‎Potret‬ Kehidupan TKI/TKW di Kecamatan Sliyeg, sebuah Studi.



Duda Kepaksa
Voc. Iip Bakir

Lara sih lara
Gara-gara mboke bocah
Lunga ning Saudi Arabia
Kula ning umah mong-mong bocah....
***
(Terjemahan)
Sakit sih memang sakit
gara-gara ibunya anak-anak
pergi ke Saudi Arabia
Saya di rumah mengasuh anak.


Resikonya memang besar, tetapi prospeknya juga besar. Jejak-jejak keberhasilan itu tercetak dalam bangunan-bangunan baru yang mudah ditemukan di Kecamatan Sliyeg. Bangunan itu berbahan luar keramik dengan desain rumah modern. Mudah sekali membedakan yang mana yang dibangun atas kiriman uang TKI atau bukan. Rumah hasil kiriman uang TKI biasanya berwarna cerah: pink, biru muda, hijau, cokelat terang, dengan kombinasi warna yang jauh dari konsep serasi.

Rumah-rumah itu menyimpan kontradiksi besar. Lantai keramik mengilat itu bercampur dengan bau comberan di belakang rumah. Dikelilingi oleh tanah kering, kandang kambing, kandang ayam dan comberan, rumah-rumah itu bagai tidak tumbuh dari tanah kultural setempat. Akan tetapi, itulah simbol kepahlawanan 25 persen dari sekitar 35.000 perempuan di Kecamatan Sliyeg. Jumlah penduduk Kecamatan Sliyeg 65.000 orang lebih.

Sepulangnya dari negeri sebrang para TKI/TKW, tanah air ternyata tidak menjamin solidaritas sosial. Sampai di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, petugas imigrasi meminta uang pada TKI untuk biaya perjalanan ke kampung. Besaran nominalnya antara Rp 200.000-500.000. Sopir di jalan pun masih meminta uang yang besarannya antara Rp 50.000-100.000. Para petugas itu mungkin tidak tahu bahwa ekspor tenaga kerja menghasilkan devisa bagi Indonesia rata- rata sebanyak 1,6 miliar dollar AS per tahun.

Balik lagi pada penggalan syair diatas, itu hanya menceritakan sepenggal cerita normatif tentang laki-laki yang ditinggal istri. Itu adalah contoh suami setia yang siap sedia mengasuh anak-anaknya. Selain mengasuh anak, yang setia ini biasanya berkumpul pada malam-malam tertentu sambil membakar ayam (mayoran). Mereka mendirikan "organisasi" bernama Ikatan Duda Arab (IDARA). Lain Idara, ada juga organisasi lainnya, seperti IDAMAN (Ikatan Duda Taiwan) dan IRAYA (Ikatan Randa Korea).

Yang tidak setia punya dua pilihan: menghamburkan duit kiriman istri di diskotek dan/atau kawin lagi. Yang dimaksud dengan diskotek adalah semacam warung remang dan/atau radio-radio illegal yang memutar lagu-lagu tarlingan. Karena tidak tahan ditinggal istri, para suami ini sering kawin lagi. Menjadi masalah kalau istri mudanya pun akhirnya menjadi TKI. Laki-laki semacam ini harus pandai mengatur waktu pulang istri tuanya agar tidak bertabrakan dengan jadwal kedatangan istri mudanya.

Di pinggir- pinggir jalan tersembul warung remang/radio illegal dengan bunyi musik dangdut dan tarlingan disertai aksesori tawaran kenikmatan kedagingan. Perempuan menjadi sangat responsif karena pada Duda Arab ini biasanya berkocek tebal. Di sanalah duit kiriman istri akan berkecamuk dengan lampu remang, alkohol, dan lendir duniawi.

Realitas sosial dan tradisi seni ini rupanya menjadi bahan bakar dasar dari produksi lirik lagu-lagu tarling Indramayuan. Harapan, duka lara, kegembiraan, dan keputusasan dalam lagu-lagu itu sebenarnya merupakan salah satu bentuk jeritan dari mereka yang sering disebut pahlawan devisa, tetapi sampai pemerintahan baru ini pun tidak tertangani sebagaimana mestinya.
Tembung pamungkas ini sebagai penutup dari tulisan bentuk keprihatian diri saya. Selamat menikmati !!

Senok... aja nangis...
Kelangan mimi ya nok ya
Sebab mimi lagi usaha
Sedelat maning arep teka

(Terjemahan)
Nak... jangan menangis...
Kehilangan ibu ya nak ya
Sebab ibu sedang bekerja
Sebentar lagi akan pulang
***
Meneer Panqi, salah satu peneliti dari Indramayu Historia Foundation.

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon