3 Keraton, Landmark Tourism Cirebon

Landmark Tourism Cirebon


























Jejak masa lampau Cirebon akan sulit terdeteksi keberadaannya. Hanya beberapa situs yang lolos dari kebiadaban masa kini saja, yang akhirnya bisa terungkap.

Salah satu yang masih bisa dijumpai biasanya berbentuk bangunan kuno. Istilahnya adalah heritage, yang bermakna warisan budaya. Nah, bangunan kuno termasuk bagian didalamnya.

Ngomongin soal heritage di Cirebon, ternyata kudapati masih banyak bangunan kuno yang kokoh berdiri. Lebih hebatnya, hingga sekarang bangunan tersebut masih digunakan. Cirebon, termasuk sedikit kota yang masih menjaga bangunan kuno-nya.

Rupa-rupanya, pemerintah dan warganya sadar bahwa heritage sebagai identitas penting kotanya. Bangunan kuno memang harus tetap dijaga keutuhannya selain sebagai saksi sejarah, bangunan-bangunan tersebut juga bisa menjadi tempat belajar sejarah secara on the spot.

Heritage Keraton-keraton di Cirebon

Kasepuhan dengan ornamen mega mendungnya. +Meneer Pangky 2016.
Keraton Kasepuhan
Sebagai kota yang berdiri pada masa perkembangan awal Islam di Jawa setelah Kerajaan Demak Bintara, Cirebon adalah kerajaan Islam pertama di Jawa Barat.

Keraton Kasepuhan dibangun sekitar tahun 1529 oleh Pangeran Mas Zainul Arifin. Keraton ini merupakan perluasan dari Keraton tertua di Cirebon, Pakungwati. Keraton Pakungwati, dikenal juga dengan nama Dalem Agung Pakungwati.
Keraton Kasepuhan 1935. Sumber : KITLV.
Keraton Pakungwati posisinya di sebelah timur Keraton Kasepuhan, dibangun oleh Pangeran Cakrabuana pada tahun 1452, ada yang menyebut 1430. Pangeran Cakrabuana dikenal juga dengan nama Raden Walangsungsang dan Ki Kuwu Sangkan, beliau adalah putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran.

Pada tahun 1479 keraton ini diperluas dan dilebarkan. Luas situs pertama di Cirebon ini sekitar 4900 m2, mempunyai tembok keliling sendiri, keadaan bangunannya sekarang tinggal reruntuhannya saja.

Siti Inggil, 1935. Sumber : KITLV.
Di lokasi tersebut terdapat sisa-sisa bangunan, gua buatan, sumur dan taman. Pada abad ke-16 Sunan Gunung Jati mangkat, digantikan oleh cicitnya yang bernama Pangeran Zaenal Arifin dan bergelar Panembahan Pakungwati I.

Pada tahun 1529 beliau membangun keraton baru di sebelah barat daya keraton lama. Keraton Kasepuhan ini dulunya disebut dengan Keraton Pakungwati, untuk mengenang nama puteri Pangeran Cakrabuana atau buyut sultan, yang gugur pada tahun 1549 ketika ikut memadamkan kobaran api yang membakar Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Mevrouw in poerapoort 1935. Sumber KITLV.
Sejak jaman Belanda, diketahui keraton ini sudah menjadi tujuan wisata. Seperti, diketahui dalam arsip KITLV pada tahun 1935 seorang mevrouw sedang berpose di depan sign macan ali.

Keraton Kanoman
Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I, pada sekitar tahun 1510 Šaka atau 1588 M.
Kanoman dengan pilar-pilar warna telor asin. +Meneer Pangky, 2016.
























Titimangsa ini mengacu pada prasasti gambar surya sangkala dan Keraton Sangkala. Pada pintu Pendopo Jinem menuju ruang Prabayasa terdapat “matahari” yang berarti 1, “wayang Dharma Kusuma” yang berarti 5, “bumi” yang berarti 1 dan “bintang kemangmang” yang berarti 0. Jadi, chandra sangkala itu menunjukan angka tahun 1510 Šaka atau 1588 M.

Sementara sumber lain menyebutkan bahwa angka pembangunan Keraton Kanoman adalah bersamaan dengan pelantikan Pangeran Mohamad Badridin menjadi Sultan Kanoman dan bergelar Sultan Anom I, yang terjadi pada tahun 1678-1679 M.
Siti Inggil Keraton Kanoman, 1935. Sumber : KITV.
Keraton Kanoman merupakan satu kompleks dengan denah empat persegi panjang dari arah utara–selatan. Secara arsitektur, tata ruang komplek ini dibagi 4 bagian, yaitu bagian depan kompleks, halaman pertama, halaman kedua, dan halaman ketiga.

Candi Bentar, Siti Inggil Kanoman. +Meneer Pangky, 2016.
Keraton Kanoman secara visual, sangat didominasi oleh warna putih dan telor asin. Entah apa sebabnya? Kukira kedua warna itu pengaruh dari Islam. Dimana warna putih adalah simbol tertinggi spiritualitas dalam Islam. Sedangkan warna telor asin atau toska, adalah simbol keseimbangan. Perpaduan antara biru dan hijau.

Keraton Kacirebonan
Keraton Kacirebonan yang berada di Jalan Pulosaren No. 48 ini, mempunyai ukuran relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Menurutku lebih pantas disebut puri. Konon, menurut tour guide Keraton Kacirebonan, keraton ini pecahan dari Keraton Kanoman. Dibangun sekitar tahun 1800.
Keraton Kacirebonan. Sumber : Kang Didno, 2016.
Keraton Kacirebonan, 1935. Sumber : KITLV.
Bangunan Puri Kacirebonan berdenah empat persegi panjang memanjang arah utara–selatan, menghadap ke utara. Secara arsitektur, bangunan keraton ini terdiri dari bangunan Induk, Paseban, Langgar, Gedong Ijo, Pringgowati dan Kaputren.
***
Meneer Pangky
Penulis, pemerhati budaya dan konsultan media kreatif.

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon