melawan dengan senjata sudah dipastikan kalah.


Ketika sedang berpikir, dilihatnya ada rotan penjalin. Galah penjalin itu disebut ujung. Hanya dengan alat inilah ia bisa menang dari Dampu Awang. Pada suatu sore diumumkanlah pertandingan antara Ki Gedeng Tugu dan Dampu Awang.


Anak buah Dampu Awang yang melihat, menyebut permainan ini dengan sampyong. Sam itu tiga, pyong itu pukulan. Tiga kali memukul. Inilah cikal bakal tradisi sampyong di desa Tugu, Kecamatan Sliyeg, Indramayu.


Perkembangan Sampyong

Dalam tatar ke-sampyongan dikenal dua aliran yang memiliki ciri khas masing-masing. Dua aliran sampyong tersebut, ada gaya wetanan dan kulonan. Wilayah yang terkenal pada gaya kulonan, seperti Suket Baju dan Manggungan.


Di wilayah gaya wetanan wilayah yang dikenal seperti Segeran, Tugu dan Tambi. Ada istilah yang dikenal oleh para praktisi jawara yakni "tangane malangkerik, sikile digoleng ngangkat, ujunge dipikul"

Malangkerik. Foto/MP


Sikile digoleng ngangkat, ujunge dipikul.

Sikile digoleng ngangkat, goleng adalah tanda dari seorang “garet” bahwa pertandingan siap dimulai dengan cara membuat garis di tanah—arena. Garet adalah sebutan untuk wasit dalam permainan sampyong.


Sedangkan “malangkerik” yakni berkacak pinggang adalah simbol seorang ksatria menantang lawannya untuk menggertak dengan gaya petantang-petenteng. 

Sampyong, bertanding.

Menurut versi kekandaan, sampyong atau ada yang menyebut juga dengan nama “ujungan” adalah tradisi yang awalnya digunakan untuk menyeleksi para prajurit, terus berevolusi menyesuaikan jaman hingga akhirnya hanya sekedar hiburan pelengkap pada momentum ritus unjungan.


Sedangkan jika ditilik dari segi bahasa, kata sampyong ini mendapatkan pengaruh dari unsur budaya Cina. Sam itu tiga, pyong itu pukulan, tiga kali memukul seperti dalam aturan permainan sampyong.


Aturan Main Sampyong

Permainan sampyong menggunakan alat berupa sebilah rotan yang berukuran lebih kurang 60-80 cm (ujung). Alat tersebut digunakan untuk memukul lawan. Permainan ini harus dilakukan di tengah lapangan dan para penonton berdiri mengelilingi pemain yang sedang berlomba untuk saling mengalahkan.


Selain ujung, permainan ini menggunakan beberapa alat musik seperti kendang, bonang, dan gong juga beberapa wasit. Seorang pemain hanya diperkenankan memukul sebanyak 3 (tiga) kali pukulan.


Sasaran pukulan hanya sebatas betis ke bawah, tidak lebih dari itu. Pemain dapat bermain pada kelas yang ditentukan menurut usia, misalnya golongan tua (dawuk) dan pemuda (nom-noman). 

Pertandingan Sampyong. 

Seluruh peserta memasuki arena dipimpin oleh seorang garet  (wasit), melakukan penghormatan kepada penonton dengan iringan kendang, bonang, dan gong. Lebih populer disebut musik bongklengan. Pertunjukan diawali dengan jogedan oleh tokoh sampyong dan biasanya merekalah yang kemudian jadi garet.


Selepas itu dilanjutkan dengan inti, seorang pemain berhadapan dengan pemain lainnya menurut urutan panggilan. Dimeriahkan dengan suara musik bongklengan dan riuh penonton. Pemain yang melanggar aturan dinyatakan kalah. Permainan diakhiri jika salah seorang pemain sudah dapat memukul lawannya tiga kali. Sampyong biasanya diselenggarakan berbarengan dengan unjungan. Waktunya adalah sore hari.

***

Meneer Pangky, Pemerhati Budaya Amatir dan Pengurus Dewan Kesenian Indramayu.

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon