[Sinopsis] The Return of Martin Guerre (1982)

 

Belakangan ini saya suka film bertemakan rural society. Setelah film Coffee or Tea, saya lanjutin nonton film The Return of Martin Guerre. Mengambil latar di suatu desa Perancis pada abad ke-16.

Awal menonton saya belum terbawa alur cerita. Lalu, sedikit demi sedikit mulai menikmati kisahnya. Tentang istri yang kesepian. Penipu yang cerdas. Juga, seorang suami yang bermasalah.

Bertrande de Rols, seorang anak petani kaya yang menikah dengan Martin Guerre. Sayangnya pernikahan mereka tidak bahagia. Keluarganya menuntut supaya segera punya momongan. Martin sering di-bully sebagai suami mandul. Perasaannya makin tertekan dan tidak betah tinggal desa.

Adegan berganti, Martin Guerre meninggalkan istri dan anaknya setelah peristiwa memalukan mencuri beberapa karung gandum. Ia mengembara dan ikut berperang ke Spanyol. Istrinya, Bertrande lalu kembali ke rumah. Ibunya menikah dengan Pierre Guerre, paman Martin.

Bertrande terus menunggu Martin. Ia seorang istri sekaligus janda, terjebak dalam kesepian. Karena Bang Martin nggak pulang-pulang. Delapan kali puasa, delapan kali lebaran. Anakmu panggil-panggil namamu. Bang Martin aku rindu padamu, ingin bertemu. Kok saya malah nyanyi ya? Hihi.

Lalu datanglah, Arnaud du Tilh. Seseorang yang mengaku sebagai Martin Guerre. Dia sebenarnya penipu. Pemalsu identitas. Semua warga desa Artigat tertipu. Tidak ada yang menyadari.

Di sinilah konflik mulai muncul. Sesungguhnya Bertrande menyadari ada penipu masuk ke rumah. Arnaud tidak tahu soal celana dalam yang dirajut olehnya. Bertrande gamang. Menerimanya atau ia berlarut-larut dalam kesepian yang panjang.

Rahasia yang awalnya hanya milik Bertrande dan Arnaud akhirnya terungkap saat seorang gelandangan membuka identitas Martin Guerre palsu. Terlebih, saat Si Arnaud mulai bentrok dengan pamannya soal harta warisan.

Martin palsu kemudian dilaporkan ke hakim oleh Pierre Guerre. Kasusnya rumit dan panjang. Para saksi mulai terbelah. Ada yang meragukan, ada yang percaya bahwa dia adalah Martin yang asli.

Saat hakim akan mengambil putusan, sebelum vonis dibaca datanglah Martin Guerre yang asli. Seorang dengan cidera kaki datang terseok-seok di tengah-tengah persidangan.

Meyakinkan hakim dan semua hadirin yang mengikuti persidangan. Merebut kembali semua miliknya dari seorang penipu yang cerdas. Arnaud du Tilh akhirnya mengaku, meminta maaf, dan dihukum mati atas kejahatannya.
***

Sekjend Dewan Kesenian Indramayu

Comments


EmoticonEmoticon