[Sinopsis] Coffee Or Tea? (2020)

Masalah klasik. Pemuda desa yang berangkat ke kota. Desa hanya diisi oleh orang-orang tua. Pemuda ini memupuk harapan, seperti lagu bang Iwan Fals ‘mimpi yang terbeli’. Berusaha memutus siklus kemiskinan.

Ini film mengangkat tema keluarga dan persahabatan. Tapi, jangan salah tetap lucu kok, kan ini film drama komedi. Ceritanya ada tiga pemuda. Mereka punya mimpi-mimpi sendiri.

Pertama, Wei Jinbei. Pengusaha e-commerce yang gagal. Ia sudah putus asa. Utang menumpuk. Stress dan depresi. Ia mau bunuh diri.

Kedua, Peng Xiubing. Seorang kurir teladan. Kariernya bisa dibilang sukses. Ia ingin resign lalu buka usaha ekspedisi di kampungnya.

Terakhir, Li Shaoqun. Teman kecil Peng. Ia konflik dengan orangtuanya. Ayahnya ketua petani teh. Sedangkan ia menanam kopi. Lalu menyendiri di gunung sambil menanam kopi.

Kisahnya diawali saat Wei mau bunuh diri. Dihalang-halangi oleh Peng. Ia pun mengajak Wei jadi konsultan perusahaan yang akan didirikannya itu. Wei setuju. Mereka berdua lalu pulang kampung.

Kedatangan mereka disambut hangat seluruh warga desa. Berikutnya, berisi rangkaian serba-serbi mengajak warga desa untuk belanja online. Di tengah jalan barulah mereka ketemu Li.

Kesan yang saya dapat, film ini banyak mengandung kebijaksanaan khas warga desa. Tema yang diangkat juga bagus. Nilai-nilai universal.

Saya suka tokoh Peng. Pemuda desa yang semangat tapi naif. Ia ingin desanya maju tapi lupa sumberdaya yang ada sangat terbatas. Peng juga yang menghidupkan persahabatan di antara mereka.

Antara Li, petani kopi yang idealis. Peng, pengusaha yang ambisius. Dan Wei, si konsultan yang depresi. Perpaduan yang kocak. Menciptakan ketegangan tersendiri. Dan akhir yang bahagia. Happy ending.

Terakhir, seperti pesan dalam film ini mau teh apa kopi? Film yang bagus untuk penyuka kopi dan pecinta teh.
***

Sekjend Dewan Kesenian Indramayu

Comments


EmoticonEmoticon