Merem Melek - The Series of Talkiban [11]

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indramayu, sebelum jenazah di mandikan, terlebih dahulu dibacakan Surat Yasin. Namun, karena jenazah matanya nggak mau merem. Wong ngaji pada nggak mau karena takut.

Mang Talkiban akhirnya berinisiatif untuk mengupayakan agar jenazah matanya merem. Menurut nasihat orang tua, jika ada jenazah yang matanya tidak merem, caranya gampang tinggal ditarik jempolnya. Mang Talkiban kemudian pelan-pelan tangan kanannya memegang jempol jenazah, sementara tangan kirinya memegang pergelangan kaki.

“Bismillahirahmanirrohim, kretek ... “ jempol jenazah ditarik, berbarengan dengan itu, Mang Talkiban memperhatikan matanya. Eeeee,,,, masih tetap melotot. Dalam kondisi normal, begitu jempolnya ditarik, seharusnya matanya nutup alias merem.

Mang Talkiban mendekati, diusap matanya dari arah atas ke bawah. Waduh, masih nggak mau merem juga.

“Ah, mungkin kurang kuat nariknya”. Pikir Mang Talkiban.

Diulanglah tarikan, rupanya Mang Talkiban agak mikir juga, kok bisa ya nggak merem. Tapi masih berusaha, didekatinya jenazah itu, dilihat matanya seolah sedang memandangi dirinya Talkiban.

Ah, tak peduli, pokoknya harus merem sebelum dimandikan. Untuk kedua kalinya, Mang Talkiban pun melakukan hal yang sama, kali ini tarikannya agak lebih kuat.

“Kreteeek”. Jempol jenazah ditarik, kembali matanya diusap. Meremkah? ternyata belum juga, bahkan sepertinya malah tambah melotot. Gila, pikir Mang Talkiban, masa sudah dua kali di tarik, masih belum juga merem.

Sementara itu, di luar pelayat masih menunggu Mang Talkiban keluar. “Ban, sudah selesai belum?”. Tiba-tiba Dulgepuk bertanya setengah berteriak.

“Belum, kamu masuk bantuinlah!”. Terdengar jawaban dari dalam kamar.

Dulgepuk masuk, ia terperanjat, kok masih melek. Akhirnya Mang Talkiban menceritakan bahwa sudah dua kali ditarik jempolnya, tapi masih tetap seperti semula.

“Kita coba sekali lagi, tolong bantu aku!”. Kata Mang Talkiban.

MangTalkiban dan Dulgepuk mendekati mayat, Dulgepuk memegangi kaki, sementara kedua tangan Mang Talkiban pegang jempol si mayat, posisi kaki Mang Talkiban yang satu diangkat nempel diujung bale sebagai tumpuan.

“Siap ya!”. Kata Talkiban mengomandoi.
“Ya ... “.
“Bismillahiohmanirrohiiiimmmmm ... merem”.


Mang Talkiban menarik jempol dengan sekuat tenaga. “kreeek ...”. Mang Talkiban dan Dulgepuk terbelalak, si mayit merem, tapi sebentar, hanya mengedipkan mata, setelah itu melotot lagi. Bagai duduk diatas bara, Talkiban dan Dulgepuk kelihatan gelisah melihat kondisi jenazah malah merem melek.

“Ban, nampaknya memang susah untuk mengembalikan, agar mayat matanya bisa merem”. Kata Dulgepuk.
“Ya, sudahlah! Mau gimana lagi? Tapi jangan bilang-bilang yang diluar, kita bilang saja sudah beres”. Sahut Talkiban.
*

"Sudah beres?"
"Ya sudah"


Berbondong-bondonglah wong ngaji yasin masuk semua. Setelah duduk rapi, sebelum membaca yasin. Kyai Suleman membuka kain tapih jenazah. Kain pun disingkap. Tiba-tiba. “Alllahuaaaaaaaaaaaakbar, astaghfirullah”.

Kyai Suleman balik badan, lari keluar. Diikuti wong ngaji lainnya. Mereka berebutan pintu.

"Kenapa pak kyai? Ada apa?". Mang Talkiban pura-pura bego.
"Ituuu ... itu mayatnya masih melek. Melotot".

Akhirnya, jenazah tidak jadi dibacain yasin, diambil keputusan untuk langsung dimandikan. Setelah dikafani dan di sholatkan bersama dengan masyarakat, jenazah langsung di bawa ke Taman Sirna Raga.

Dan, mungkin sampai sekarang masih melotot. Hihihihii.
***

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon