Kentut - The Series of Talkiban [13]

Cerita ini adalah kisah Talkiban kecil. Dimana ia kena marah bapaknya hanya gara-gara kentut. Kentut yang akhirnya jadi kambing hitam. Begini ceritanya. 

Seriwayat Talkiban dan bapaknya bertamu ke rumah Pak Kuwu. Setelah sampai, mereka berdua pun diterima dengan baik oleh Pak Kuwu. Saat asyik mengobrol, Talkiban berbisik kepada bapaknya, bahwa perutnya mules. Ia tak tahan. 

Bapaknya minta suruh menahan, sebentar lagi juga pulang. Talkiban sudah nggak tahan, dipegangnya perut. Ditahan-tahan, akhirnya tak kuasa juga. Terdengarlah bunyi. “Tuttttttttttttt ... prepet ... prepet”. Si Bapak murka benar, anaknya tidak bisa menahan.

“Bli sopan, ora duwe adab. Ngentut paduan bae. Metu tah mana”. Talkiban ketakutan dimarahin bapaknya. Si Bapak lalu meminta maaf sama pak kuwu. Diteruskanlah obrolan. Ngetan-ngulon dan ngalor-ngidul.

Tak berselang lama. Pak Kuwu juga merasakan hal yang sama. Perutnya juga melilit. Mau menyudahi dan meninggalkan tamunya dirasa tak sopan. Ditahan-tahannya itu. Obrolan pun berlanjut. 

Pak Kuwu sekarang sudah tidak bisa fokus menyimak pembicaraan tamunya. Lalu, terdengarlah suara yang lebih besar dari Talkiban.

“Tuttttttttttttt ... prepet ... prepet”. Muka pak Kuwu langsung meringis, tanda bahwa ia malu. Bapaknya Talkiban, malah senyum dan pelan berbicara.
“Nggih pak kuwu, leres tenimbang ditahan-tahan. Mengkin dados lara weteng ya”.

Sejak saat itu Talkiban sedikit benci sama bapaknya. Ia merasa terdholimi. Disitulah ia pertama kali berkenalan dengan keadilan. Bahwa keadilan selalu berbenturan dengan sudut pandang dan pandang bulu.
***

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon