Kaki Lima & Air Mancur

Air Mancur Islamic Center Indramayu

Seriwayat Sir Thomas Stamford Raffles mengeluarkan aturan bahwa di tepi-tepi jalan harus dibuat trotoar untuk pejalan kaki yang tingginya 31 cm dan lebarnya sekitar 150 cm. Populer dikenal dengan kebijakan “five feet way".

Dari perkataan “five feet” inilah maka para pedagang yang menjalankan usaha di atas trotoar mendapat julukan “kaki lima”. Padahal terjemahan yang benar adalah jalan lima feet/kaki. Lima feet jika diubah ke centimeter menjadi 150,24 cm.

Itulah, lazim salah memaknai, salah memfungsikan. Dibuat untuk pejalan kaki, dijadikan lapak dagang. Salah kaprah merupakan adat orang Indonesia. Bisa karena ketidaktahuan, kelaziman, seru-seruan, atau karena pura-pura bodoh. Terserah memaknainya.

Tak ubahnya kemaren, ramai diperbincangkan soal air mancur taman masjid di Indramayu yang dijadikan arena mandi. Itu penyebabnya apa? Apa karena ketidaktahuan, seru-seruan, baru tahu air mancur, atau apa?

Bapak-bapak, Ibu-ibu. Kadang kala kesiapan warga kota dengan fasilitas modern yang disediakan, itu tidak berbanding lurus dengan rasa memiliki untuk merawat. Parahnya, kasus air mancur yang digunakan untuk mandi-mandian adalah bentuk warga kota yang sedang mempertontonkan ketololannya. Tidak tahu fungsi-fungsi fasilitas yang dibangun pemerintah untuk warganya.
***

Akun resmi terkait informasi, pengumuman dan konten blog.

Comments


EmoticonEmoticon