Prabu Nala & Permaisuri Dewi Damayanti [10]

Ilustrasi by Boyke Rustiaji
Sebelum matahari akan terbenam, Prabu Rituparna telah sampai di Widarba. Seluruh kuda kerajaan, gajah dan burung merak berbahagia akan kedatangan rombongan tersebut. Demikian juga dengan sang putri sangat bahagia, ia berpikir pastilah suaminya pun ikut datang. Namun yang dilihatnya hanya ada Prabu Rituparna, Wresnaya dan Bahuka.

Prabu Bima heran akan kedatangan Prabu Rituparna. Begitupun dengan Prabu Rituparna juga heran, dalam penyambutan tadi tidak pernah menyinggung soal sayembara pilih mantu. Lebih mengherankan lagi, tidak ada raja maupun ksatria lain yang datang ke Widarba. 

Setelah usai bercakap-cakap Prabu Rituparna dipersilahkan beristirahat di pesanggrahan, sedangkan Bahuka hanya tidur di kerata untuk melepas lelah. Kesal, kecewa, sedih dan heran menyeliputi pikiran Dewi Damayanti. 

Dia berpikir apakah Wresneya telah diajari ilmu katuranggan oleh Prabu Nala, atau sebagai raja besar Prabu Rituparna juga mengusai ilmu katuranggan seperti suaminya sehingga mereka bisa sampai di Widarba dalam waktu sehari. Atau mungkin Bahuka adalah samaran dari suaminya. Akhirnya Dewi Damayanti mencoba untuk menyelidiki dan mencari berita tentang suaminya tersebut.

Dewi Damayanti memanggil Dayang yang bernama Kesini. Dewi Damayanti menyuruh Kesini untuk bertanya dengan sopan tentang kusir Prabu Rituparna yang bernama Bahuka, serta membunyikan nyanyian seloka seperti yang Brahmana Parnada lakukan. Sedangkan Dewi Damayanti akan mengamatinya dari kejauhan. 

Setelah bertemu dengan Bahuka, Kesini pun melakukan semua perintah Dewi Damayanti. Prabu Nala yang menyamar menjadi Bahuka sangat miris hatinya. Setelah dia mendengar nyanyian seloka yang sama dengan yang dinyanyikan Brahmana Parnada, Bahuka pun juga menjawabnya dengan seloka nyanyian yang dulu pernah ia sampaikan kepada Brahmana Pranada.

Dihadapan Dewi Damayanti, Kesini menceritakan semua yang dia perbincangkan dengan Bahuka. Dewi Damayanti semakin yakin bahwa Bahuka merupakan samaran dari suaminya. Kemudian Dewi Damayanti menyuruh Kesini untuk mencatat segala tingkah laku Bahuka. Tanpa bertanya Kesini pun melaksanakannya. Setelah selesai mengamati dan mencatat gerak-gerik Bahuka, Kesini menceritakannya kepada Dewi Damayanti. 

Dia bercerita bahwa banyak keanehan yang dia lihat, seperti saat Bahuka berjalan dia tidak mau menundukkan kepalanya. Saat dia berjalan semua semak belukar yang menghadanginya menyingkir dengan sendirinya. Di samping itu, saat Bahuka memasak wajan dan panci tidak dia pegang sudah dapat bekerja dengan sendirinya. 

Mengetahui hal tersebut, Dewi Damayanti sangatlah yakin bahwa Bahuka adalah samaran dari suaminya. Kemudian Dewi Damayanti menyuruh Kesini untuk membawa kedua anaknya menemui Bahuka. Saat bertemu dengan Endrasena dan Endrasini, Bahuka menangis kegirangan sambil memeluk dan menciumi keduanya. 

Dia tidak dapat mengontrol emosi dan kebahagiannya sendiri. Bahuka bercerita kepada Kesini bahwa Ensrasena dan Endrasini mengingatkan dirinya akan kedua anaknya. Kemudian Bahuka menyuruh Kesini pergi karena ia orang luar dan tidak sepantasnya jika Kesini sering menemuinya.
**

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon