Sanghyang Munged Turun Ampah [1]

Berdasarkan lakon “Munged Turun Ampah”, selain Sanghyang Punggung, Sanghyang Munged dan Sanghyang Manikmaya. Sanghyang Tunggal juga memiliki putra lainnya, yakni Sanghyang Rancasan. Sanghyang Rancasan selalu terlibat percekcokan dengan Adi Guru, dikarenakan Sanghyang Tunggal lebih menyayangi dan memanjakan putra bungsunya--Sanghyang Manikmaya.

Hampir seluruh kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya dikuasainya. Lama-kelamaan perasaan iri yang tersimpan dalam hatinya semakin membesar dan menyelimuti akal sehatnya. Sebagai anak tertua sudah sewajarnya jika Sanghyang Rancasan memendam hasrat untuk meneruskan kepemimpinan ayahnya di Kahyangan.

Hanya saja melihat sikap adik bungsunya yang terlihat ingin menjadi raja di Kahyangan dan curahan kasih sayang yang dirasakan olehnya kurang adil. Maka rasa resah dan gundah selalu saja menyelimuti hatinya. Dengan kesaktiannya maka Sanghyang Rancasan menciptakan sebuah tempat sebagai tandingan Kahyangan tempat tinggalnya.

Bahkan bisa dikatakan lebih indah dari Kahyangan yang menjadi tempat lahirnya. Keberadaan kahyangan tandingan tersebut membuat gembar di Kahyangan tempat para dewa bersemayam. Sanghyang Manikmaya mempertanyakan perihal pembuatan tempat tersebut, Sanghyang Rancasan dengan tegas mengatakan bahwa Sanghyang Manikmaya jangan mengganggunya karena itu adalah tempatnya, yang akan dijadikan kerajaan di luar Kahyangan.

Sanghyang Manikmaya disuruh pulang ke Kahyangan dan jangan menghiraukannya lagi. Merasa tidak akan menang jika harus perang tanding dengan sang kakak, maka Sanghyang Manikmaya minta ijin pulang ke Kahyangan. Sanghyang Punggung dan Sanghyang Munged diberi mandat oleh Sanghyang Guru supaya mengambil Pusaka Jamus Layang Kalimusada dari Sanghyang Rancasan.

Selanjutnya Sanghyang Punggung dan Sanghyang Munged merebut Pusaka Jamus dari Sanghyang Rancasan sehingga Sanghyang Rancasan moksa, dibetot oleh keduanya. Selepas moksanya Sanghyang Rancasan, ada suara tanpa rupa mengutuk ke Sanghyang Punggung dan Sanghyang Munged :

"Hai... Punggung dan Munged! Walaupun kalian gagah perkasa, tapi hidup kalian akan sengsara sebab kalian sungguh sangat tercela, berani-beraninya ke saudara tua...!"

Mendengar kutukan tersebut, Sanghyang Punggung dan Sanghyang Munged sangat terkejut, kemudian keduanya turun ke Marcapada bukannya pulang ke Swargamanikloka untuk meyerahkan Pusaka Jamus ke Sanghyang Jagat Nata (Batara Guru).

Setibanya di Marcapada, keduanya berunding agar tidak ketahuan oleh para Dewa, terus merapal mantra kepada Jimat meminta salin rupa. Sekonyong-konyong berubahlah wujud keduanya, Sanghyang Punggung menjadi Togog dan Sanghyang Munged menjadi Semar.

Semar berkata, "Silahkan, siapa yang mau membawa Jimat, asal kuat menahan lapar dan sengsara."

Togog tidak menyanggupi bila harus menahan lapar dan sengsara, biar tidak punya Jimat asal perut kenyang makan, mau mencari majikan orang kaya saja, cuma minta ada yang menemani .Jleg, muncul makhluk yang rupanya sangat mirip dengan Togog, diberi nama Sarahita (Tembilung). Lalu keduanya pergi.

Semar berjalan sendirian sambil membawa Jimat, di perjalanan kemudian turun hujan yang sangat deras dan Semar pun berteduh di sebuah gubug. Setelah hujan reda, dalam benaknya Semar terpikir untuk memiliki kawan seiring.

Selanjutnya gubug itu dimantrai menggunakan Jimat sehingga menjelma seseorang yang sangat serupa dengan Semar cuma lebih kurus dan dinamai Bagong.

Bagong tidak henti-hentinya menggerutu kepada Semar : "Sedang enak-enaknya menjadi gubug, tidak ada kesusahan dan tidak memikirkan apa-apa, eeeeh....dijadikan manusia, tentu jadi banyak masalah dan menyusahkan....".
***

Bersambung!

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon