A Coffee In Berlin (2012)

Posting Komentar
Score :  ⭐ ⭐ ⭐ ⭐

A Coffee in Berlin | 2012 | Drama, Comedy | Pemeran : Tom Schilling, Katharina Schüttler, Justus von Dohnányi, Andreas Schröders | Sutradara : Jan Ole Gerster | Penulis Naskah : Jan Ole Gerster | Negara : Jerman | Durasi : 86 Menit

Sebagai pecinta kopi, agaknya itulah alasan saya menonton film ini. Besutan film dari Jan Ole Gerster ini memang sulit dipahami. Ini kisah tentang pemalas? Atau kisah pemuda yang malang?

Sinema Jerman ini diawali saat Niko Fischer (Tom Schilling) putus dengan pacarnya. Ketika ditawari secangkir kopi, ia menolak dengan sopan sudah ada janji. Kegagalan menikmati secangkir kopi terus berlanjut sampai akhir film.

Nasib apes terus menimpanya. Setelah putus, giliran SIM dia dicabut. Kedapatan mabuk saat mengemudi. Selanjutnya bertemu dengan teman sekolahnya dulu, Julika Hoffmann (Friederike Kempter). Reuni tidak sengaja. Dia pangling. Temannya sekarang sudah langsing. Padahal dulu sering dia ejek.

Matze (Marc Hosemann) tetangga Niko mengajak ke tempat syuting. Menemui bandar narkoba. Dan menonton pertunjukan teater Julika Hoffmann, teman Niko yang dulunya gendut itu.

Niko lalu menemui ayahnya, Walter Fischer (Ulrich Noethen). Mempertanyakan mengapa dirinya tidak bisa lagi mengambil uang di ATM. Ayahnya kecewa setelah mendapati Niko sudah tidak ngampus selama dua tahun.

Cerita terus berlanjut. Silih berganti mengisi. Satu-satunya yang Niko inginkan adalah secangkir kopi. Lucunya, selalu gagal dan gagal. Niko tidak bisa ngopi. Entah mesin rusak. Uang yang rusak. Kopi yang habis.

Demikian juga dengan kehidupan Niko dalam banyak hal. Tidak ada usaha keras yang dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Film ini menyindir saya sebagai penikmat kopi. Ngopi kan ritual untuk nyantai. Dalam banyak hal, saya kok setuju dengan Niko. Hidup itu tidak ada garansi. Masa depan itu tidak pasti. Masa depan itu suatu yang gaib.
***

Related Posts

Posting Komentar